MALUKUEXPRESS.COM, Tak ada yang menyangka, Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka menyambut HUT ke-451 Kota Ambon yang berlangsung Jumat (4/9), berakhir dengan suasana penuh haru.
Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena tiba-tiba tak mampu menahan air mata ketika memasuki penghujung pidatonya.
Di hadapan jajaran DPRD Kota Ambon, pimpinan OPD, serta undangan yang hadir, Bodewin mengenang perjalanan dua tahun memimpin Kota Ambon bersama Wakil Wali Kota Ely Toisutta.
Nada bicaranya berubah. Emosi yang sejak awal berusaha ditahan akhirnya pecah. Air mata pun jatuh.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya sebuah momen emosional. Namun bagi Bodewin, tangisan tersebut menjadi gambaran dari perjalanan panjang yang tidak selalu mudah dalam menjalankan roda pemerintahan dan membangun Kota Ambon.
“TIDAK MUDAH” MEMIMPIN KOTA AMBON
Bodewin secara terbuka mengakui bahwa membangun dan menjalankan pemerintahan Kota Ambon bukan pekerjaan ringan.
Berbagai persoalan dan tantangan harus dihadapi. Pada saat yang sama, seluruh OPD dituntut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab secara maksimal demi kepentingan masyarakat.
Dalam perjalanan tersebut, ketegasan sebagai pemimpin pun tidak bisa dihindari.
Bodewin mengaku dirinya bersama Wakil Wali Kota Ely Toisutta beberapa kali harus memberikan teguran keras kepada jajaran OPD ketika pekerjaan dinilai belum berjalan optimal.
Namun, menurutnya, ketegasan tersebut bukan lahir dari kebencian.
Sebaliknya, itu merupakan bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin untuk memastikan roda pemerintahan tetap bergerak dan pelayanan kepada masyarakat tidak boleh berhenti.
DI BALIK KETEGASAN, ADA RASA TERIMA KASIH
Dan ketika sampai pada bagian ucapan terima kasih kepada jajaran yang selama ini bekerja bersamanya, emosi Bodewin tak lagi terbendung.
Ia menyampaikan apresiasi kepada para pimpinan OPD dan seluruh jajaran Pemkot Ambon yang telah menjadi bagian dari perjalanan kepemimpinannya.
Dua tahun bukan waktu yang sebentar.
Ada pekerjaan yang berhasil diselesaikan, ada tantangan yang masih harus dihadapi, ada kritik yang harus diterima, dan ada keputusan-keputusan sulit yang harus diambil.
Semua itu dilalui bersama.
Karena itu, tangisan Bodewin di penghujung pidato terasa berbeda.
Di balik seorang pemimpin yang selama ini tampil tegas, publik melihat sisi manusiawinya.
Seorang pemimpin yang ternyata menyimpan banyak beban, perjuangan, sekaligus rasa terima kasih kepada orang-orang yang telah berjalan bersamanya.
AIR MATA YANG MENJADI PESAN
Momen tersebut kemudian menjadi salah satu bagian paling menyentuh dalam Rapat Paripurna Istimewa HUT ke-451 Kota Ambon.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada nada tinggi.
Hanya suara yang bergetar dan air mata yang jatuh.
Seolah Bodewin ingin mengatakan bahwa perjalanan membangun Ambon tidak pernah dilakukan seorang diri.
Ada birokrasi. Ada OPD. Ada DPRD. Ada masyarakat. Dan ada banyak orang yang bekerja dalam diam agar roda pemerintahan tetap berjalan.
Air mata itu menjadi simbol bahwa di balik jabatan dan kekuasaan, seorang pemimpin tetaplah manusia yang bisa lelah, bisa tersentuh, dan bisa terharu ketika mengenang perjalanan yang telah dilalui bersama.
HUT ke-451 Kota Ambon akhirnya tidak hanya menjadi momentum mengenang usia sebuah kota.
Tetapi juga menjadi panggung refleksi tentang perjalanan, pengabdian, kebersamaan, dan harapan untuk masa depan Ambon.
Dan Jumat itu, air mata Bodewin menjadi bagian dari cerita yang mungkin akan lebih lama dikenang daripada pidatonya sendiri. (CM)






