MALUKUEXPRESS.COM
HARUKU,MALUKU TENGAH-Sasi Lompa, Kewang, dan Warisan Leluhur yang Mengajarkan Dunia Arti Menjaga Alam
Ketika ikan terlihat melimpah, manusia biasanya berpikir untuk menangkap sebanyak-banyaknya.
Tetapi masyarakat Negeri Haruku memilih jalan yang berbeda.
Mereka justru menunggu.
Di Kali Learisa Kayeli, ketika ribuan ikan lompa bergerak mengikuti arus dan air sungai berkilauan diterpa matahari, tidak ada jaring yang ditebar. Tidak ada tangan yang berebut menangkap.
6 September 2026
Di mulut sungai berdiri matakau—sebatang kayu yang dihiasi janur kelapa.
Sederhana.
Namun bagi masyarakat Haruku, tanda itu membawa pesan yang sangat kuat:
“Belum waktunya mengambil. Biarkan kehidupan tumbuh.”
Itulah Sasi Lompa.
Sebuah warisan adat yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.
Sasi bukan sekadar larangan menangkap ikan.
Sasi adalah kesepakatan manusia dengan alam.
Ketika sasi diberlakukan, masyarakat menahan diri. Ikan lompa dibiarkan tumbuh dan berkembang. Sungai dijaga. Eksploitasi dihentikan.
Bukan karena masyarakat tidak membutuhkan ikan.
Justru karena mereka memahami satu hal yang sering dilupakan manusia modern:
Jika semuanya diambil hari ini, apa yang akan tersisa untuk hari esok?
KEWANG: PENJAGA YANG MEMASTIKAN JANJI ADAT TETAP HIDUP
Di balik pelaksanaan sasi terdapat Kewang, lembaga adat yang memiliki peran penting dalam menjaga aturan dan kelestarian lingkungan.
Hutan, sungai, pesisir hingga laut tidak dipandang sekadar sebagai sumber ekonomi.
Semuanya adalah bagian dari kehidupan.
Kewang hadir untuk memastikan bahwa aturan yang diwariskan leluhur tidak hanya menjadi cerita yang diceritakan dari mulut ke mulut, tetapi benar-benar dijalankan.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar keuntungan, masyarakat Haruku menunjukkan bahwa menjaga alam juga membutuhkan disiplin, keberanian dan kesabaran.
TIFA, TAHURI, DAN KAPATA: KETIKA INGATAN LELUHUR BERBICARA
Dalam rangkaian adat, suara tifa dan tahuri berpadu dengan kapata, syair dan ungkapan yang diwariskan antargenerasi.
Kemudian terdengar seruan:
“Sirewei…!”
Sebuah seruan yang menjadi bagian dari ekspresi adat dan tekad untuk menghormati aturan yang telah disepakati.
Kapata bukan sekadar nyanyian.
Ia adalah ingatan.
Ingatan tentang leluhur.
Ingatan tentang aturan.
Ingatan tentang hubungan manusia dengan alam.
Dan setiap kali diwariskan kembali, masa lalu seakan datang untuk mengingatkan generasi hari ini:
Bahwa manusia tidak hidup sendirian.
BERBULAN-BULAN MENUNGGU, HINGGA TIBA SAATNYA “BUKA SASI”
Selama sasi berlangsung, masyarakat menahan diri.
Ikan dibiarkan berkembang.
Sungai dijaga.
Aturan dihormati.
Manusia belajar bahwa tidak semua yang tersedia harus segera diambil.
Kemudian tiba waktunya.
Buka Sasi.
Learisa Kayeli seketika berubah menjadi ruang kegembiraan.
Anak-anak turun ke air.
Orang tua ikut menangkap.
Jaring tradisional bergerak di antara riak sungai.
Tawa pecah.
Air terciprat.
Ikan lompa dibawa pulang untuk menjadi santapan keluarga.
Namun yang sesungguhnya dipanen masyarakat Haruku hari itu bukan hanya ikan.
Mereka memanen kesabaran.
Mereka memanen kepatuhan.
Mereka memanen hasil dari sebuah kesepakatan bersama.
Dan yang paling penting, mereka kembali merasakan buah dari warisan leluhur yang masih hidup.
SASI LOMPA BUKAN SEKADAR TRADISI—INI PESAN UNTUK DUNIA
Di tengah ancaman sampah plastik, perubahan lingkungan, tekanan terhadap ekosistem laut dan sungai, serta derasnya perubahan zaman, keberadaan Sasi Lompa menjadi semakin relevan.
Sebab pertanyaan yang dihadapi manusia hari ini sebenarnya sederhana:
Apakah kita ingin mengambil sebanyak-banyaknya hari ini, atau menjaga agar kehidupan tetap tersedia untuk generasi berikutnya?
Haruku telah memberikan jawabannya sejak lama.
Jaga dulu. Ambil kemudian.
Masyarakat Haruku tidak hanya mempertahankan ikan lompa.
Mereka mempertahankan identitas.
Mereka mempertahankan adat.
Mereka mempertahankan sungai.
Mereka mempertahankan laut.
Mereka mempertahankan pengetahuan leluhur.
Dan pada akhirnya, mereka mempertahankan sesuatu yang jauh lebih besar:
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM.
Di tepian Learisa Kayeli, matakau mungkin hanya terlihat seperti sebatang kayu dengan hiasan janur.
Tetapi maknanya jauh melampaui bentuknya.
Ia adalah simbol sebuah janji:
Belum waktunya mengambil.
Biarkan kehidupan tumbuh.
Jagalah hari ini, agar anak cucu masih memiliki hari esok.
Mungkin inilah pelajaran paling sederhana—sekaligus paling dalam—yang diberikan Haruku kepada dunia:
Alam tidak selalu meminta kita melakukan sesuatu.
Kadang alam hanya meminta kita berhenti mengambil.
Selama tifa masih ditabuh, tahuri masih ditiup, kapata masih diwariskan, Kewang masih berdiri menjaga, dan seruan “Sirewei!” masih menggema—
hikayat Sasi Lompa di Haruku akan terus hidup.
Bukan hanya sebagai cerita masa lalu.
Tetapi sebagai warisan yang dijaga untuk masa depan.
HARUKU TIDAK HANYA MENJAGA IKAN.
HARUKU SEDANG MENJAGA MASA DEPAN.
HORMATE. (CM)




