“Sampah Jadi Uang atau Jadi Penyakit? Apries Gaspersz Angkat Suara, Tapi Warga Masih Santai”

Malukuexpress.com, Jumat 17 April 2026, Di tengah tumpukan sampah yang masih menghiasi sudut kota, peringatan keras datang dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP), Apries Gaspersz. Pesannya jelas: pilah sampah dari rumah, atau bersiap menghadapi dampaknya.

Namun pertanyaannya sekarang—apakah masyarakat benar-benar mendengar?

Aturan Sudah Jelas, Tapi Masih Diabaikan

DLHP sudah membuat sistem. Bukan sekadar imbauan. Senin–Rabu: sampah basah, Kamis–Sabtu: sampah kering, Minggu: petugas libur

Skema ini dirancang agar pengelolaan sampah lebih tertib dan efektif. Tapi di lapangan? Sampah masih tercampur, dibuang sembarangan, dan seolah tak ada aturan.

“Mulai dari Rumah!” Kata Apris

Dalam berbagai kesempatan, Apries Gaspersz menegaskan bahwa kunci utama bukan di pemerintah—tapi di rumah tangga.

“Kalau dari rumah sudah tidak dipilah, maka sistem sebaik apa pun akan gagal.”

Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Karena faktanya, masalah utama Ambon bukan kurang armada, bukan kurang program—tapi kurang kesadaran.

Realita Pahit: Kesadaran Masih Rendah

Di balik program dan gerakan:, Sampah masih dibuang ke selokan, Pesisir masih jadi tempat pembuangan, TPS sering overload karena sampah tidak terpilah dan ini terjadi setiap hari.

Bukan karena tidak tahu—tapi karena tidak peduli. Dua Pilihan, Tidak Ada yang Tengah, Hari ini, warga Ambon dihadapkan pada pilihan yang sangat sederhana:

Kelola sampah → jadi uang atau Buang sembarangan → jadi penyakit, Tidak ada opsi ketiga. Sampah plastik, kertas, dan barang bekas punya nilai ekonomi jika dipilah. Bisa masuk bank sampah, bisa jadi pemasukan tambahan.

Tapi kalau dibuang sembarangan? Jadi sumber penyakit, Jadi penyebab banjir, Jadi ancaman lingkungan dan ujungnya: kita sendiri yang rugi.

Ironi Kota Pesisir, Ambon dikenal dengan keindahan lautnya. Tapi ironinya, laut juga mulai “mewarisi” kebiasaan buruk dari daratan.

Sampah yang dibuang sembarangan berakhir di pesisir, dan dari situ—kerusakan dimulai.

Saatnya Berhenti Salahkan Pemerintah, Kritik boleh. Tapi harus jujur. Masalah sampah di Ambon bukan hanya soal pemerintah. Ini soal perilaku masyarakat.

Apries Gaspersz sudah bicara. Sistem sudah dibuat. Tinggal satu hal yang belum berubah: kebiasaan. Ini Peringatan, Bukan Sekadar Imbauan Kalau kesadaran tidak naik: Kota akan makin kotor  Penyakit meningkat, Lingkungan rusak dan semua itu bukan terjadi tiba-tiba—tapi dari hal kecil yang diabaikan setiap hari.

Ambon di Persimpangan, Sekarang pilihannya ada di tangan masyarakat: Tetap buang sampah sembarangan—dan hidup dengan dampaknya. Atau mulai berubah—dan jadikan sampah sebagai peluang. Seperti kata Apries Gaspersz: semua dimulai dari rumah. Jadi pertanyaannya sederhana tapi tajam: mau terus hidup dengan sampah—atau mulai menghasilkan dari sampah?. (CM)

Pos terkait