MALUKUEXPEESS.COM, AMBON — Polemik proses pencalonan Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Maluku memicu gelombang kritik dari sejumlah pelatih, klub, hingga warga Kota Ambon. Mereka menilai panitia pemilihan tidak menjalankan proses secara netral dan cenderung menciptakan mekanisme yang berpotensi menguntungkan calon tertentu.
Yance Saiya, salah satu pelatih PSA, menegaskan bahwa proses pendaftaran bakal calon ketua telah dijalani pihaknya bersama Maluku United pada 5 Desember 2025 sesuai jadwal panitia. Namun, ia menyatakan bahwa persyaratan yang diajukan panitia tidak sepenuhnya memiliki dasar regulasi yang kuat.
“Syarat-syarat yang diminta panitia, seperti SK klub pengusung, sebenarnya tidak mutlak. Klub-klub yang pernah mengikuti Liga 3 dan kompetisi resmi PSSI otomatis sudah terdaftar di Asprov. Kami melihat syarat tambahan itu hanya dibuat untuk meloloskan calon tertentu,” ujar Yance.
Ia menambahkan, pihaknya telah menyiapkan sanggahan resmi jika panitia kembali menggugurkan calon yang mereka ajukan, sebuah pola yang menurutnya telah terjadi lima tahun lalu saat pemilihan Ketua Asprov sebelumnya.
Kongres Asprov 22 November Disebut Tidak Sah oleh Sejumlah Klub
Kecurigaan terhadap ketidaknetralan panitia semakin menguat setelah sejumlah klub mengaku tidak diundang dalam Kongres Asprov PSSI Maluku yang digelar pada 22 November. Padahal, agenda kongres tersebut mencakup laporan pertanggungjawaban kegiatan, laporan keuangan, hingga pengesahan Statuta 2025.
“Semua anggota yang pernah mengikuti kompetisi resmi PSSI wajib dilibatkan, bukan hanya 17 voter. Kongres itu jadi tidak sah karena tidak mengundang seluruh anggota,” tegas para pelatih yang hadir.
Kritik juga muncul terkait pengesahan empat klub baru. Menurut Charles Tasikjawa, pelatih Ambon United, keputusan tersebut dianggap janggal.
“Ambon United adalah juara Liga 3 tahun 2019. Mengapa kami tidak disahkan dan malah empat tim baru yang diakomodasi panitia? Ini sangat merugikan dan tidak transparan,” tegasnya.
Qawi Tuarea yang juga pemerhati sepak Bola Kota Ambon menyoroti Terkait Sikap Askot
Di sisi lain, keputusan Askot PSSI Kota Ambon yang mengusung calon dari luar kota juga memancing kekecewaan warga. Mereka mempertanyakan alasan Askot mendukung figur yang tidak memiliki rekam jejak dalam sepak bola Kota Ambon.
“Warga kota marah. Masa dalam Kota Ambon tidak ada calon? Ini memalukan,” ujar Semi, salah satu warga kota.
Warga juga menyoroti kepemimpinan Plt Ketua Askot, Ashar bin Tahir, yang sudah menjabat selama tiga tahun tanpa ada ketua definitif.
“Plt itu tugasnya mempersiapkan pemilihan, bukan menjabat seumur hidup. Kok bisa memberi rekomendasi kepada orang yang tidak pernah terlibat dalam klub sepak bola Ambon?” lanjut Semi.
Ia meminta Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, menutup seluruh akses dan fasilitas yang digunakan Plt Askot tersebut karena dianggap menyakiti hati masyarakat.
Panitia Dinilai Tidak Netral: “Sudah Diatur untuk Calon Tunggal”
Dugaan ketidaknetralan panitia semakin menguat setelah muncul perkiraan bahwa proses pemberkasan bakal calon akan kembali dijadikan alat untuk menggugurkan kandidat tertentu.
“Panitia tidak netral. Kami yakin mereka akan menggugurkan calon kami di tahap verifikasi agar kembali muncul calon tunggal, seperti lima tahun lalu. Ini artinya kompetisi tidak sehat,” tegas Tonny Hendriks.
Tonny menambahkan bahwa situasi tersebut menggambarkan ketakutan pihak tertentu terhadap persaingan terbuka.
“Kalau dari awal sudah disusun untuk calon tunggal, berarti ada pihak yang takut bertanding sebelum pertandingan dimulai,” katanya.
Harapan Klub dan Warga: Pembenahan Total Sepak Bola Maluku
Para pelatih dan warga sepakat bahwa sepak bola Maluku stagnan selama satu dekade terakhir. Mereka menilai tidak ada kemajuan berarti selama kepemimpinan Asprov sebelumnya, termasuk kegagalan tim Pra-PON Maluku lolos babak kualifikasi.
“Kami hanya ingin pemimpin baru yang benar-benar bekerja membenahi sepak- bola Maluku. Bukan sekadar mempertahankan kekuasaan,” tutup Charles Tasikjawa.
Pada kesempatan yang sama Dukungan Juga Datang Dari Walikota Ambon Bodewin Wattimena Yang Adalah Ketua Umum PSA Ambon Kepada Bapak Johan Lewerissa Untk Maju Sebagai Bakal Calon Ketua Asprov PSSI Maluku.harapan Pak Walikota Agar Proses Pemilihan Dapat Berjalan Dengan Jujur Dan Transparan, pemerhati Sepak Bola Maluku Thony Hendriks sekaligus Sekretaris Majelis Pemuda Indonesia Maluku KNPI, menegaskan Bahwa Panitia Seleksi juga harus berhati2 dalam meloloskan Bakal Calon Pemimpin menjadi Calon Pemimpin PSSI karena harus dengan Statuta PSSi Pasal 55 ststuta terbaru 2025. jangankan tersangkut masalah Hukum, dalam berproses hukum saja calon tersebut sudah tidak bisa di calonkan menjadi calon ketua PSSI, apa yang kita harapkan kalo calon Pemimpin kedepan bermasalah hukum, dan Selama kepemimpinan saudara Ketua PSSI yang sekarang tidak pernah melakukan amanath Statuta yaitu Konges tahunan tahun 2021, 2022,2023,2024, tahun 2025 baru terlaksana lakukan Konges Pemilihan ini kan tidak sesuai Statuta jadi Ketua Komite Penjaringan harus selektif dalam meloloskan Calon Ketua PSSI. Harus Sesuai Statusa tahun 2025, Jadi intinya harus ada Pemimpin yang Baru untuk Kemajuan Sepakbola Maluku Ke Depan. *)






