MALUKUEXPRESS.COM
AMBON — Taman kota semestinya menjadi ruang publik yang nyaman untuk bersantai, berkumpul, hingga sekadar menikmati suasana kota. Namun, kenyamanan itu kerap terusik oleh perilaku sebagian pengunjung yang masih meninggalkan sampah begitu saja setelah makan dan minum.10 Sep 2026.
Pemandangan sampah berserakan usai aktivitas nongkrong menjadi persoalan yang seolah tak pernah selesai. Padahal, tempat sampah telah disediakan dan sering kali hanya berjarak beberapa langkah dari lokasi warga duduk menikmati waktu luang.
Nongkrong boleh. Pacaran boleh. Makan dan minum juga boleh. Tapi membuang sampah pada tempatnya seharusnya bukan perkara sulit.
“Sudah disediakan tempat sampah, tinggal melangkah beberapa meter lalu buang. Apa susahnya?” demikian keluhan yang kerap muncul dari mereka yang peduli terhadap kebersihan ruang publik.
Ironisnya, persoalan ini bukan semata soal kurangnya fasilitas. Sosialisasi mengenai kebersihan juga telah berulang kali dilakukan. Namun, kebiasaan sebagian masyarakat masih belum berubah.
Petugas kebersihan taman bahkan mengakui bahwa imbauan mengenai kebersihan seakan berulang pada persoalan yang sama.
“Sosialisasi setiap hari, tapi masih begitu-begitu saja,” menjadi gambaran keresahan di lapangan.
Kondisi tersebut akhirnya menimbulkan pertanyaan besar: apakah masalahnya benar-benar tidak tersedia tempat sampah, atau memang kesadaran masyarakat yang belum sepenuhnya tumbuh?
Ruang publik adalah milik bersama. Ketika seseorang menikmati fasilitas kota, tanggung jawab untuk menjaganya juga menjadi bagian dari etika sebagai warga.
Jangan sampai pola pikirnya hanya “sudah bayar makan, urusan sampah biar petugas.” Petugas kebersihan bukan berarti harus memungut setiap sampah yang sengaja ditinggalkan pengunjung.
Satu bungkus makanan, satu gelas plastik, satu botol minuman mungkin terlihat sepele. Tetapi jika dilakukan puluhan bahkan ratusan orang setiap hari, tumpukan kecil itu berubah menjadi persoalan besar.
Kini saatnya kebersihan tidak hanya menjadi slogan atau bahan sosialisasi.
Kalau tempat sampah ada di depan mata, kenapa sampah masih harus jatuh ke tanah?
Nongkronglah dengan nyaman. Nikmati taman. Jaga ruang publik. Setelah makan dan minum, bawa sampahmu ke tempatnya. Sesederhana itu.
Karena kota yang bersih bukan hanya hasil kerja petugas kebersihan, tetapi juga cerminan kesadaran orang-orang yang tinggal dan beraktivitas di dalamnya.
JANGAN CUMA BISA MENIKMATI TAMAN — BELAJARLAH IKUT MENJAGANYA.(CM)






