MALUKUEXPRESS.COM, Terkait dengan proyek air bersih di pulau Masela yang menyisahkan banyak keluh kesa bagi Masyarakat, yang tentunya uang Milyaran rupiah terkuras dan telah membuahkan hasil yang sangat mengecewakan. Ketua III Pemaskebar Maluku Ruben Kelabora saat di temui oleh beberapa awak media, Bertempat di Ruang Kerjanya, Selasa (07/11/2023) Siang 14 : 00 WIT.
Dirinya mengatakan, “Terkait dengan Proyek air bersih kawasan rawan air di pulau Marsela, di desa, Nura memang sudah lama berjalan, sudah start dari tahun 2021 tapi sampai pada hari ini juga proyek air bersih ini belum mendapat kejelasan sudah dapat air atau belum, tetapi yang pasti bahwa ketika kami konfirmasi dengan pihak masyarakat di pulau Masela, bahwa proyek air bersih di pulau Marsela itu, belum dapat air dan proyek itu dikatakan gagal total.
Lanjutnya, “Berdasarkan hasil survei ITB Bandung untuk mengetahui deteksi soal Koordinat air itu sudah ditemui titik itu, sehingga mereka membuat proposal ke pemerintah pusat, untuk melakukan tindakan melihat titik koordinat air yang sudah didapat itu, dan kebetulan mereka punya semua proposal yang sudah direspon oleh pemerintah pusat, sehingga kucurlah dana anggaran negara dalam APBN, dan kemudian menjadi DAK lagi di APBD di kabupaten Maluku Barat daya, sehingga tanah itu dipakai untuk pengoperasian air bersih.
“Seiring berjalannya waktu, Kabupaten Maluku Barat daya juga melakukan survei di lokasi, ternyata di lokasi air bersih itu sudah ada titik, tapi karena Pemda Maluku Barat Daya tidak melakukan proses pembebasan lahan, sehingga terjadi insiden di sana antara yang punya lahan dengan pemerintah daerah, dan mesti di atur secara baik, supaya bisa melakukan pemboran di titik itu,” tuturnya.
Akan etapi karena Pemda Maluku Barat daya belum melakukan tindakan pembebasan lahan tanpa melalui orang yang punya lahan, sehingga terjadi insiden itu, akhirnya Pemda Maluku Barat Daya memindahkan titik tersebut ke tempat lain, tapi sampai pada hari ini, dan sudah enam kali melakukan pemboran air di sana, tetapi belum mendapatkan air,” terangnya.
Dirinya juga menjelaskan, “Sekarang lagi terkesan sekali ketika muncul di publik, bahwa mereka sudah dapat air di pulau Marsela, tetapi yang kelihatan aneh di situ cara kerja mereka, karena mereka sudah melakukan pemasangan pipanisasi, kemudian mereka juga sudah buat bak penampung, namun yang harus kita ketahui adalah, debit airnya itu berasal dari mana, karena sampai dengan saat ini belum mendapatkan air, tetapi melakukan tindakan-tindakan yang memberikan kepercayaan bagi publik bahwa air sudah ada.
Tambahnya, “Sehingga mereka berupaya untuk menyakinkan publik dengan secara terpaksa mengambil air dari kubangan tempat curah hujan mengendap, lalu mereka pakai bak besar untuk penampungan dan mengatakan di akun sosial media mereka seperti FB, dan sebagainya bahwa air bersih itu sudah ada”.
Sedangkan di Pulau Marsela hari ini sudah terjadi kekeringan panjang diakibatkan kemarau panjang, sehingga masyarakat di sana itu sudah minum air kelapa muda, karena sudah tidak ada curah hujan di sana, padahal cura hujan itulah yang menjadi harapan Meraka untuk tetap mendapatkan air,”paparnya.
Untuk itu, himbauan kami minta dari Pemda Maluku Barat daya juga dari pemerintah pusat, bagaimana rasa peduli sekian dana 16,5 miliar yang dipakai sekarang ini, tapi karena tidak dipakai secara baik, dan sampai pada hari ini masyarakat menderita, maka tidak mungkin lagi pemerintah pusat membantu melihat masyarakat, karena dana itu kalau sudah dikucilkan dan di alokasikan untuk berguna di sana.
Jadi harapan kami, mungkin dari pihak kepolisian Daerah Maluku harus mengambil alih persoalan ini, Karena kami sudah tidak percaya lagi dengan Kepolisian Maluku Barat Daya, sehingga kami tegaskan sekali lagi, kalau bisa kasus ini segera dicabut dan dilimpahkan kembali ke Polda Maluku, untuk menangani kasus ini secara serius,” tutup Kelabora tegas. (Tim)






