MASOHI, MALUKUEXPRESS.COM – Ratusan pemain jukulele memeriahkan Festival Jukulele Pamahanunusa di Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (21/10/2026). Parade musik tradisional ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga membawa pesan perdamaian, mempererat persaudaraan, serta menjaga warisan budaya Maluku.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Pendopo Soekarno, di bawah patung Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, mendapat dukungan langsung dari Bupati Maluku Tengah,Zulkarnain Awat Amir, S.P., M.A.P.
Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Maluku Tengah tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan musik jukulele, khususnya bagi generasi muda di Bumi Pamahanunusa.
Dalam wawancara langsung bersama MalukuExpress.com, Bupati Maluku Tengah menyampaikan rasa senangnya melihat antusiasme komunitas jukulele yang mengambil bagian dalam parade tersebut.
Menurutnya, Kota Masohi memiliki ikatan sejarah dengan Bung Karno. Patung Soekarno yang berdiri di kawasan tersebut menjadi simbol sejarah yang turut memberikan makna tersendiri bagi pelaksanaan parade jukulele.
“Beta sangat senang dengan kegiatan ini. Di Masohi ada patung Bung Karno yang memiliki jasa besar bagi bangsa ini. Hari ini, anak-anak dan komunitas jukulele berkumpul di bawah patung Soekarno untuk memainkan musik yang menjadi salah satu identitas budaya Maluku,” ungkapnya.
Bupati juga menegaskan bahwa jukulele bukan sekadar alat musik atau sarana hiburan, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Maluku yang perlu terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus.
Ia menilai, perkembangan jukulele kini tidak hanya terpusat di Kota Ambon, tetapi juga semakin tumbuh di Kabupaten Maluku Tengah melalui keterlibatan komunitas, pelajar, dan generasi muda.
Dukung Generasi Muda, Jukulele Disiapkan Jadi Agenda Tahunan
Dukungan pemerintah daerah terhadap komunitas jukulele kembali ditegaskan melalui rencana menjadikan kegiatan parade tersebut sebagai agenda tahunan di Kota Masohi.
Bupati mengungkapkan, dirinya tetap menyempatkan diri hadir di tengah kegiatan meskipun masih mengenakan pakaian dinas dan berada di luar jam kerja. Hal itu menjadi bentuk dukungan terhadap kreativitas anak-anak muda yang terus mengembangkan musik tradisional Maluku.
“Beta ada di sini di luar jam kerja, masih dengan baju kerja, karena beta sangat mendukung kegiatan ini. Anak-anak yang terlibat dalam parade ini luar biasa. Mereka menunjukkan bahwa musik jukulele punya tempat penting dalam kehidupan dan budaya masyarakat kita,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan rencana untuk mengembangkan kegiatan tersebut melalui penyelenggaraan lomba jukulele yang melibatkan pelajar tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), terutama dalam rangka menyongsong Hari Ulang Tahun Kota Masohi.
Menurutnya, sekitar 20 peserta telah mendaftarkan diri untuk ikut memeriahkan rangkaian kegiatan tersebut. Keterlibatan pelajar diharapkan dapat menjadi ruang pembinaan bakat, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya daerah sejak usia dini.
Lebih lanjut, Bupati menyampaikan rencana penyelenggaraan Bupati Jukulele Cup pada tahun mendatang sebagai bagian dari upaya memperluas ruang kreativitas bagi komunitas dan generasi muda.
“Insya Allah, tahun depan akan kita dorong pelaksanaan Bupati Jukulele Cup. Beta ingin melakukan yang terbaik bagi musik jukulele sebagai salah satu ciri khas budaya Maluku, khususnya di Maluku Tengah,” ujarnya dengan Dialek Ambonnya.
Jukulele Pamahanunusa, Musik yang Menyatukan dan Membawa Pesan Damai
Festival Jukulele Pamahanunusa memperlihatkan bagaimana musik tradisional dapat menjadi sarana untuk membangun kebersamaan di tengah masyarakat. Melalui irama dan penampilan bersama, para pemain jukulele menyampaikan pesan bahwa perbedaan dapat dirajut dalam semangat persaudaraan dan perdamaian.
Kehadiran anak-anak dan komunitas dalam parade tersebut juga menunjukkan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal. Dengan dukungan pemerintah daerah, komunitas jukulele diharapkan semakin berkembang, memiliki ruang tampil yang lebih luas, dan mampu melahirkan generasi penerus yang mencintai seni tradisional.
Bagi Maluku Tengah, jukulele Pamahanunusa bukan hanya tentang musik, melainkan juga tentang identitas, kebersamaan, dan kebanggaan terhadap warisan budaya daerah.
Dari Kota Masohi, alunan jukulele kembali bergema membawa pesan perdamaian. Semangat itu menjadi pengingat bahwa budaya akan terus hidup ketika masyarakat, komunitas, generasi muda, dan pemerintah berjalan bersama untuk merawatnya.
Jukulele Pamahanunusa: budaya tetap hidup, persaudaraan terus terjalin, dan damai terus bergema dari Bumi Pamahanunusa.(CM)






