Malukuexpress.com, Dobo 4 Febuari 2026
Tragedi laut kembali mengguncang Kepulauan Aru. KM Indo Perkasa 03, kapal pengangkut cumi-cumi berbobot 26 GT, dilaporkan tenggelam di Perairan Pulau Wasir (Toba) Utara, menyisakan tujuh Anak Buah Kapal (ABK) yang hingga kini belum ditemukan. Yang paling mengkhawatirkan, empat orang di antaranya diduga tidak sempat menyelamatkan diri saat kapal mulai telungkup.
Insiden tersebut terjadi pada Senin pagi, 2 Februari 2026, namun baru diterima secara resmi oleh Tim SAR terkait lebih dari 24 jam kemudian. Keterlambatan laporan ini menambah panjang daftar persoalan dalam penanganan kecelakaan laut di wilayah timur Indonesia.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, cuaca di sekitar Pulau Wasir berubah ekstrem secara cepat. Angin kencang dan gelombang tinggi mulai menghantam kapal sekitar pukul 07.00 WIT. Setengah jam berselang, kapal kehilangan stabilitas dan terbalik di tengah laut lepas. Pada pukul 08.00 WIT, KM Indo Perkasa 03 dilaporkan tenggelam sepenuhnya.
Nahkoda bersama ABK yang berada di dek atas berusaha melakukan evakuasi darurat dan meminta pertolongan. Namun kondisi laut yang ganas membuat proses penyelamatan berlangsung sangat terbatas. KM Bahtera Nuh baru tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WIT dan berhasil mengevakuasi sembilan ABK dalam kondisi selamat.
Sementara itu, tujuh ABK lainnya dinyatakan hilang. Tiga orang diduga hanyut terbawa arus kuat Laut Arafura, sedangkan empat orang lainnya diyakini berada di kamar mesin saat kapal terbalik, sehingga tidak sempat keluar menyelamatkan diri.
BMKG mencatat, wilayah perairan Maluku, termasuk Kepulauan Aru, tengah berada dalam status peringatan gelombang tinggi dengan ketinggian mencapai empat meter dan kecepatan angin hingga 20 knot. Kondisi ini dinilai sangat berisiko bagi kapal perikanan, terutama kapal dengan ukuran menengah.
Hingga kini, operasi pencarian Tim SAR Gabungan masih terus dilakukan meski terkendala cuaca ekstrem. Tragedi ini kembali menjadi pengingat keras akan kerentanan nelayan dan ABK di tengah cuaca laut yang kian sulit diprediksi, sekaligus menuntut evaluasi serius terhadap standar keselamatan pelayaran di wilayah Aru.(CM)






