Claire Hall dari Australia : “Saya Datang ke Banda Bukan untuk Lomba Saja, Tapi Menemui Adik-Adik Saya”

MALUKUEXPRESS.COM, BANDA – Laut Arafura yang memisahkan Australia dan Maluku ternyata tidak mampu memisahkan hati. Itulah pesan mengharukan yang disampaikan pelayar asal Australia, Claire Hall, setelah tiba di pulau Banda dalam pelayaran internasional Darwin–Banda.7 Agustus 2026

Di tengah kemeriahan penyambutan, Claire mengungkapkan bahwa tujuan kedatangannya bukan semata-mata mengikuti lomba layar. Ada alasan yang jauh lebih dalam: persaudaraan.
“Saya datang ke Banda bukan sekadar mengikuti lomba layar. Saya datang untuk bertemu adik-adik saya, Nico dan Caisar, serta seluruh basudara di Banda,” ujar Claire penuh haru.

Claire mengaku perjalanan dari Darwin menuju Banda berlangsung lancar dengan angin yang bersahabat. Namun baginya, hadiah terbesar bukanlah keberhasilan mengarungi lautan, melainkan sambutan hangat yang ia terima dari masyarakat Maluku.

“Nico dan Caisar sudah saya anggap seperti adik saya sendiri. Saya berharap seluruh basudara di Banda menerima kami dari Australia sebagai keluarga. Hubungan kita bukan hanya antardua negara, tetapi hubungan kakak dan adik yang lahir dari hati.”
Ucapan itu langsung menyentuh banyak orang. Claire juga menyampaikan terima kasih kepada Ambon Sailing Community, Pemerintah Indonesia, TNI AL Koarmada IX, dan seluruh masyarakat Maluku yang telah membuka pintu persaudaraan bagi para pelayar dari Australia.

Menurutnya, laut bukanlah batas, melainkan jalan yang mempertemukan keluarga.
“Mari kita bangun Maluku dan Banda bersama-sama. Kami datang bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai keluarga yang ingin tumbuh bersama.”

Kisah Claire menjadi bukti bahwa diplomasi paling kuat bukan selalu dilakukan di ruang-ruang pertemuan resmi, melainkan melalui ketulusan hati. Dari Darwin, Ambon, hingga Banda, lahir sebuah ikatan emosional yang tidak dibangun oleh perjanjian, tetapi oleh rasa saling memiliki.

Di tengah dunia yang sering dipenuhi perbedaan, Claire Hall menunjukkan bahwa satu pelukan persaudaraan mampu mengalahkan ribuan kilometer lautan.
Karena bagi orang Maluku, satu kalimat ini sudah cukup menggambarkan semuanya: Katong samua basudara. (CM)

Pos terkait