Saumlaki, Malukuexpress.com– Ketimpangan program bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali disorot. Kali ini, Gerakan Pemuda Lima Satu Seira (GP-51 S) angkat bicara dan menagih janji KKP terkait distribusi bantuan bibit rumput laut dan alat tangkap nelayan yang dijanjikan sejak beberapa tahun lalu.
Aspirasi ini mencuat setelah deretan keluhan dari masyarakat pesisir Seira Blawat, Kecamatan Wermaktian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, yang selama empat tahun terakhir mengalami kegagalan panen rumput laut secara berturut-turut, Sabtu (24/5/2025)
Nikolas Frets Besitimur, tokoh pemuda Seira Blawat, menyebut kondisi ini telah menempatkan petani dan nelayan lokal dalam situasi kritis. Minimnya sarana-prasarana budidaya rumput laut, termasuk kurangnya akses pada alat tangkap ikan modern, menjadi hambatan utama dalam meningkatkan produktivitas masyarakat.
“Sudah ada kunjungan langsung dari pihak KKP ke Seira. Mereka menjanjikan bantuan bibit rumput laut dan alat tangkap ikan. Tapi sampai hari ini, para petani tetap berjuang sendiri menghadapi gagal panen tanpa bantuan nyata,” tegas Nikolas, Jumat (23/5/2025).
Menurutnya, selain masalah rumput laut, nelayan Seira Blawat juga menghadapi kesulitan dalam memperoleh hasil tangkapan karena tidak memiliki peralatan yang layak, sehingga penghasilan mereka menurun drastis.
Lima Tuntutan GP-51 Seira kepada KKP:
Evaluasi total kinerja Dinas Perikanan Kepulauan Tanimbar, terutama terkait distribusi bantuan dan pengawasan program perikanan.
Penyediaan sarana budidaya rumput laut seperti bibit unggul, tali bentang, pelampung, dan fasilitas pascapanen secara merata kepada kelompok tani di Seira Blawat.
Distribusi alat tangkap ikan modern untuk nelayan lokal guna meningkatkan hasil tangkapan dan mendukung keberlanjutan sektor perikanan.
Pembentukan tim pengawasan dan pendamping teknis di lapangan agar para petani dan nelayan mendapat bimbingan langsung menghadapi tantangan teknis budidaya.
Kepastian program berkelanjutan dari pemerintah pusat, agar masyarakat tidak sekadar menjadi objek proyek sesaat, melainkan mitra pembangunan ekonomi maritim.
Nikolas menekankan bahwa tuntutan ini bukan sekadar suara pemuda, melainkan representasi dari kekecewaan masyarakat yang merasa dikhianati oleh janji pemerintah pusat dan daerah.
“Seira Blawat memiliki potensi besar di sektor budidaya rumput laut dan perikanan tangkap. Namun tanpa dukungan nyata, masyarakat akan terus terpuruk,” tambahnya.
Hingga berita ini ditayangkan, Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Tanimbar belum memberikan tanggapan resmi atas desakan evaluasi tersebut.
(Petu)






