MALUKUEXPRESS.COM, Ambon. Sejak 15 April 2025, James Leiwakabessy dipercaya menakhodai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung menggerakkan perubahan. Langkah-langkah tegas yang diambilnya dalam waktu singkat membuat banyak mata terbuka: ada harapan baru bagi dunia pendidikan di Maluku.
Satu hal yang menonjol dari gaya kepemimpinan Lewakabessy adalah ketegasan. Ia tidak memberi ruang untuk kompromi terhadap sistem lama yang cenderung tumpul dan lamban. Administrasi kepegawaian yang selama ini semrawut mulai dibenahi. Layanan untuk guru dan tenaga kependidikan ditata ulang agar lebih efisien dan ramah. Bahkan sistem pengadaan barang dan jasa pun kini diarahkan melalui satu pintu transparan, meminimalkan celah korupsi dan penyalahgunaan wewenang.
Dari pantauan MalukuExpress.com, hasilnya mulai tampak. Masalah-masalah klasik seperti keterlambatan TPP dan kekacauan layanan pegawai kini mulai tertangani dengan rapi. Proses menjadi lebih tertib, terarah, dan yang terpenting—terukur.
Namun perubahan tidak selalu disambut hangat. Ada oknum-oknum yang merasa terganggu oleh pola kerja baru ini. Resistensi muncul, bahkan sampai pada tahap penyebaran fitnah dan isu-isu miring.
Menurut sumber internal yang enggan disebutkan namanya, Rabu (6/8) hal ini merupakan reaksi dari pihak-pihak yang selama ini diuntungkan oleh sistem lama.
“Kalau ada yang menyerang beliau secara personal, itu karena mereka merasa kepentingannya terancam. Tapi masyarakat harus tahu, dalam waktu empat bulan saja, hasil kerjanya sudah terasa,” ujar sumber tersebut.
James Leiwakabessy tak bekerja sendiri. Ia melibatkan kepala bidang, kepala sekolah, dan jajaran strategis lainnya dalam setiap proses perubahan. Prinsipnya sederhana: pendidikan bukan soal rutinitas, tapi soal kualitas. Karena itu, ia tak segan meninjau ulang penugasan pegawai agar lebih tepat sasaran.
“Kalau orang-orang yang sungguh-sungguh bekerja demi pendidikan malah digeser karena kepentingan politik atau ambisi pribadi, bagaimana pendidikan di Maluku bisa maju?,” kata sumber itu lagi.
Hari ini, nama Leiwakabessy mulai identik dengan harapan. Harapan akan sistem pendidikan yang bersih, terukur, dan berorientasi pada mutu. Ia bukan sekadar mengisi jabatan. Ia membawa arah. (CM)






