“Galap” Kasus Dugaan Korupsi Rp.12 M Proyek Penanganan Rawan Air Baku di Pulau Marsela yang Dilaporkan ke Polres MBD

MALUKUEXPRESS.COM, Tepa, _ Kasus dugaan korupsi proyek pembangunan air baku di kawasan rawan air di Pulau Masela, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) diduga senilai Rp 12 miliar yang disebut -sebut sudah dilaporkan ke pihak Polres MBD, kini terus menjadi bahan perbincangan dan dipertanyakan sejumlah pihak soal progres penanganan kasus yang diduga menghabiskan uang negara yang tak sedikit jumlahnya itu.

Ketua Aliansi Pemuda Pemudi MBD, Stephanus Termas via telepon selulernya kepada wartawan pekan kemarin, mempertanyakan proses penanganan kasus tersebut sudah sampai sejauh mana (?).

Menurut dia, sebagai warga masyarakat, dalam hal ini sebagai pihak pelapor kasus dugaan korupsi yang diduga melibatkan “Orang Kuat” di kabupaten itu, patut dipertanyakan pihaknya sebab proyek tersebut diduga tidak membawa manfaat berarti bagi masyarakat.

Lelaki yang menyebut diri sebagai Pemimpin Organisasi Aliansi Pemuda Pemudi MBD menyatakan, pihaknya belum lama ini sudah menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) dari pihak penyidik yang ditandatangani Kasat Reskrim Polres MBD, Iptu Boyke Nanilaita kepada pihaknya selaku pelapor.

Diakuinya, pihak penyidik Satreskrim Polres MBD sudah menyikapi kasus pelaporan tersebut, tetapi kasus ini sejak dilaporkan pada tahun 2023, masih terus dibilang sementara dalam proses.

Dikatakan, sebelumnya, pihaknya sudah diberitahukan perihal laporannya yang tertuang dalam SP2HP dari pihak penyidik yang disampaikan ke pihak pelapor (Stepanus Termas).
SP2HP itu, rinci Termas, beromor : SP2HP/29 /lII/RES.3.3/2024, dimana intinya dituliskan bahwa, pada saat melakukan proses penanganan hukum, telah dilakukan permintaan keterangan dari 25 orang saksi sehingga kasus tersebut sementara masih berproses – sambil menunggu hasil perhitungan volume pekerjaan dari tim ahli konstruksi/hidrolika Politeknik Negeri Ambon untuk pihak penyidik menentukan langkah atau status hukum lebih lanjut.

Untuk diketahui, proyek air bersih yang diduga menelan anggaran tak sedikit jumlahnya ini dilaporkan pihak pelapor, dimana dana pekerjaan proyek yang diduga bermasalah tersebut, dananya disebut- sebut bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN (DAK-P 2021), dimana diduga dikerjakan oleh Kontraktor Pelaksana PT. Surya Perkasa Sejati, namun fakta lapangan proyek tersebut, disebut -sebut gagal lantaran tidak ditemukan sumber air bersih, namun anggaran proyek ini diduga sudah digelontorkan pencairannya (Dana) – progres 100 persen.

Sehingga oleh Aliansi setempat melaporkan persoalan dugaan penyimpangan uang negara untuk proyek tersebut ke pihak kepolisian setempat guna ditangani secara hukum.

Stepanus Termas menegaskan, setelah menerima surat SP2HP dari pihak penyidik Polres MBD, seraya berharap kiranya kasus tersebut segera ditindaklanjuti sebagaimana aturan hukum yang berlaku di republik ini- dengan menetapkan para tersangka bila sudah fakta dan dan data keterbuktian-nya, mengingat ada unsur dugaan kuat keterlibatan permainan “Orang Kuat” di lingkup Kabupaten setempat – terkait dugaan mangkraknya proyek dimaksud.

Oleh sebab itu, pihaknya berharap aparat penegak hukum serius menyikapi lanjut soal dugaan keterlibatan “Orang Kuat” di daerah itu, dan bila perlu dipanggil dan diusut atas dugaan keterlibatan yang bersangkutan dalam kasus tersebut.

Dan bila diduga ada konco- konconya turut terlibat dalam kasus ini, maka patut diusut juga sehingga uang negara tak hilang percuma masuk ke kantong pribadi atau kroni yang disebut-sebut dalam kasus dugaan penyimpangan yang dilaporkan organisasi Aliansi Pemuda Pemudi MBD itu.

Kasi Humas Polres MBD, Ipda Wem Pauno yang dikonformasi terkait perihal kasus tersebut – via telepon selulernya, Selasa (26/3/2024) mengatakan Kasat Reskrim sementara urusan dinas ke Jakarta, namun kata Pauno, dirinya telah berkoordinasi dengan Kasat Reskrim setempat perihal kasus tersebut, sehingga dapat disampaikan bahwa, kasus ini memang sementara berproses. Dan juga kasus ini masih dalam tahap penyelidikan mengingat masih menunggu hasil perhitungan volume pekerjaan proyek (Berupa perhitungan material dan bahan kerja lainnya). Dengan begitu, perihal kasus ini masih menunggu pihak Politeknik sebagai saksi ahli untuk melakukan perhitungan.

Dan nanti, kata dia, jika dari pihak Politeknik selesai melakukan tugas itu, selanjutnya baru pihak penyidik bisa mengambil sikap, apakah nanti masih menambah proses penyelidikan lagi untuk kasus pelaporan ini, ataukah langsung menaikan status kasus tersebut – dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan.

Jadi diminta semua pihak menunggu saja sebab kasus ini masih bergulir secara hukum.

Perwira polisi ini mengatakan, jika nanti pihak ahli dari Politeknik sudah menyerahkan hasil perhitungan volume kerja proyek dimaksud, maka selanjutnya pihaknya akan memberikan informasi lebih lanjut soal proses perkembangan kasus tersebut. (Ebeth/****)

Pos terkait