
UN Women bersama PBB mengambil tema DigitALL: Innovation and Technology for Gender Equality” atau ‘Inovasi dan Teknologi untuk Kesetaraan Gender’. Tema ini diambil bukan tanpa alasan, sebab bias gender dan perbedaan perlakuan terhadap perempuan di era perkembangan teknologi modern justru masih terjadi. Banyak perempuan justru mendapat perlakuan yang bias. Padahal pencapaian para wanita di bidang ini cukup besar. (https://www.cnnindonesia.com)
Silahkan baca artikel CNN Indonesia “Hari Perempuan Internasional, Kesetaraan Harus Dimiliki Semua Orang” selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20230307193226-277-922135/hari-perempuan-internasional-kesetaraan-harus-dimiliki-semua-orang.
Tapi, pencapaian itu justru bertentangan dengan rintangan yang harus dihadapi. Bahkan, dalam sebuah survei ditemukan sebanyak 73 persen jurnalis perempuan dari 125 negara masih mengalami kekerasan online selama bekerja.
Kilas balik singkat.
Hri Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD). Perayaan ini dimulai pada 1908 ketika 15.000 perempuan melakukan aksi demo di New York, Amerika Serikat, menyuarakan hak mereka tentang peningkatan standar upah dan pemangkasan jam kerja.
Pada 1910, Pemimpin ‘Kantor Perempuan’ Clara Zetkin mengajukan sebuah gagasan untuk menetapkan Hari Perempuan Internasional yang menyarankan setiap negara merayakan satu hari dalam setahun untuk mendukung aksi tuntutan perempuan.
Gagasan itu disetujui Konferensi perempuan dari 17 negara yang beranggotakan total 100 perempuan. Sehingga disepakati 19 Maret 1911 sebagai perayaan pertama Hari Perempuan Internasional di Austria, Jerman, Denmark dan swiss. Pergerakan perempuan di Rusia menggelar aksi damai menentang Perang Dunia I pada 8 Maret 1913. Setahun kemudian, perempuan di seantero Eropa menggelar aksi yang sama di tanggal yang sama.
Diera Perang Dunia II, 8 maret digunakan seluruh dunia sebagai momentum advokasi keserataan gender. Tanggal 8 Maret kemudian diakui keberadaannya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1975. Pada 2011, mantan Presiden AS Barack Obama menetapkan Maret Sebagai Bulan sejarah perempuan.
Implementasi
Di masa sekarang, gagasan dan konsep tentang kesetaraan gender kini bukan hal yang tabu lagi untuk dibicarakan. Kini, perempuan memiliki kesempatan untuk berada di pemerintahan, dan kesetaraan yang lebih besar dalam hak-hak legislatif, dan apresiasi terhadap pencapaian mereka di berbagai bidang, akan tetapi, masih terdapat sejumlah benang kusut permasalahan perempuan yang belum terpecahkan, seperti masih adanya ketidaksetaraan upah antara perempuan dan laki-laki, juga kasus-kasus kekerasan domestik yang lebih dominan dialami perempuan.
Selain itu hal yang menggembirakan adalah akhir akhir ini dalam dunia politik mulai diterapkan beberapa aturan agar ada keterlibatan dan kesetaraan perempuan dalam palemen satu Negar termasuk Indonesia, sebut saja misalnya Partai politik baru dapat mengikuti Pemilu jika telah menerapkan sekurang-kurangnya 30% keterwakilan perempuan pada kepengurusannya di tingkat pusat. Penegasan tersebut diatur dalam UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD. Sudah tentu hal merupakan satu angina segar bagi dunia perempuan, namun kenyataannya begitu banyak partai yang masih menerapkan UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD masih diterapkan dengan terpaksa,karena hanya sekedar memenuhi 30 persen sebagai satu ersyaratan.
Hal ini sangat berbeda dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), tidak ahanya menerapkan UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD sebagai satu syarat namun memang demikian bahwa perjuangan kesetaraan gender ini adalah DNA parti Solidaritas Indonesia yang dengan kesadaran penuh mau secara terus berjuang untuk memperjuangkan kesetaran gendaer bagi perempuan dalam berbagi bidang.
Acungan jempol harus diberikan kepada Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dipimpin Grace Natalia dan Giring Ganesha, karena hal ini dibuktikan dengan kepengrusan PSI mulai dari DPP, DPW dan DPC selalu didominasi oleh perempuan perempuan hebat dari generasi muda Indonesia.
Pesan moral yang ingin saya sampaikan adalah, Ibu kita adalah perempuan, istri kita adalah perempuan, bahkan munghkin anak kita adalah perempuan juga, masih maukah saudara hidup dalam iklim yang merendahkan perempuan ? Yuk… mari berjuang bersama PSI.
Patti. M Rumtily (Politis PSI)






