Tual, malukuexpress.com -Sebuah video pernyataan Kapolri viral dan menyedot perhatian publik, Senin (2/2/2026). Dalam tayangan itu, Kapolri mengapresiasi anggota Polri yang tetap humanis saat mengamankan unjuk rasa. Pesannya jelas: polisi harus tenang, profesional, dan tidak terpancing emosi meski dihujani makian.
Satu rekaman yang disorot memperlihatkan seorang anggota tetap berdiri tegak, tak membalas caci-maki massa.
“Walaupun dimaki-maki, dia tetap tenang dan tidak terpancing. Itulah sosok yang kita harapkan,” tegas Kapolri.
Bahkan, perhatian khusus diberikan kepada personel di Tual yang terkena panah saat bertugas, namun tetap memimpin pengamanan. Kapolri meminta para Kapolda melaporkan anggota-anggota berprestasi untuk diberi penghargaan, pendidikan, hingga promosi jabatan. Sebuah pesan kuat tentang moral, dedikasi, dan profesionalisme di tubuh Polri.
Namun di tengah gelombang apresiasi itu, satu pertanyaan menggema dari Maluku:
Bagaimana dengan Brimob Mhatias Vavuu?
Nama itu kembali mencuat. Ia bukan figur dalam video viral. Ia bukan potongan adegan yang beredar di media sosial. Tapi pada 7 Oktober 2022, di Elat Kei Besar, Mhatias Vavuu berdiri di garis depan saat konflik memanas. Ia terkena panah ketika berupaya meredam kerusuhan agar tidak meluas. Darahnya mengalir di tanah konflik, bukan di layar ponsel.
Keluarga melalui Petrus Livurngorvaan menyuarakan harapan yang sederhana namun tajam: perhatian yang sama.
“Kami berharap Kapolri juga memberi perhatian kepada Mhatias seperti anggota yang terkena panah di Tual. Ia juga bertugas demi menjaga keamanan masyarakat,” ungkap pihak keluarga.
Ini bukan sekadar soal viral atau tidak viral. Ini soal keadilan perhatian. Soal pengakuan terhadap pengabdian yang sunyi. Soal apakah setiap luka dalam tugas negara memiliki nilai yang sama, atau hanya yang terekam kamera yang mendapat cahaya.
Peristiwa di Elat Kei Besar adalah bukti bahwa tugas aparat di wilayah konflik bukan sekadar berdiri menghadapi makian. Di sana ada ancaman nyata. Ada senjata tradisional yang melesat. Ada risiko kehilangan nyawa. Humanisme diuji bukan hanya oleh emosi, tapi oleh bahaya yang benar-benar menembus tubuh.
Apresiasi Kapolri terhadap anggota berdedikasi adalah langkah positif. Namun publik Maluku kini menanti konsistensi: apakah penghargaan itu menjangkau semua yang berkorban, atau hanya mereka yang kebetulan viral?
Di balik seragam dan tameng, ada keluarga yang menunggu dengan doa. Ada anak, istri, orang tua yang menahan cemas. Dan ada pengabdian yang tak selalu terekam kamera, tapi nyata dalam luka.
Jika profesionalisme dihargai, maka keberanian juga layak diakui. Jika ketenangan dipuji, maka darah yang tertumpah dalam tugas tak boleh dilupakan.
Kini sorotan tertuju ke pusat komando: apakah nama Mhatias Vavuu akan dipanggil – atau kembali tenggelam dalam sunyi?
Penulis:Kabiro (Petu. L )






