Gerak Bersama Kampanyekan “Go Zero Waste” Lewat Lokakarya di Vihara Swarna Giri, Permabudhi Maluku : Sampah Bukan Masalah Satu Kelompok, Tapi PR Kita Semua

MX.COM,  Suara doa dan semangat lingkungan bersatu di Gunung Nona. Minggu 17/5/2026, perwakilan masyarakat dan generasi muda lintas iman berkumpul di Vihara Swarna Giri Tirta Gunung Nona dalam lokakarya aksi lingkungan. Mereka kompak mengkampanyekan gerakan “Go Zero Waste” sebagai jawaban nyata atas krisis sampah Kota Ambon.

Kegiatan ini diprakarsai Persatuan Umat Buddha Indonesia Provinsi Maluku (Permabudhi Maluku). Hadir sebagai narasumber utama Bapak Uce Rumoty yang memberikan edukasi bertema “Kalesang Sampah Jadi Berkah” bersama pemuda lintas iman dan tamu undangan lainnya.

Bacaan Lainnya

Ketua Permabudhi Maluku Aline Tjoa Pinontoan membuka acara dengan data mengejutkan. Setiap hari, Pemkot Ambon mengangkut sampah ke TPA sebanyak 250 ton.

“Perlu diketahui, di Maluku, di Kota Ambon itu setiap hari, Pemkot memuat mengangkut sampah ke TPA itu, 1 hari 250 ton. Kalau 1 tahun berarti sudah sekitar 60.000 ton di tahun 2024. Itu pun tidak semuanya terangkut, jadi masih ada yang tersisa dan mencemari lingkungan, ke sungai, ke laut, atau di sekitar kita,” ungkap Aline dalam sambutannya.

Ia menegaskan, sampah bukan masalah satu orang atau satu kelompok. Ini masalah kita bersama yang harus diselesaikan dari rumah.

“Karena sampah ini bukan masalah satu orang, bukan masalah kelompok, tapi masalah kita semua. Sebenarnya masalah sampah ini bermula dari kita rumah tangga, karena kita adalah penghasil produksi sampah terbesar,” tambahnya.

Tiga Langkah “Go Zero Waste” ala Permabudhi: Kurangi, Pilah, Olah, Lewat workshop, Aline membagikan 3 jurus sederhana yang bisa langsung dipraktikkan warga Ambon, Pertama. Mencegah/Mengurangi : Kurangi pemakaian yang tidak perlu. Ganti botol plastik sekali pakai dengan tumbler. Bawa tas belanja sendiri.

Kedua. Memilah : Pisahkan sampah organik, plastik, kain, metal sejak dari rumah. Sampah yang dipilah punya nilai ekonomi.

Ketiga.  Mengolah : Sampah bisa disulap jadi kompos, eco-enzyme, paving block dari plastik, meja, sampai keset dari kain bekas.

“Semua itu bisa berguna asal kita olah, asal kita pilah. Kalau kita campur semua jadi repot, itu juga akan membebani TPA dan petugas pemilah sampah,” jelas Aline.

Yang membuat lokakarya ini istimewa adalah kebersamaan. Pemuda lintas iman hadir dan aktif berdiskusi, membuktikan kepedulian lingkungan melampaui sekat keyakinan.

“Saya senang sekali dan selamat datang buat semuanya, buat para pemuda lintas iman dan juga teman-teman sekalian. Ini membuktikan bahwa ada kepedulian terhadap bumi kita karena bumi ini membutuhkan manusia-manusia yang mau bergerak bersama, tidak mungkin kita bisa jalan sendiri,” ucap Aline.

Acara ditutup meriah dengan pantun yang disambut peserta,

“Pagi hari minum kopi hangat, Cakep
Ditemani roti terasa nikmat. Cakep
Hari ini semangat harus kuat, Cakep
Agar workshop jadi bermanfaat. Oke”

Gerakan “Go Zero Waste” dari Permabudhi Maluku ini jadi pengingat: menyelamatkan Ambon dimulai dari dapur rumah kita sendiri. Kalau 250 ton sampah/hari bisa dipilah dan diolah warga, TPA jadi lebih ringan, laut dan sungai jadi lebih bersih. (*

Pos terkait