Bethesda EXPO 2026, Bukan Sekedar Pameran, Jemaat Didorong Naik Kelas Lewat UMKM, Keterampilan, Seni dan Budaya

Malukuexpess.com, Dentuman gong menandai dimulainya Bethesda Expo 2026, Jumat, 4 September 2026. Namun, di balik kemeriahan pembukaan kegiatan yang berlangsung hingga 6 September itu, tersimpan pesan yang jauh lebih besar: jemaat tidak hanya diajak merayakan, tetapi didorong untuk bertumbuh, mandiri, berkarya, dan naik kelas.

Digelar oleh Jemaat GPM Bethesda sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-91, Bethesda Expo 2026 menyatukan potensi UMKM, keterampilan, seni, budaya, kreativitas, dan talenta warga jemaat dalam satu ruang pemberdayaan.

Bacaan Lainnya

Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Ketua Majelis Jemaat GPM Bethesda bersama Ketua Panitia Hari-Hari Besar Gerejawi (PHHBG) Jemaat GPM Bethesda.

Suara gong itu bukan sekadar tanda dimulainya sebuah expo. Ia menjadi simbol bahwa potensi warga jemaat harus dibuka, diberi ruang, dikembangkan, dan didorong agar mampu memberi dampak nyata bagi keluarga maupun masyarakat.

Bukan Sekadar Expo, Tapi Gerakan Pemberdayaan Jemaat. Ketua Majelis Jemaat GPM Bethesda, Ricky Siahaya, menegaskan bahwa Bethesda Expo merupakan bagian dari keputusan Persidangan Jemaat ke-40, yang secara khusus memberikan perhatian terhadap pengembangan UMKM berbasis keluarga.

Karena itu, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.

Bethesda Expo diarahkan menjadi gerakan berkelanjutan untuk menggali potensi, meningkatkan kapasitas, mempromosikan, sekaligus memperluas pasar produk warga jemaat.

Tak hanya sektor ekonomi, anak-anak jemaat juga diberikan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka melalui pagelaran seni dan budaya.

“Talenta-talenta yang dimiliki anak-anak jemaat harus disalurkan secara proporsional dalam kegiatan-kegiatan hari ini maupun kegiatan selanjutnya,” demikian penegasan Ketua Majelis Jemaat.

Pesan tersebut menegaskan bahwa gereja tidak hanya menjadi ruang pembinaan iman, tetapi juga dapat menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas, keterampilan, kewirausahaan, dan potensi generasi muda.

43 Warga Jemaat Dilatih, Kini Mengantongi Sertifikat. Langkah pemberdayaan bahkan telah dimulai sebelum expo dibuka. Ketua Panitia Bethesda Expo 2026, Carolus Nirahua, S.Pd., M.T., dalam laporannya mengungkapkan bahwa panitia menggandeng Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Provinsi Maluku untuk memberikan pelatihan keterampilan pada 11–23 Agustus 2026.

Sebanyak 43 warga jemaat mengikuti pelatihan yang meliputi : Servis sepeda motor ; Pengelasan; dan Servis pendingin udara atau AC.

Kabar baiknya, seluruh peserta disebut telah menyelesaikan pelatihan dan memperoleh sertifikat.

Ini menjadi salah satu poin penting Bethesda Expo 2026.

Sebab, pemberdayaan tidak hanya berhenti pada memajang produk di stan expo. Warga juga dibekali keterampilan praktis yang dapat menjadi modal untuk bekerja, membuka usaha, dan meningkatkan ekonomi keluarga.

Dengan demikian, Bethesda Expo membawa pesan bahwa pemberdayaan yang sesungguhnya dimulai dari peningkatan kapasitas manusia.

Balai Pelestarian Kebudayaan: Punya Bakat? Kami Buka Ruang Sektor seni dan budaya juga mendapat perhatian serius.

Kehadiran Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku memperkuat pesan bahwa pelestarian budaya membutuhkan ruang kolaborasi yang terbuka bagi siapa saja.

Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku, Piter A. Syaranamual, S.Sos menyampaikan harapan agar kegiatan seperti Pagelaran Budaya dan Bethesda Expo dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan.

Saya mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Pak Ricard Karanelan yang telah memiliki kontribusi dengan memberikan keuntungan penuh untuk langsungkan acara ini sejalan dengan baik. Hal ini menunjukkan kepedulian dan komitmen kita bersama terhadap pelestarian budaya serta pengembangan segi sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat kita.

“Harapan kami ke depannya, event-event seperti ini bisa ditindaklanjuti lagi. Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku membuka ruang bagi siapa saja yang punya bakat dan komunitas. Kami siap memfasilitasi melalui bantuan-bantuan fasilitasi yang ada,” ujarnya.

Pernyataan ini menjadi angin segar bagi para pelaku seni, komunitas, dan generasi muda di Maluku.

Pesannya sederhana tetapi kuat:
Punya bakat, jangan disimpan. Punya komunitas, jangan berjalan sendiri. Ada ruang untuk tumbuh.

Kolaborasi antara komunitas dan pemerintah diharapkan mampu membuat talenta lokal berkembang dari panggung-panggung komunitas menuju panggung daerah, nasional, bahkan internasional.

Budaya Bukan Soal “Dari Mana”, Tetapi Tentang Kebersamaan. Di tengah keberagaman Maluku, terdapat satu pesan penting yang turut disampaikan dalam kegiatan tersebut: budaya tidak boleh menjadi alasan untuk membangun sekat.

Budaya justru harus menjadi jembatan persaudaraan. “Budaya itu bukan dilihat dari dia dari mana, tetapi bagaimana untuk kebersamaan dan memajukan budaya Maluku ini menjadi lebih baik ke depan,” tegas perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku.

Pesan ini menjadi relevan karena Maluku memiliki kekayaan tradisi, seni, bahasa, sejarah, dan ekspresi budaya yang begitu beragam.

Perbedaan bukan untuk dipertentangkan. Perbedaan adalah kekayaan yang jika dirawat dalam semangat kebersamaan dapat menjadi kekuatan besar Maluku.

Karena itu, generasi muda didorong untuk tidak hanya menjadi penonton perkembangan zaman, tetapi menjadi pelaku yang menjaga sekaligus mengembangkan budaya daerah.

Gereja, Pemerintah, Dunia Usaha dan Masyarakat Bergerak Bersama
Bethesda Expo 2026 juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Panitia menyampaikan apresiasi kepada berbagai mitra dan sponsor yang mendukung kegiatan, di antaranya PLN, BNI, Perum BULOG, Pelindo, C51, Maxim, dan Benekol, serta berbagai pihak lainnya.

Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak dapat berjalan sendirian.

Gereja memiliki peran dalam pembinaan dan pengorganisasian jemaat.

Pemerintah membuka akses program dan fasilitasi.

Dunia usaha memberikan dukungan serta peluang.

Sementara masyarakat menjadi aktor utama yang mengembangkan potensi.

Ketika semua unsur bergerak dalam satu arah, expo tidak lagi sekadar menjadi tempat berjualan. Ia berubah menjadi ekosistem pemberdayaan.

Dari Bethesda, Ada Pesan untuk Maluku
Bethesda Expo 2026 pada akhirnya menghadirkan sebuah pesan yang lebih besar daripada sekadar kemeriahan HUT GPM ke-91.

Bahwa gereja dapat mengambil bagian dalam menjawab tantangan kehidupan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi keluarga, peningkatan keterampilan, pengembangan talenta, serta pelestarian seni dan budaya.

Karena itu, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada tahun 2026. Targetnya adalah menjadikan Bethesda Expo sebagai agenda yang semakin matang, semakin luas, dan semakin memberi manfaat bagi warga jemaat.

Pameran UMKM, pagelaran seni budaya, kuliner, berbagai lomba, serta aktivitas warga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang berlangsung 4–6 September 2026.

Dan jika semangat ini terus dijaga, Bethesda Expo berpotensi menjadi lebih dari sekadar agenda internal jemaat.

Ia bisa menjadi model bagaimana komunitas keagamaan mengambil peran nyata dalam membangun ekonomi masyarakat, membuka ruang bagi generasi muda, dan menjaga identitas budaya Maluku.

BETHESDA EXPO 2026, Panggung Untuk Bertumbuh, Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar seremoni. Mereka membutuhkan ruang.
Ruang untuk belajar.
Ruang untuk bekerja.
Ruang untuk berkreasi.
Ruang untuk menjual karya.
Ruang untuk menunjukkan bakat.
Dan ruang untuk menjaga budaya.
Bethesda Expo 2026 mencoba menghadirkan ruang itu.
Sebab Bethesda Expo bukan sekadar panggung untuk tampil.
Bethesda Expo adalah panggung untuk bertumbuh.

Momentum HUT GPM ke-91 pun diharapkan menjadi energi baru bagi seluruh warga GPM untuk terus bergerak, berkarya, bersinergi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Maluku.

Penutupan pada Minggu, 6 September 2026, dengan pembagian hadiah, makan patita bersama sembilan sektor, dan doa penutup menjadi penegasan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini berakar pada satu kekuatan utama: kebersamaan.

Dari jemaat, lahir pemberdayaan.
Dari keterampilan, lahir kemandirian.
Dari UMKM, tumbuh ekonomi keluarga.
Dari talenta, lahir masa depan.
Dari budaya, tumbuh persaudaraan.
Dan dari Bethesda, sebuah pesan dikirimkan untuk Maluku:
JANGAN HANYA MERAYAKAN POTENSI. BANGUN, KEMBANGKAN, DAN BERDAYAKAN POTENSI ITU UNTUK MASA DEPAN.

Selamat HUT Gereja Protestan Maluku ke-91. Kiranya Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja, senantiasa menyertai, memberkati, dan memampukan seluruh warga GPM untuk terus bergerak, berkarya, bersinergi, serta menghadirkan manfaat nyata bagi gereja, keluarga, masyarakat, dan Maluku. (CM)

Pos terkait