OJK Turun ke Ambon 21 Juta Akun Kripto RI, Tapi Literasi Masih Jomplang: “Jangan Terjebak Cuan Buta Risiko!”

MALUKUEXPRESS.COM, Gelombang investasi aset digital di Indonesia meledak, namun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengeluarkan peringatan keras. Di tengah nilai transaksi kripto yang tembus Rp482,23 triliun sepanjang 2025, literasi keuangan masyarakat, khususnya di Kawasan Timur Indonesia, masih tertinggal jauh.

Peringatan ini disampaikan langsung oleh Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, dalam kuliah umum Digital Financial Literacy (DFL) di Aula Rektorat Universitas Pattimura, Senin (4/5/2026). Acara yang digelar sebagai rangkaian Bulan Literasi Kripto (BLK) ini dihadiri sekitar 400 mahasiswa dan sivitas akademika.

“Perkembangan aset kripto yang sangat cepat harus diimbangi pemahaman yang memadai. Masih banyak masyarakat yang terjebak investasi ilegal, penipuan digital, hingga kehilangan aset hanya karena rendahnya kesadaran keamanan digital,” tegas Adi.

Data OJK menunjukkan lonjakan yang mencengangkan: hingga Februari 2026, jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia telah menembus 21 juta. Mayoritas diisi generasi muda yang tertarik pada iming-iming high risk high return. Namun, Adi mengingatkan bahwa volatilitas ekstrem, celah regulasi, risiko keamanan siber, dan faktor psikologis sering kali membuat investor pemula gagal paham dan menanggung kerugian besar.

Kenapa Ambon yang Dipilih?

Penyelenggaraan DFL di Kota Ambon bukan tanpa alasan strategis. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022, Provinsi Maluku masih mengalami kesenjangan tajam. Indeks inklusi keuangan sudah menyentuh 81,04%, tetapi indeks literasinya hanya 40,78%. Artinya, akses sudah luas, tapi pemahaman mengelola risiko—terutama di instrumen spekulatif seperti kripto—masih minim.

“Kegiatan ini bertujuan mendorong pemerataan literasi keuangan digital di Timur Indonesia. Mahasiswa kami harapkan menjadi agen literasi yang mengedukasi masyarakat sekitar, agar kepercayaan publik terhadap inovasi keuangan digital tetap terbangun,” jelas Adi.

Rektor Universitas Pattimura, Prof. Fredy Leiwakabessy, menyambut positif gebrakan OJK. Menurutnya, kecepatan inovasi keuangan digital sering kali melampaui kecepatan regulasi. “Edukasi kepada generasi muda sangat penting agar mereka tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga memiliki pemahaman yang kuat untuk mengambil keputusan keuangan secara bijak dan terhindar dari kerugian,” ujarnya.

Bongkar Mekanisme & Mitigasi Risiko

Selain Adi Budiarso, kuliah umum ini menghadirkan sederet praktisi dan regulator: Direktur Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Ludy Arlianto, CFO Indonesia Crypto Exchange (ICEX) Rizky Indraprasto, Legal & Compliance PT Kripto Maksima Koin Eveline Shinta, serta Head of Marketing PT Multikripto Exchange Indonesia Vincent. Mereka membedah cara kerja aset kripto, strategi mitigasi risiko, hingga panduan membedakan platform legal dan ilegal yang banyak bertebaran di media sosial.

Hadir pula Kepala OJK Provinsi Maluku Haramain Billady, Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan & Sulawesi Barat Mochammad Muchlasin, serta Ketua Umum Asosiasi Blockchain Indonesia Robby, yang menegaskan komitmen kolaborasi lintas sektor.

OJK menegaskan bahwa program DFL akan terus digenjot bersama perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Sasarannya jelas: mencetak masyarakat yang cerdas secara finansial, aman secara digital, dan matang sebelum menyentuh instrumen berisiko tinggi.

Sebelum klik “beli” atau ikut-ikutan tren kripto, pastikan dulu: Sudah paham risikonya, atau hanya tergiur janji cuan instan. (CM)

Pos terkait