TIGA TAHUN DI MALUKU, TODD DIAS PAMIT: “MALUKU SANGAT DEKAT DENGAN AUSTRALIA”

MALUKUEXPRESS.COM, AMBON, — Setelah tiga tahun memperkuat hubungan Australia dengan Indonesia bagian timur, Konsul-Jenderal Australia di Makassar Todd Dias resmi mengakhiri masa tugasnya dan akan kembali ke Canberra untuk menjalankan penugasan baru di Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT)., 10 Agustus 2026

Kepergian Dias bukan sekadar pergantian diplomat. Selama masa tugasnya, ia meninggalkan sejumlah jejak kerja sama yang bersentuhan langsung dengan masyarakat Maluku, mulai dari pendidikan, tata kelola pemerintahan, pemberdayaan nelayan, hingga konservasi lingkungan.

Melalui program Australia-Indonesia SKALA, Australia turut mendukung penguatan tata kelola pemerintahan sub-nasional. Sementara melalui INOVASI, kerja sama dilakukan bersama empat wilayah di Maluku—Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Maluku Tenggara, dan Kota Ambon—untuk meningkatkan kompetensi guru serta mendukung pembelajaran berbasis bahasa ibu.

Dukungan Australia juga menyentuh masyarakat tingkat desa. Melalui Direct Aid Program, dilakukan restorasi ekosistem mangrove di Desa Poka, Ambon, melalui penanaman kembali dan konservasi berbasis masyarakat.

Di Desa Kairatu, Seram Bagian Barat, perhatian diarahkan kepada kelompok nelayan. Bantuan rumpon diberikan untuk membantu meningkatkan hasil tangkapan, sekaligus disertai pelatihan pengolahan hasil laut menjadi produk turunan seperti abon dan bakso ikan agar dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga.

Bukan Sekadar Diplomasi, Tetapi Membangun Kedekatan
Selama menjabat, Dias dikenal aktif membangun hubungan dengan masyarakat di wilayah yurisdiksinya yang mencakup 12 provinsi, termasuk Maluku.

Ia turut mendukung berbagai kegiatan yang mempertemukan masyarakat Australia dan Maluku, antara lain Darwin-Ambon Yacht Race, Darwin-Saumlaki Yacht Race, Darwin-Banda Yacht Race, serta peringatan ANZAC Day di Ambon.

Pada 2025, Dias juga mengunjungi Maluku bersama Duta Besar Australia Rod Brazier. Secara keseluruhan, Dias tercatat mengunjungi Maluku sebanyak empat kali, termasuk Ambon, Pulau Seram, dan Saumlaki.

Namun, di balik agenda diplomasi tersebut, Dias menyebut ada alasan historis yang membuat Maluku memiliki posisi sangat penting bagi Australia.
“Maluku sangat dekat Australia dan ada lebih dari 1.000 prajurit Australia dimakamkan di sini, jadi mungkin ini adalah salah satu provinsi Indonesia yang paling penting bagi Australia,” ujar Dias dalam pernyataan perpisahannya.

Dias mengaku berat meninggalkan Maluku setelah tiga tahun menjalankan tugas.
“Sangat sedih bagi saya harus menyelesaikan masa tugas saya, tetapi saya merasa bahagia dan bangga karena telah memberikan yang terbaik selama tiga tahun terakhir untuk mempererat hubungan kedua negara kita,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas persahabatan, dukungan, dan kehangatan yang diterimanya dari masyarakat serta para mitra kerja di Maluku.

Tongkat Estafet Berlanjut
Meski Dias meninggalkan Indonesia, kerja sama yang telah dibangun dipastikan tidak berhenti.

Todd Dias akan kembali ke Australia dan menjalankan penugasan baru di DFAT, Canberra. Sementara posisi Konsul-Jenderal Australia di Makassar selanjutnya akan diteruskan oleh Sanchi Davis, yang juga fasih berbahasa Indonesia.

Pergantian ini menjadi babak baru hubungan Australia dengan Indonesia bagian timur.
Bagi Maluku, tiga tahun kepemimpinan Dias meninggalkan pesan penting: diplomasi tidak hanya berlangsung di meja perundingan, tetapi juga dapat hadir melalui sekolah, desa, laut, mangrove, kebudayaan, dan hubungan antarmasyarakat.

Kini, tongkat estafet telah berpindah. Tantangannya adalah memastikan berbagai kerja sama yang telah tumbuh selama tiga tahun terakhir tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi terus berkembang menjadi kemitraan Australia–Maluku yang semakin kuat.(CM)

Pos terkait