MALUKUEXPRESS.COM
AMBON,— Suasana Karnaval HUT Kota Ambon sore itu berubah menjadi lautan kegembiraan. Ratusan anak sekolah dan komunitas Moluccan Jukulele dari berbagai penjuru Kota Ambon sekolah dan communitas tampil memukau dengan alat musik khas yang mereka mainkan sepanjang perjalanan karnaval.
Bukan sekadar berjalan, anak-anak ini membuat ruas jalan menjadi panggung terbuka. Petikan jukulele berpadu dengan nyanyian, senyum, kostum bernuansa tradisional ciri khas Ambon baju cele,serta Hawaii, serta tepuk tangan penonton yang memadati sisi jalan.
Keceriaan mereka seolah tidak mengenal lelah. Dari titik awal hingga garis akhir, anak-anak terus memainkan jukulele dengan penuh semangat. Guru, orang tua, serta pendamping komunitas turut berjalan bersama memastikan anak-anak tetap aman dan nyaman sepanjang rute yang telah disiapkan panitia.
Karnaval ini dimulai dari Gong Perdamaian Dunia, kawasan Lapangan Merdeka Ambon, 7 September 2026 kemudian peserta menempuh rute yang telah ditentukan oleh panitia dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Maluku, sebelum akhirnya kembali dan berakhir di kawasan Lapangan Merdeka Ambon.
Pemandangan tersebut sontak menjadi perhatian masyarakat. Setiap kali rombongan jukulele melintas, tepuk tangan dan sorakan penonton terdengar. Anak-anak yang tampil justru terlihat semakin bersemangat memainkan instrumen mereka.
Bagi masyarakat Ambon, penampilan tersebut bukan hanya hiburan. Jukulele yang dimainkan ratusan anak menjadi simbol bagaimana musik, budaya, kreativitas, pendidikan dan kebersamaan dapat tumbuh bersama di kalangan generasi muda.
“Jukulele Beta suka se Kota Ambon!”
Ungkapan sederhana itu seakan menggambarkan suasana karnaval. Anak-anak berjalan dengan wajah ceria, memainkan jukulele, sementara orang tua dan guru berdiri di belakang mereka dengan rasa bangga.
23 Kelompok Ramaikan Karnaval
Sedikitnya 23 sekolah dan komunitas jukulele ikut mengambil bagian dalam karnaval tersebut, dengan jumlah peserta mencapai ratusan anak dan anggota komunitas.
Peserta yang tercatat antara lain:
D’S Juk — 15 anak
Anugerah — 25 anak
Mawar Juk — 25 anak
AUKC — 25 anak
Sanggar Amarisa — 15 anak
SDN 31 Ambon — 15 anak
Gagartang Jukulele (SD Inpres 20 Ambon) — 20 anak
Sixty Five Jukulele — 25 anak
Manga Dua City Blessing — 15 orang
Yakarima Jukulele — 25 anak
Ghanemo Jukulele — 27 orang
de MIX Community — 20 orang
Jukulele Karmel Kids — 29 orang
Jukulele Lion Kid — 10 anak
SD 1 Hative Besar — 20 anak
D’Juk Home Tree — 20 anak
Jukulele SD 84 Ambon — 15 orang
Jukulele SD 85 Ambon — 15 orang
Jukulele SD Teladan Ambon — 15 orang
Jukulele Kalawai Nalawano
Jukulele Sama Sima — 20 orang
Tahuri Jukulele — 15 orang
GNB Jukulele — 17 orang
Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa jukulele bukan sekadar alat musik, tetapi telah menjadi bagian dari ekspresi budaya dan ruang kreativitas anak-anak di Kota Ambon.
Menariknya, kebutuhan transportasi masing-masing peserta ditanggung oleh komunitas masing-masing. Semangat swadaya tersebut semakin memperlihatkan kuatnya dukungan keluarga, guru dan komunitas terhadap kegiatan seni anak-anak.
Dari Anak Ambon untuk Ambon
Di tengah kemeriahan HUT Kota Ambon, aksi ratusan anak jukulele ini menjadi salah satu pemandangan yang paling mencuri perhatian.
Mereka tidak datang membawa kemewahan. Mereka datang membawa jukulele, semangat, kreativitas dan kebanggaan sebagai anak-anak Ambon.
Petikan senar demi senar yang mereka mainkan sepanjang jalan seakan menyampaikan pesan sederhana: budaya akan tetap hidup jika generasi muda diberi ruang untuk mencintai dan memainkannya.
Karnaval pun bukan lagi sekadar parade. Ia berubah menjadi panggung besar bagi anak-anak Ambon untuk menunjukkan bahwa musik, budaya dan kegembiraan bisa menyatukan satu kota.
Dan sore itu, Ambon tidak hanya merayakan hari jadinya.
Ambon sedang melihat wajah masa depannya—ratusan anak yang berjalan sambil memainkan jukulele dengan senyum, bangga dan penuh semangat.
Semangat terus Anak anak Moluccan Jukulele Beta suka se Kota Ambon. (CM)






