
Malukuexpress.com, Masohi, Maluku Tengah, 2 November 2025 — Perayaan Hari Ulang Tahun ke-68 Kota Masohi tahun ini bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum penting untuk menegaskan posisi Masohi sebagai pusat kebudayaan dan sejarah di Maluku. Kegiatan yang berlangsung sejak 30 Oktober hingga puncak HUT di tanggal 3 November ini diwarnai berbagai festival budaya, kolaborasi seni, dan pameran sejarah yang menggambarkan kekayaan identitas Maluku Tengah.
Wawancara khusus terpisah Malukuexpress
Dengan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Maluku, Dody Wiranto,S.S.,M.Hum,.Saat Selesai membuka acara Pameran Budaya dan UMKM.

Dody menyampaikan bahwa dukungan penuh diberikan untuk kegiatan ini, terutama dalam melestarikan dan memperkenalkan potensi budaya yang dimiliki Kabupaten Maluku Tengah. Sebenarnya Semua Kabupaten kita mendukung,tetapi di Masohi ini ada keunikan yang perlu di Lestarikan dan di kembangkan.
“Kami sangat mendukung potensi yang ada di Maluku Tengah, khususnya Kota Masohi. Ini bukan hanya tentang perayaan, tapi tentang menghidupkan kembali sejarah dan budaya yang pernah berjaya,” ujarnya.

Menurutnya, dari delapan kawasan di Maluku, tujuh di antaranya memiliki cagar budaya yang berada di wilayah Maluku Tengah — sebuah keunikan tersendiri yang menjadikan daerah ini kaya akan nilai sejarah dan warisan leluhur.
Lebih jauh ia menambahkan, keterlibatan masyarakat dan kolaborasi lintas instansi diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya lokal. Salah satu fokus tahun ini adalah mengangkat kembali sejarah Kota Masohi, yang ternyata memiliki nilai historis nasional karena didirikan langsung oleh Presiden Soekarno.
“Masohi ini kota yang istimewa. Presiden Soekarno sendiri yang meresmikannya. Seperti halnya Kota Tua di Jakarta atau Kota Lama di Semarang, kami ingin Masohi menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya pertama di Indonesia bagian timur,” tegasnya.
Tak hanya itu, Kota Masohi sebagai bentuk penghormatan dan promosi budaya daerah. Dody menyampaikan, nama “Masohi” sendiri, yang berarti “gotong royong”, adalah pesan abadi dari Bung Karno kepada kita semua-bahwa kemajuan tidak akan pernah lahir dari individualisme, melainkan dari persatuan, kebersamaan, dan semangat saling membantu di antara sesama warga bangsa.
“Kita harus mengingat sejarah, menjaga tradisi, bahasa, kesenian, dan nilai-nilai luhur Maluku Tengah yang telah menjadi perekat kehidupan bersama,” manifestasi semangat “Masohi Bersaudara” yang diwariskan Bung Karno sejak peresmian Kota Masohi tahun 1957
lanjutnya.
Dukungan juga datang dari pemerintah pusat yang berkomitmen memberikan bantuan dan fasilitasi kebudayaan agar Maluku Tengah bisa menjadi contoh pengembangan budaya nasional.
“Pemerintah daerah sangat mendukung pelestarian budaya. Dengan dukungan pemerintah pusat, Maluku Tengah berpeluang menjadi nomor satu dalam pengelolaan warisan budaya. Kami berharap ke depan akan ada SK resmi dari Bupati sebagai bentuk pengakuan dan perlindungan terhadap kegiatan kebudayaan ini,” tutupnya.
Dengan semangat “Masohi Bangkit, Budaya Hidup!”, perayaan HUT ke-68 Kota Masohi tahun ini menjadi langkah nyata menuju penetapan Masohi sebagai Kota Budaya dan Wisata Sejarah Nasional. (CM)






