MX.COM, AMBON, Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon menggelar Rapat Terbuka Luar Biasa Senat Universitas dalam rangka pengukuhan enam Guru Besar, yang berlangsung di Aula Lantai II Rektorat Unpatti, Kota Ambon, Rabu (11/2/2026).
Enam Guru Besar yang dikukuhkan masing-masing adalah Prof. Dr. Henry Junus Wattimanela, S.Si., M.Si dengan kepakaran Statistika Spasial pada Fakultas Sains dan Teknologi, Prof. Dr. Imanuel Berly Delvis Kapele, S.Si., M.Si dalam bidang Kimia Bahan Alam pada Fakultas Sains dan Teknologi, serta Prof. Dr. Wilma Akihary, S.Pd., M.Hum dalam bidang Pendidikan Bahasa–Linguistik pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Selanjutnya, Prof. Wilma Latuny, S.T., M.Si., M.Phil., Ph.D dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Kecerdasan Buatan pada Fakultas Teknik, Prof. Dr. Ir. Pieter Thomas Berhitu, S.T., M.T dalam bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir pada Fakultas Teknik, serta Prof. Dr. Kalvin Karuna L., M.Pd dalam bidang Didaktik Metodik Pembelajaran Bahasa Jerman pada FKIP Universitas Pattimura.
Usai menyampaikan orasi ilmiah, keenam Guru Besar tersebut secara resmi dikukuhkan oleh Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd, dalam sidang senat terbuka luar biasa.
Rapat senat ini turut dihadiri Wakil Gubernur Maluku, unsur Forkopimda Provinsi Maluku, Wali Kota Ambon, pimpinan dan anggota Senat Universitas Pattimura, para wakil rektor, pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Kota Ambon, para dekan, direktur pascasarjana, ketua lembaga, kepala biro, para wakil dekan, koordinator, rohaniawan, dosen, pegawai, mahasiswa, serta keluarga dan undangan.
Salah satu Guru Besar yang menyampaikan orasi ilmiah adalah Prof. Wilma Latuny, S.T., M.Si., M.Phil., Ph.D, dengan judul “Kecerdasan Buatan sebagai Sistem Pendukung Keputusan dalam Pembangunan Industri Wilayah Kepulauan.”
Dalam orasinya, Prof. Wilma menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki potensi kelautan, perikanan, dan keanekaragaman hayati yang sangat besar. Namun, kondisi geografis tersebut sekaligus menghadirkan tantangan serius dalam pembangunan industri, khususnya terkait konektivitas antarwilayah, tingginya biaya logistik, serta fragmentasi sistem produksi.
Ia menyoroti bahwa kekayaan sumber daya alam di wilayah kepulauan belum sepenuhnya terkonversi menjadi nilai tambah industri yang berkelanjutan. Struktur industri nasional masih terkonsentrasi secara spasial, sementara banyak wilayah kepulauan, termasuk Maluku, masih berperan sebagai pemasok bahan mentah.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada keterbatasan sistem pengambilan keputusan, integrasi rantai pasok, serta pengelolaan ketidakpastian yang bersifat geografis dan struktural. Pendekatan konvensional yang bertumpu pada intuisi dan sistem manual dinilai memiliki keterbatasan dalam menjawab kompleksitas wilayah kepulauan.
Dalam konteks tersebut, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diposisikan sebagai paradigma baru dalam pengambilan keputusan industri. AI berfungsi sebagai sistem pendukung keputusan yang memperkuat kemampuan manusia dalam memahami kompleksitas sistem, mengenali pola, memprediksi risiko, dan menghasilkan rekomendasi berbasis data.
“AI bukan pengganti manusia, tetapi penguat keputusan manusia,” tegas Prof. Wilma.
Ia menjelaskan bahwa teknik industri memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan AI dengan manusia, data, teknologi, serta konteks lokal melalui pendekatan rekayasa sistem sosioteknis. Dengan pendekatan tersebut, kecanggihan teknologi dapat diterjemahkan secara realistis sesuai dengan kondisi industri kepulauan.
Dalam kontribusi empirisnya, Prof. Wilma memaparkan sejumlah implementasi AI yang telah dikembangkan dan diuji di wilayah kepulauan, khususnya Maluku. Penerapan AI dilakukan pada penilaian kualitas dan pengambilan keputusan ekonomi produk agromaritim seperti rumput laut dan hasil perikanan, klasifikasi mutu tuna berbasis computer vision, hingga sistem pendukung keselamatan kerja melalui deteksi kelelahan pekerja.
Selain itu, AI juga dimanfaatkan untuk pemantauan lingkungan laut dan keselamatan maritim, analisis pariwisata, penguatan UMKM, hingga pelestarian budaya dan bahasa maritim tradisional melalui pendekatan natural language processing. Seluruh sistem tersebut dirancang agar mudah dipahami dan digunakan oleh masyarakat serta pemangku kepentingan lokal.
Menutup orasi ilmiahnya, Prof. Wilma Latuny menegaskan bahwa kecerdasan buatan harus dipahami sebagai sarana penguatan ilmu pengetahuan yang berpijak pada nilai etika, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial. Melalui pemanfaatan AI, peran teknik industri diharapkan semakin relevan dalam mendukung pendidikan, pengembangan pemikiran akademik, serta pengabdian kepada masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan.
Ia menekankan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak semata diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari hikmat dan pengertian dalam penggunaannya. Hal tersebut sejalan dengan firman Tuhan dalam Amsal 4 ayat 7, “Permulaan pengetahuan adalah: perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian.”
Pada kesempatan itu, Prof. Wilma Latuny juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, doa, dan kebersamaan dalam perjalanan akademik dan pengabdiannya, baik kepada keluarga, civitas akademika Universitas Pattimura, maupun para mitra dan pemangku kepentingan, dalam upaya membangun ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi pembangunan wilayah kepulauan. (*mn)






