BERMODAL PANGGILAN JIWA DAN UANG PRIBADI, RELAWAN TULEHU BANGUN BENTENG PERTAMA HADAPI BENCANA

MALUKUEXPRESS.COM | TULEHU – Ketika banyak orang mulai bergerak setelah bencana terjadi, sekelompok anak muda di Negeri Tulehu justru memilih bersiap sebelum bencana datang. Tanpa gaji, tanpa anggaran tetap, bahkan menggunakan biaya pribadi, mereka membangun gerakan pengurangan risiko bencana demi melindungi masyarakat dari ancaman gempa bumi dan tsunami yang setiap saat mengintai Maluku.

Gerakan itu bernama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Tulehu.28 Juli 2026
Ketua FPRB Tulehu, Muhammad Fauzi Fesanlauw, mengatakan organisasi tersebut lahir bukan karena proyek, melainkan karena panggilan hati setelah mereka menjadi relawan saat gempa besar yang mengguncang Maluku pada tahun 2019.

“Saat gempa 2019 kami turun langsung membantu masyarakat. Dari pengalaman itu kami sadar bahwa bencana tidak cukup hanya ditangani setelah terjadi, tetapi masyarakat harus disiapkan sejak sekarang,” ujar Fauzi.

Pengalaman di lapangan itulah yang kemudian menjadi titik awal lahirnya gerakan kebencanaan di Negeri Tulehu. Melalui dukungan Pemerintah Negeri Tulehu, FPRB resmi dibentuk dan mendapatkan legalitas sebagai bagian dari upaya membangun Desa Tangguh Bencana (Destana).

Sejak berdiri, para relawan tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga aktif melakukan edukasi mitigasi, sosialisasi kebencanaan, hingga simulasi gempa dan tsunami yang melibatkan masyarakat. Simulasi yang digelar pada 2024 tersebut menjadi langkah nyata membangun budaya siaga bencana di tingkat desa.

“Bencana memang tidak bisa dihindari, tetapi risikonya bisa dikurangi. Karena itu masyarakat harus mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi,” katanya.

Di tengah keterbatasan, FPRB Tulehu terus bergerak. Sebagian besar kegiatan dilakukan secara swadaya. Para anggota bahkan rela menggunakan dana pribadi agar edukasi kebencanaan tetap berjalan.

“Kami tidak pernah bergantung pada anggaran. Banyak kegiatan yang kami jalankan dengan biaya sendiri karena ini sudah menjadi panggilan jiwa,” ungkap Fauzi.

Perjuangan mereka kemudian mendapat perhatian lebih luas. Pada 2025, FPRB Tulehu lolos seleksi administrasi dan bergabung dalam program penguatan kapasitas bersama Yayasan Pelangi Maluku. Bersama sejumlah organisasi lainnya, mereka mengikuti pendampingan, pelatihan, serta monitoring untuk memperkuat kapasitas kelembagaan menghadapi ancaman bencana.

Selama hampir dua tahun terakhir, Yayasan Pelangi Maluku secara konsisten mendampingi FPRB Tulehu melalui berbagai pelatihan dan kegiatan sosialisasi.

“Kami sangat berterima kasih kepada Yayasan Pelangi Maluku, khususnya Ibu Rosa Pentury atau yang akrab kami panggil Mama Ocha. Pendampingan yang diberikan telah membantu kami meningkatkan kapasitas dan semangat untuk terus melayani masyarakat,” tutur Fauzi.

Dedikasi tersebut juga mengantarkan Fauzi mewakili Tulehu dalam peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional di Mojokerto serta bergabung dalam jaringan LokaNusa, wadah kolaborasi komunitas kebencanaan dari berbagai daerah di Indonesia.

Fauzi berharap pemerintah, BNPB, BPBD, maupun lembaga-lembaga kemanusiaan terus membuka ruang kolaborasi bagi komunitas lokal yang selama ini menjadi garda terdepan dalam membangun ketangguhan masyarakat.

“Ketangguhan bencana tidak lahir di ruang rapat. Ketangguhan dibangun dari desa, dari masyarakat, dan dari orang-orang yang mau bergerak sebelum bencana datang,” tegasnya.

Di Negeri Tulehu, para relawan itu telah membuktikan satu hal penting: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti menyelamatkan sesama. Karena bagi mereka, keselamatan masyarakat selalu lebih berharga daripada apa pun.(CM)

Pos terkait