MALUKUEXPRESS.COM, Jazirah Leihitu boleh dikatakan sebagai wilayah yang langganan konflik, bahkan konflik yang terjadi seakan akan memiliki polarisasi pemicu dan waktu. Biasanya konflik dipicu dari perselisihan oknum-oknum, lalu antar kampung atau negeri dilibatkan. Pemicu konflik terjadi biasa dengan pola kalau tidak dari miras, kenakalan remaja atau tapal batas, ” kata Sekjen DPP Hena Hetu Alterik Sabandar dalam rilisnya. Kamis 3 April 2025.
Berangkat dari konflik konflik yang terjadi antara lain : di daerah Hitu-Wakal, Mamala – Morela, Seith Negeri lima, Ureng – Asilulu, Tial – Tulehu dan juga konflik antar internal negeri yang melibatkan kelompok kelompok.
Polarisasi konfik berikutnya soal waktu, konflik yang terjadi di jazirah biasa terjadi pada hari besar keagamaan atau terjadi juga menjelang triwulan terakhir tahun berjalan antara bulan Oktober – Desember.
Dari sekian polarisasi konflik yang terjadi ada juga dugaan polarisasi penegakan hukum yang kabur, belajar dari semua konflik yang terjadi sulit sekali kita melihat penegakan hukum yang benar benar adil dan transparan. Setiap konflik yang terjadi sangat sulit sekali ditemukan pelaku yang berakhir pada penegakkan hukum yang memiliki efek jera karena sejatinya konflik di jazirah adalah perbuatan oknum, bukan konflik antar negeri atau golongan.
Mungkin masih segar di ingatan kita konflik antar Hitu dan Wakal, apakah sudah ditemukan pelaku ?lalu apakah sudah ada penegakan hukum yang memiliki efek jera?, Konflik ureng-asilulu juga apakah sudah ditemukan pelaku, konflik liang, matahari nae dan matahari maso, juga apakah sudah ditemukan pelaku?. Kasus pembunuhan terakhir tahun lalu di Talaga kodok apakah juga sudah ditemukan pelaku?
Polarisasi dan lamban penegakan hukum serta minimnya proteksi dini potensi konflik mungkin bisa saja menjadikan wilayah jazirah ini langganan konflik.
Sebenarnya letak masalahnya Dimana?, kami juga binggung dan bertanya tanya, apa benar konflik itu by desain, di desain untuk apa?, kepentingan siapa?,..
Andaikan saja, penegakkan hukum itu berjalan semestinya, hemat kami orang pasti akan takut berbuat Tindakan yang berujung pidana, kami yakin orang akan takut atau enggan melakukan tindakkan yang berujung pidana.
Untuk itu, Hena Hetu sangat mengharapkan upaya yang nyata dalam hal penegakkan hukum, juga upayakan mitigasi konflik sangat diharapkan oleh pihak-pihak terkait, terutama Pemerintah Maluku Tengah terhadap persoalan-persoalan yang sering menjadi pemicu konflik hingga terciptanya kedamaian dan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat. (*






