Komunitas Penjaga Laut Ambon! Peringatkan: Laut Maluku Kini di Ambang Krisis Iklim dan Darurat Sampah

MALUKUEXPRESS.COM, Ambon, 10 November 2025, Kegiatan sosialisasi bertajuk “Sampah Bukan Teman Laut” yang digelar di Kelurahan Nusaniwe, Kota Ambon, berlangsung hangat dan penuh semangat. Acara yang menghadirkan komunitas Penjaga Laut Indonesia Regional Maluku ini membuka mata banyak pihak akan kondisi laut Maluku yang kini disebut memasuki fase “krisis iklim” dan darurat sampah laut.

Pemateri utama, Suci Muhairan Eddy, aktivis muda dari komunitas Penjaga Laut, mengungkapkan bahwa lebih dari 92% wilayah Maluku adalah lautan, namun justru kini laut menjadi korban utama dari perilaku manusia yang abai terhadap lingkungan.

“Sekarang ini bukan lagi perubahan iklim, tapi sudah krisis iklim. Laut Maluku yang indah mulai kotor dan rusak. Sampah plastik menumpuk, bahkan terumbu karang di Teluk Ambon sudah banyak mati,” tegas Suci di hadapan mahasiswa dan warga.

Suci juga menyoroti kebiasaan masyarakat pesisir yang masih menganggap laut sebagai “tempat sampah alami”.

Suci menambahkan, Penjaga Laut Indonesia, yang berdiri sejak 2021 di bawah naungan Yayasan EcoNusa, terus berupaya mendorong aksi lingkungan berkelanjutan di berbagai daerah, termasuk Morella, Wayame, hingga Banda Neira.

“Kami ingin Ambon tetap jadi Ambon Manise — bukan Ambon yang penuh sampah,” tutupnya.

“Banyak orang pikir kalau buang sampah ke laut, sampahnya hilang. Padahal, dia cuma pindah tempat — dari pantai ke tengah laut, lalu kembali lagi ke pesisir,” ujarnya.

Kegiatan ini dihadiri pula oleh dosen pendamping lapangan UIN Ambon,
M.Saleh Suat., SH.,MH
yang membawa mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke wilayah Nusaniwe sebagai bentuk aksi nyata menjaga lingkungan. Ia menegaskan bahwa masalah sampah di Ambon bukan hanya di hulu, tapi juga di hilir, terutama di kawasan pesisir.

“Setiap kali hujan deras, sampah dari got dan sungai bermuara ke pantai. Akhirnya laut yang jadi korban. Ini sudah jadi problem klasik warga Ambon,” ungkap sang dosen.

Selain edukasi, kegiatan ini juga diakhiri dengan aksi bersih pantai dan pemasangan papan larangan buang sampah di pesisir Airsalobar — sebagai bentuk ajakan nyata kepada masyarakat untuk berhenti memperlakukan laut sebagai tempat pembuangan akhir.

Sementara itu, Pj.Lurah Nusaniwe berharap agar kita selaku pemerintah kota Ambon Akan bekerjasama Bersosialisasi dengan masyarakat, RT/RW setempat agar memperkuat regulasi dan penegakan hukum terhadap pembuang sampah sembarangan.kita akan Menghimbau agar tiap tiap rumah itu harus ada tong sampah,supaya bisa pilah sampah yang bisa di olah kembali daur ulang,dan yg bisa di bakar pada tempat yang sudah tersedia,agar tidak ada sampah yang berhamburan di jalan jalan.
“Kalau perlu pasang CCTV di setiap tempat agar bisa terkontrol. Biar ada efek jera,” usul Lurah Nusaniwe Ridwan Latuconsina.

Kegiatan yang digagas bersama mahasiswa UIN Ambon ini diharapkan menjadi titik awal perubahan kesadaran masyarakat untuk menjaga laut sebagai warisan dan masa depan Maluku.

Fakta Cepat: Laut Maluku di Ambang Bahaya

92,4% wilayah Maluku adalah lautan

Sampah plastik mendominasi pencemaran di Teluk Ambon

Banyak terumbu karang kini rusak akibat limbah dan aktivitas manusia

Ikan-ikan di pasar Mardika terindikasi mikroplastik

Penjaga Laut dorong gaya hidup berkelanjutan dan aksi muda jaga iklim (CM)

Pos terkait