Kei Punya Laut Luas, Bupati Thaher:Kini Saatnya Rumput Laut Naik Kelas

JAKARTA-MALUKUEXPRESS.COM, Bupati Thaher Dorong KKP Percepat Pengembangan 8.862 Hektare Kawasan Rumput Laut di Maluku Tenggara, Potensi rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal kembali didorong untuk dikembangkan secara lebih serius.

Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara meminta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI mempercepat pengembangan kawasan budidaya rumput laut di wilayah Kepulauan Kei.

Permintaan tersebut disampaikan Bupati Maluku Tenggara Drs. H. Muhamad Thaher Hanubun saat melakukan audiensi dengan Direktur Budidaya Rumput Laut KKP RI Ir. Nono Hartanto, M.Aq, di Gedung Mina Bahari IV, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Thaher memaparkan besarnya potensi kelautan Maluku Tenggara yang hingga kini masih belum dimanfaatkan secara maksimal.

Dari sekitar 8.862 hektare kawasan yang berpotensi dikembangkan untuk budidaya rumput laut, baru sekitar 1.380 hektare yang dimanfaatkan, atau hanya sekitar 15,5 persen.

Angka tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang pengembangan yang sangat besar. Terlebih, budidaya rumput laut telah menjadi sumber penghidupan bagi ribuan masyarakat pesisir di Maluku Tenggara.

Pada 2024, produksi rumput laut Maluku Tenggara tercatat mencapai 46.788 ton, dengan jumlah pembudidaya sebanyak 2.398 orang.

Namun, besarnya produksi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan pembudidaya. Harga rumput laut di tingkat petani masih berfluktuasi, berkisar antara Rp13 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.

Bagi Pemkab Maluku Tenggara, persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut produksi.

Akses pasar, kepastian harga, rantai pasok, kualitas bibit, sarana budidaya, hingga minimnya hilirisasi di desa-desa pesisir menjadi mata rantai yang harus dibenahi secara bersamaan.

“Kei punya laut luas, pembudidayanya ada. Yang dibutuhkan adalah penataan kawasan, bibit unggul, rantai dingin dan kepastian pasar. Rumput laut harus jadi komoditas rakyat pesisir yang naik kelas,” tegas Thaher.

Dari Jual Bahan Mentah Menuju Industri Desa

Karena itu, Pemkab Maluku Tenggara mendorong dukungan KKP tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi diarahkan untuk membangun ekosistem rumput laut dari hulu hingga hilir.

Salah satu usulan yang disampaikan adalah pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di lima lokasi, yang terintegrasi dengan bantuan sarana budidaya, penguatan kelompok pembudidaya, peningkatan kualitas produksi, serta pengembangan hilirisasi rumput laut di tingkat desa.

Hilirisasi menjadi bagian penting dalam strategi tersebut.

Masyarakat pesisir diharapkan tidak lagi hanya menjual rumput laut sebagai komoditas mentah, tetapi mulai memiliki ruang untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.

Dengan demikian, rantai ekonomi tidak berhenti pada aktivitas budidaya, tetapi berkembang menjadi pengolahan, perdagangan, jasa, hingga penciptaan lapangan kerja baru di desa-desa pesisir.

KKP Sambut Usulan Maluku Tenggara
Direktur Budidaya Rumput Laut KKP RI Nono Hartanto menyambut baik usulan yang disampaikan Bupati Maluku Tenggara.

KKP menyatakan kesiapan untuk mendorong Maluku Tenggara berkembang sebagai salah satu sentra rumput laut di Maluku.

Bagi Pemkab Maluku Tenggara, dukungan pemerintah pusat menjadi penting untuk memastikan potensi laut Kei tidak berhenti sebagai angka statistik, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat pesisir.

Pertemuan dengan KKP tersebut juga merupakan bagian dari rangkaian langkah Pemkab Maluku Tenggara dalam memperkuat sektor ekonomi berbasis potensi desa.

Sehari sebelumnya, Senin (28/9/2026), Bupati Thaher juga melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) di Jakarta.

Dalam rangkaian pertemuan tersebut, Pemkab Maluku Tenggara mendorong pengembangan empat sektor strategis, yakni pariwisata, perikanan, rumput laut, dan kelapa.

Empat sektor tersebut dipandang memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi desa sekaligus membuka lapangan kerja dan memperkuat sumber pendapatan masyarakat.

Kei Tidak Kekurangan Potensi, yang Dibutuhkan Adalah Ekosistem
Bagi Maluku Tenggara, pengembangan rumput laut bukan sekadar mengejar peningkatan angka produksi.

Yang ingin dibangun adalah ekosistem ekonomi pesisir yang membuat masyarakat memperoleh manfaat lebih besar dari kekayaan laut yang mereka kelola.

8.862 hektare potensi kawasan, ribuan pembudidaya, dan puluhan ribu ton produksi menunjukkan bahwa fondasinya sudah tersedia. Tantangannya kini adalah memperluas pemanfaatan kawasan, memperkuat produktivitas, memastikan pasar, dan membawa rumput laut Kei naik kelas melalui hilirisasi.

Dengan dukungan pemerintah pusat dan sinergi lintas sektor, Pemkab Maluku Tenggara berharap laut Kei tidak hanya menghasilkan rumput laut, tetapi juga menghasilkan nilai tambah, lapangan kerja, dan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir.
(CM)

Pos terkait