MALUKUEXPRESS.COM, MASOHI MALUKU TENGAH β Bukan sekadar lomba musik! Anak-anak Maluku Tengah kembali membuktikan bahwa kekayaan budaya daerah memiliki masa depan cerah di tangan generasi muda. Festival Jukulele Pamahanunusa 2026 melahirkan para juara sekaligus membuka peluang bagi talenta-talenta cilik untuk tampil di panggung utama perayaan HUT ke-69 Kota Masohi.
Dua nama berhasil mencuri perhatian: SD Negeri 197 Maluku Tengah dan SMP Negeri 85 Maluku Tengah! Keduanya sukses meraih juara pertama pada kategori masing-masing dalam festival yang digelar pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
SD Negeri 197 Maluku Tengah keluar sebagai juara pertama kategori SD dengan nilai 85,19, sedangkan SMP Negeri 85 Maluku Tengah menguasai kategori SMP dengan nilai 87,00.
Prestasi ini bukan hanya tentang angka di atas kertas. Ada latihan, kedisiplinan, kekompakan, keberanian, dan kecintaan terhadap budaya lokal yang menjadi bagian dari perjalanan para peserta.
Kini, perhatian publik tertuju pada satu hal: akankah alunan jukulele anak-anak Maluku Tengah menggema di panggung utama HUT ke-69 Kota Masohi?
INI DAFTAR JUARA FESTIVAL JUKULELE PAMAHANUNUSA 2026!
Persaingan berlangsung ketat. Setiap sekolah tampil membawa kemampuan terbaiknya, sementara dewan juri melakukan penilaian mendalam hingga menghasilkan skor dengan angka desimal.
KATEGORI SEKOLAH DASAR (SD)
π₯ Juara I: SD Negeri 197 Maluku Tengah β 85,19
π₯ Juara II: SD Negeri 294 Maluku Tengah β 84,32
π₯ Juara III: SD Negeri 30 Maluku Tengah β 83,25
Juara IV: SD Negeri 230 Maluku Tengah β 81,15
Juara V: SD Negeri 191 Maluku Tengah β 67,49
Juara VI: SD Negeri 160 Maluku Tengah β 64,60
β Juara Favorit: SD Negeri 131 Maluku Tengah
KATEGORI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
π₯ Juara I: SMP Negeri 85 Maluku Tengah β 87,00
π₯ Juara II: SMP Negeri 6 Maluku Tengah β 82,59
π₯ Juara III: SMP Negeri 42 Maluku Tengah β 80,64
Juara IV: SMP Negeri 38 Maluku Tengah β 72,75
Juara V: SMP Kristen Haruru β 70,68
Juara VI: SMP Negeri 71 Maluku Tengah β 69,93
β Juara Favorit: SMP Negeri 4 Maluku Tengah
Keputusan para pemenang ditetapkan oleh dewan juri di Masohi pada 24 Oktober 2026. Hasil tersebut menjadi catatan prestasi bagi sekolah, peserta didik, guru, dan pelatih yang telah mempersiapkan penampilan terbaik mereka.
BUKAN SELESAI DI LOMBA! ANAK-ANAK JUKULELE DISIAPKAN TAMPIL DI PUNCAK HUT MASOHI
Kabar menariknya, perjuangan para peserta tidak harus berhenti setelah pengumuman pemenang.
Panitia HUT ke-69 Kota Masohi membuka peluang bagi peserta festival untuk terlibat dalam penampilan jukulele secara massal pada upacara peringatan di Lapangan Nusantara, 3 November 2026.
Jika rencana ini terealisasi, panggung perayaan hari jadi Kota Masohi akan menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk memperlihatkan bakat, kekompakan, dan kecintaan mereka terhadap seni budaya Maluku di hadapan Bupati, unsur Forkopimda, pimpinan organisasi perangkat daerah, dan masyarakat.
Penampilan tersebut direncanakan melibatkan peserta yang bersedia. Materi lagu, teknis latihan, serta kebutuhan penampilan akan dikoordinasikan bersama pelatih dan komunitas jukulele.
Busana baju cele atau pakaian bermotif kotak-kotak juga menjadi salah satu gagasan yang dibahas. Selain itu, muncul ide menghadirkan atraksi atau flash mob bertema lingkungan yang sebelumnya ditampilkan dalam parade.
Seluruh konsep tersebut masih membutuhkan koordinasi dan persiapan lebih lanjut.
Bayangkan Lapangan Nusantara dipenuhi alunan jukulele anak-anak Maluku Tengah! Bukan hanya menjadi hiburan, penampilan ini berpotensi menjadi simbol kebanggaan daerah sekaligus bukti bahwa anak-anak memiliki tempat penting dalam pelestarian budaya.
PESAN PENTING: JANGAN BIARKAN BAKAT ANAK-ANAK BERHENTI SETELAH FESTIVAL!
Di balik gemerlap perlombaan, ada pesan yang jauh lebih besar: talenta anak-anak harus terus dibina, bukan hanya ditampilkan ketika ada perayaan.
Kepala sekolah, guru, pelatih, orang tua, komunitas seni, dan pemerintah daerah memiliki peran penting untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan ruang belajar dan berkreasi.
Jukulele bukan sekadar alat musik. Melalui latihan bersama, anak-anak belajar disiplin, membangun kekompakan, menghargai sesama, menerima hasil penilaian, dan berani tampil di hadapan publik.
Karena itu, Festival Jukulele Pamahanunusa 2026 seharusnya menjadi titik awal pembinaan yang lebih berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial yang berakhir setelah piala dibagikan.
Prestasi SD Negeri 197 dan SMP Negeri 85 Maluku Tengah patut mendapat apresiasi. Namun, sekolah-sekolah lain yang ikut berkompetisi juga layak dihargai karena telah menjadi bagian dari gerakan pelestarian seni budaya daerah.
MALUKU TENGAH ADALAH NEGERI KEPULAUAN. KESEMPATAN HARUS MERATA!
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Maluku Tengah memiliki wilayah kepulauan dengan tantangan transportasi dan jarak antardaerah yang tidak ringan.
Tidak semua sekolah memiliki akses yang sama terhadap fasilitas latihan, pelatih, biaya perjalanan, dan kesempatan tampil di pusat kabupaten.
Karena itu, festival budaya ke depan perlu didukung dengan perencanaan yang semakin inklusif. Dukungan transportasi, akomodasi, pembinaan di sekolah, dan kolaborasi lintas perangkat daerah dapat membantu memperluas kesempatan bagi anak-anak dari berbagai wilayah.
Tujuannya bukan semata-mata melahirkan juara, tetapi memastikan setiap anak memiliki peluang untuk mengembangkan bakatnya.
Jangan sampai anak-anak yang memiliki talenta luar biasa kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan akses.
Jika pembinaan dilakukan secara konsisten dan merata, jukulele dapat menjadi salah satu kekuatan budaya yang menghubungkan sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat Maluku Tengah.
DARI MASOHI UNTUK MALUKU: JUKULELE, IDENTITAS, DAN KEBANGGAAN GENERASI MUDA!
Festival Jukulele Pamahanunusa 2026 telah menghadirkan para juara. Namun, kemenangan sesungguhnya adalah ketika semakin banyak anak Maluku Tengah mencintai budayanya, berani berkarya, dan memperoleh kesempatan untuk berkembang.
SD Negeri 197 Maluku Tengah dan SMP Negeri 85 Maluku Tengah telah menorehkan prestasi membanggakan. Kini, peluang penampilan massal pada puncak HUT ke-69 Kota Masohi menjadi momentum yang patut dinantikan.
Semoga semangat ini tidak berhenti di panggung festival. Semoga jukulele terus hidup di sekolah-sekolah, tumbuh dalam komunitas, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab, ketika anak-anak memainkan jukulele, mereka tidak hanya menghasilkan nada. Mereka sedang merawat identitas, memperkuat kebersamaan, dan menjaga warisan budaya Maluku agar tetap hidup.
Salam Budaya. Salam Jukulele!
(CM)






