MALUKUEXPRESS.COM, Upaya mempercepat penurunan stunting di Kota Ambon kembali mendapat perhatian serius. Persit Kartika Chandra Kirana PD XV/ Pattimura menggelar ceramah kesehatan yang mengangkat tema penting tentang pemahaman kurva tumbuh kembang anak dalam Buku KIA serta pemberian makanan bayi dan anak yang benar.
Kegiatan yang berlangsung di Ambon ini diikuti ratusan peserta secara langsung maupun daring. Tercatat 504 peserta hadir secara offline, sementara 460 peserta mengikuti kegiatan secara online.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Ambon, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, jajaran Persit Kartika Chandra Kirana PD XV/Pattimura, kader Posyandu, tenaga gizi, penyuluh lapangan KB, serta masyarakat,Rabu 23 Sep 2026.
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting tidak semata-mata berkaitan dengan mengejar angka prevalensi, tetapi merupakan bagian dari upaya memastikan setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.
“Pencegahan harus dilakukan secara dini. Perhatian terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi anak harus dimulai sejak masa kehamilan, dilanjutkan pada masa bayi, dan terus diperkuat pada periode pertumbuhan berikutnya,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Buku tersebut dinilai tidak boleh hanya menjadi dokumen yang dibawa ketika datang ke Posyandu atau fasilitas kesehatan, tetapi harus dipahami sebagai instrumen penting untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pemahaman terhadap kurva pertumbuhan, menurutnya, menjadi penting bagi orang tua dan kader agar perubahan kondisi anak dapat diketahui sedini mungkin dan segera ditindaklanjuti.
271 Kasus Stunting di Ambon pada 2026
Dalam kegiatan tersebut turut disampaikan perkembangan angka stunting di Kota Ambon.
Berdasarkan data yang dipaparkan, pada 2025 tercatat 279 kasus stunting atau sekitar 1,60 persen dari 17.457 balita yang diukur.
Memasuki 2026, jumlah tersebut disebut kembali menurun menjadi 271 kasus atau sekitar 1,58 persen, yang terdiri dari 80 balita sangat pendek dan 191 balita pendek.
Pemerintah Kota Ambon disebut menargetkan penurunan angka stunting sebesar 3 persen setiap tahun.
Capaian tersebut ditekankan sebagai hasil kerja bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, organisasi perempuan, keluarga dan berbagai elemen masyarakat.
“Makanan Bergizi Tidak Harus Mahal”
Selain persoalan pemantauan pertumbuhan, pemberian makanan bayi dan anak menjadi perhatian utama.
Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta menekankan bahwa persoalan gizi tidak selalu disebabkan oleh keterbatasan ketersediaan makanan. Pengetahuan keluarga, pola asuh, pemilihan bahan pangan, cara pengolahan, frekuensi pemberian makanan, hingga pemahaman kebutuhan gizi berdasarkan usia anak juga memiliki peran penting.
Pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut adalah bahwa makanan bergizi tidak selalu harus mahal.
Pangan lokal yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan anak dengan tetap memperhatikan keberagaman, kebersihan, keamanan, kualitas dan kecukupan gizi.
Kader Posyandu Jadi Garda Terdepan
Persit Kartika Chandra Kirana PD XV/ Pattimura juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas kader Posyandu.
Kader tidak cukup hanya melakukan penimbangan dan pencatatan. Mereka diharapkan mampu membaca kecenderungan pertumbuhan anak, mengenali perubahan yang perlu mendapat perhatian, serta menyampaikan hasil pemantauan kepada orang tua secara tepat.
Ketika ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, kader diharapkan dapat mengarahkan keluarga untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Dengan demikian, Posyandu diharapkan tidak sekadar menjadi tempat menimbang dan mengukur anak, tetapi berkembang menjadi pusat edukasi dan pendampingan keluarga.
Ceramah kesehatan dalam kegiatan ini menghadirkan DR. dr. Tan Shot Yen, M.Hum. sebagai narasumber untuk memberikan edukasi terkait tumbuh kembang anak dan praktik pemberian makanan bayi dan anak.
Persit Dorong Kolaborasi Berkelanjutan
Ketua Seksi Sosial Persit Kartika Chandra Kirana PD XV/ Pattimura dalam prakata kegiatan juga mengajak seluruh kader untuk meningkatkan ketelitian dalam pemantauan tumbuh kembang anak.
Menurutnya, keberhasilan pencegahan masalah gizi membutuhkan tiga pilar utama, yakni ketepatan waktu pemberian makanan sesuai usia, kecukupan serta keberagaman gizi, dan praktik pemberian makanan yang tepat serta responsif.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, pemberian plakat kepada narasumber, pembacaan doa dan foto bersama.
Pesan besar yang dibawa dari kegiatan ini jelas: perang melawan stunting dimulai dari keluarga, diperkuat Posyandu, dan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Di tengah target penurunan stunting Kota Ambon, penguatan pengetahuan kader dan orang tua menjadi salah satu kunci agar setiap anak dapat tumbuh sehat, berkembang optimal dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Ambon bergerak. Posyandu diperkuat. Keluarga diedukasi. Anak sehat menjadi investasi masa depan Maluku dan Indonesia.(CM)






