MALUKUEXPRESS.COM, Ambon, Kepala Desa Poka, Marthina Kelbulan kepada media ini diruang kerjanya. Jumat (28/9) menjelaskan bahwa program Pengembangan SMART Fisheries Village yang digagas Tahun 2023 telah berjalan baik dan ini merupakan hasil kerja sama dengan BP3 dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta didukung oleh Pemerintah Kota.
Lanjutnya, Desa Poka, Kota Ambon, Provinsi Maluku, terpilih sebagai salah satu lokasi pengembangan program SMART Fisheries Village (SFV) pada tahun 2023. Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa melalui budidaya lobster tiga fase dan ikan kuwe dengan sistem keramba jaring apung (KJA). BUMDes Gemilang Poka ditunjuk untuk mengelola proyek ini.
Dalam wawancara, Kelbulan menyatakan bahwa pengembangan SFV akan berlangsung selama tiga tahun dengan fokus pada pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat. “Pengembangan SFV ini sudah dilakukan bersama dengan pemerintah kota dan berbagai stakeholder, termasuk dalam bidang pendidikan dan infrastruktur.
Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu prioritas saat ini adalah penataan infrastruktur, termasuk pembangunan dermaga dan pemasangan jaring penahan sampah di sekitar wilayah pesisir untuk mendukung ekosistem laut yang lebih bersih.
Terkait budidaya lobster dan ikan kuwe, Marthina menjelaskan bahwa meskipun cuaca menjadi tantangan bagi budidaya lobster, hasil dari budidaya ikan kuwe sudah dirasakan oleh kelompok-kelompok perikanan di desa. “Kelompok budidaya ikan sudah mulai mendapatkan hasil dari panen ikan kuwe, sementara BUMDes bekerja sama dengan BP3 dalam mengelola bisnis budidaya tersebut,” kata Marthina.
Salah satu tantangan yang dihadapi dalam program ini adalah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dan memanfaatkan peluang yang ada. Marthina menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan wilayah pesisir dan ikut serta dalam program SFV. “Sampah rumah tangga masih menjadi masalah, tetapi kami terus melakukan sosialisasi agar masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga lingkungan,” jelasnya.
Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan peluang ekonomi yang ditawarkan oleh program SFV. Meskipun dampak ekonomi belum sepenuhnya dirasakan, Marthina optimis bahwa masyarakat akan lebih mandiri dan sejahtera ke depannya. “Kami berharap bahwa SFV bisa menjadi proyek percontohan bagi desa-desa lain di Kota Ambon, bahkan di seluruh Maluku,” imbuhnya.
Dalam penutup wawancara, Marthina menyampaikan bahwa progres dari pengembangan SFV sudah terlihat, terutama dalam hal peningkatan infrastruktur dan kesadaran masyarakat.
Harapannya, program ini tidak hanya membawa dampak positif bagi perekonomian desa tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat melalui program-program pemberdayaan yang berkelanjutan. (Kintan)






