Permabudhi Maluku Ajak Lintas Iman “Kalesang Sampah Jadi Berkah”, Teknologi Komposter Jadi Senjata dan Solusi Lawan Sampah Tiap Hari

MX.COM, Aksi nyata jaga lingkungan kembali digelar di Kota Ambon. *Persatuan Umat Buddha Indonesia Provinsi Maluku (Permabudhi Maluku)* mengkampanyekan workshop *”Kalesang Sampah Jadi Berkah”* di Vihara Swarna Giri Tirta, Gunung Nona, Minggu 17/5/2026.

Uniknya, peserta yang hadir bukan dari satu keyakinan. Pemuda lintas iman dari *Hindu, Buddha, Katolik, Islam, dan Kristen* berkumpul bareng, duduk sama rendah, belajar sama tinggi soal teknologi kelola sampah.

Bacaan Lainnya

Uce Rumoty : Sampah Itu Peluang, Bukan Musuh. Narasumber workshop Bapak Uce Rumoty membagikan ilmu pengelolaan sampah skala rumah tangga yang bisa langsung dipraktikkan.

“Ini materinya berbagi tentang teknologi pengelolaan sampah. Kebetulan yang datang ini dari pemuda atau masyarakat antar umat, baik dari Hindu, Buddha, Katolik, Islam, dan pemuda Kristen yang ada di sekitar,” jelas Uce saat diwawancarai.

Ia menekankan perubahan pola pikir: sampah jangan lagi dianggap masalah, tapi peluang ekonomi.

“Terutama pemahaman tentang pengelolaan sampah sudah kami sampaikan dan berharap bahwa pemahaman tentang sampah itu tidak lagi dijadikan masalah, tapi jadi peluang. Banyak sekali teknologi pengelolaan sampah yang sudah diinformasikan, tinggal peserta mau memilih mana yang mereka atasi terkait jumlah sampah di masing-masing jemaat atau lingkungan, tinggal dimanage dari kelompok. Yang penting semua teknologi yang ditawarkan bisa dipakai untuk mengatasi permasalahan lingkungan saat ini,” tambahnya.

Komposter : Hasilnya Pupuk Padat dan Cair Sekali Proses, Dari banyak teknologi yang diperkenalkan, Uce menyoroti *komposter* sebagai teknologi paling sederhana dan relevan untuk warga Ambon.

“Manfaat yang paling untuk kegiatan hari ini adalah salah satu teknologi sederhana, yaitu komposter. Komposter ini adalah wadah atau alat untuk mengelola sampah dapur. Jadi limbah dapur mulai dari sisa sayuran, itu akan dimanfaatkan daripada terbuang jadi masalah di lingkungan, itu bisa dimanfaatkan menjadi kompos padat dan kompos cair,” ungkapnya.

Sekali praktik, peserta langsung dapat 2 hasil: kompos padat untuk tanaman dan kompos cair untuk pupuk/eco-enzyme.

“Jadi satu kali kita dapat dari hasil kerja hari ini adalah bisa mendapatkan hasil kompos padat dan kompos cair. Yang jelas bahwa tidak lagi sampah dapur jadi masalah dan tidak dibuang di lingkungan,” tegas Uce.

Ditempat yang sama, Ketua Permabudhi Maluku Aline Tjoa Pinontoan yang diwawancarai, berharap ilmu dari Uce Rumoty menginspirasi warga, terutama anak muda dan ibu-ibu.

“Semoga apa yang sudah disampaikan oleh Pak Uce Rumoty ini bisa menginspirasi anak-anak muda dan juga ibu-ibu dan warga sekitar supaya mereka bisa mendapatkan insight baru bahwa, wah ternyata sampah ini bisa menjadi satu yang mempunyai nilai ekonomi, digunakan, diolah kembali menjadi hal-hal yang berguna. Dan itu kan macam-macam,” kata Aline.

Alasan Permabudhi mengundang Uce karena ia punya banyak pengetahuan, pengalaman, dan sudah mempraktikkan langsung. “Sehingga itu bisa dibagikan dan dipraktikkan oleh para hadirin yang hadir,” ujarnya.

Untuk tindak lanjut, Aline berharap peserta langsung praktik di rumah masing-masing: mulai memilah sampah dan mengolah jadi pupuk.

“Saat ini kita praktiknya kompos, berarti membuat pupuk. Waktu sebelumnya kita juga pernah praktik buat eco-enzim. Kali ini kompos dan mungkin nanti berikutnya kami juga akan mengadakan workshop yang berbeda. Mungkin kita mengolah sampah plastik,” tutupnya. (*

Pos terkait