BUPATI MALUKU TENGAH RESMIKAN LOMBA JUKULELE HUT KE-69 KOTA MASOHI, TEKANKAN BUDAYA LELUHUR JADI IDENTITAS YANG WAJIB DIJAGA

MALUKUEXPRESS.COM, MASOHI — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Kota Masohi tahun 2026 tidak hanya diwarnai kemeriahan perayaan, tetapi juga semangat menjaga warisan budaya leluhur. Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir.
secara resmi membuka Lomba Jukulele tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kabupaten Maluku Tengah, Jumat 23/10/2026 sebagai upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya daerah.

Pembukaan lomba berlangsung meriah, ditandai dengan aksi simbolis Bupati
Zulkarnain Awat Amir.
bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), serta perwakilan komunitas Jukulele Leader (MJL) Provinsi Maluku yang membunyikan alat musik jukulele secara serempak. Momen tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan musik jukulele sebagai bagian dari identitas masyarakat Maluku.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Bupati Zulkarnain Awat Amir.
menegaskan bahwa jukulele bukan sekadar alat musik untuk hiburan, melainkan bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Jukulele ini bagian dari identitas masyarakat Maluku. Karena merupakan identitas masyarakat Maluku, maka harus kita jaga betul. Ini warisan leluhur kita. Kita lestarikan dan kita kembangkan,” tegas Bupati.

Zulkarnain Awat Amir.
juga mengingatkan agar pengembangan musik jukulele tetap berorientasi pada pelestarian nilai-nilai budaya dan tidak kehilangan makna sebagai warisan yang dibanggakan masyarakat Maluku.

Menurutnya, seni dan budaya harus diberikan ruang seluas-luasnya untuk berkembang dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda. Ia bahkan mengenang masa kecil ketika jukulele menjadi bagian dari kehidupan anak-anak di kawasan pesisir, sebagai gambaran kuatnya kedekatan musik tersebut dengan kehidupan masyarakat Maluku.

Jukulele Bukan Sekadar Lomba, tetapi Ruang Pembentukan Karakter
Bupati menilai perlombaan ini memiliki arti penting dalam membentuk karakter peserta didik. Selain menjadi wadah menampilkan bakat dan kreativitas, kegiatan tersebut juga melatih kedisiplinan, membangun rasa percaya diri, mengajarkan sportivitas, serta menumbuhkan kemampuan bekerja sama.
Ia mengingatkan seluruh peserta agar tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya tujuan.

Keberanian untuk tampil, kemauan untuk terus belajar, dan semangat mengembangkan kemampuan merupakan bagian penting dari keberhasilan yang harus ditanamkan sejak dini.
Bupati berharap momentum HUT ke-69 Kota Masohi menjadi penguat persatuan dan kecintaan masyarakat terhadap daerah, sekaligus mendorong Maluku Tengah tumbuh sebagai daerah yang semakin maju, kreatif, berbudaya, dan berdaya saing.

MJL Dorong Lomba Jukulele Menjadi Agenda Tahunan Pemerintah Daerah
Dukungan terhadap penyelenggaraan lomba juga disampaikan perwakilan Jukulele Leader (MJL) Provinsi Maluku,
Megio Lekahena Dalam arahannya,mengatakan MJL mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah terhadap pelaksanaan kegiatan yang disebut telah memasuki tahun ketiga.

Megio menilai lomba jukulele bukan hanya menjadi panggung pertunjukan seni, melainkan sarana pengembangan karakter, kreativitas, dan potensi anak-anak di Maluku Tengah.

Namun, di balik antusiasme peserta, terdapat tantangan yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah, khususnya persoalan transportasi dan biaya akomodasi bagi peserta yang berasal dari wilayah-wilayah yang jauh.

Luasnya wilayah Kabupaten Maluku Tengah membuat sebagian peserta harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk perjalanan, penginapan, dan kebutuhan selama mengikuti perlombaan.

Karena itu, MJL mendorong agar kegiatan ini dapat ditetapkan sebagai agenda tahunan pemerintah daerah dengan dukungan lintas sektor, bukan hanya Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata, tetapi juga perangkat daerah terkait, termasuk sektor perhubungan, pemberdayaan UMKM, dan koperasi.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memperluas akses peserta dari berbagai kecamatan dan pulau sehingga kesempatan untuk mengembangkan bakat tidak hanya dinikmati anak-anak yang memiliki kemudahan transportasi dan biaya.

MJL juga menyatakan kesiapannya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan musik jukulele melalui jaringan komunitas yang dimiliki di Maluku dan wilayah Indonesia timur.

36 Peserta SD dan SMP Tunjukkan Potensi Seni Generasi Muda
Pada pelaksanaan lomba kali ini, panitia mencatat sebanyak 15 peserta tingkat SD dan 21 peserta tingkat SMP, sehingga total terdapat 36 peserta yang mengikuti perlombaan.

Kehadiran para peserta menjadi gambaran antusiasme generasi muda dalam mengembangkan kemampuan bermusik sekaligus mengenal lebih dekat seni dan budaya daerahnya sendiri.

Dukungan Dinas Pendidikan, panitia penyelenggara, para guru, pelatih, pendamping, orang tua, serta komunitas seni dinilai menjadi bagian penting dalam menciptakan ruang pembinaan yang positif bagi anak-anak.

Rangkaian pembukaan turut dimeriahkan dengan penampilan musik jukulele dan penyerahan jukulele berbahan batok kelapa dari perwakilan MJL Provinsi Maluku kepada Bupati Maluku Tengah sebagai kenang-kenangan sekaligus simbol penghargaan terhadap upaya pelestarian musik lokal.

Saatnya Budaya Menjadi Gerakan Bersama
Penyelenggaraan lomba jukulele dalam rangka HUT ke-69 Kota Masohi menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui seremoni. Diperlukan pembinaan berkelanjutan, dukungan anggaran, akses transportasi yang memadai, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar seni tradisional tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Pemerintah daerah, dunia pendidikan, komunitas seni, keluarga, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan anak-anak Maluku Tengah tidak hanya menjadi penonton perkembangan zaman, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang mampu menjaga identitas budayanya.

Dengan semangat HUT ke-69 Kota Masohi, lomba jukulele diharapkan menjadi lebih dari sekadar perlombaan tahunan. Kegiatan ini diharapkan berkembang menjadi ruang pembinaan talenta, penguatan karakter, promosi kebudayaan, sekaligus penggerak ekonomi kreatif masyarakat.

Dari Masohi, semangat menjaga budaya leluhur harus terus berbunyi. Sebab, ketika anak-anak mencintai budayanya, di situlah identitas Maluku menemukan masa depannya.
Salam budaya, salam jukulele! (CM)

Pos terkait