USIA 80 TAHUN, ALBERT RALAHALU MASIH MEMIMPIN: “PENGABDIAN BELUM PENSIUN”

MALUKUEXPRESS.COM
AMBON — Jejak Karier Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Karel Albert Ralahalu adalah Gubernur Maluku yang menjabat selama dua periode dari tahun 2003 hingga 2013. Ia merupakan purnawirawan perwira tinggi TNI-AD lulusan Akademi Militer tahun 1972 dari kecabangan infanteri.Profil dan Karier MiliterLahir: 6 Januari 1946 di Allang, Maluku.Pangkat Terakhir: Brigadir Jenderal TNI (Jenderal bintang satu).Jabatan Militer Penting:Kepala Staf Daerah Militer (Kasdam) XVII/Trikora.Komandan Korem (Danrem) 174/Pattimura (sebelumnya Korem 171/Pattimura).

Usia boleh 80 tahun. Rambut boleh memutih. Seragam militer telah lama dilepas. Namun bagi Mayor Jenderal TNI (Purn) Albert Ralahalu, satu hal ternyata tidak pernah pensiun: pengabdian kepada bangsa dan negara.
Di tengah penghormatan bagi para veteran dan purnawirawan TNI Angkatan Darat di Ambon, 12 Agustus 2026 di Kodam XV/ Pattimura.

Ralahalu kembali mencuri perhatian. Bukan karena pangkatnya, bukan pula karena masa lalunya sebagai prajurit yang pernah berada di berbagai medan operasi, tetapi karena di usia senja ia masih berdiri di garis depan memimpin organisasi para pejuang dan purnawirawan di Maluku.

Ralahalu dipercaya memimpin DPD Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Provinsi Maluku, PPAD, serta organisasi purnawirawan lainnya.

Di hadapan jajaran TNI, pemerintah daerah, veteran, purnawirawan dan masyarakat Kota Ambon, Ralahalu menyampaikan pesan yang sontak mengingatkan publik bahwa bagi seorang prajurit, pensiun bukan akhir dari pengabdian.

“Selama negara membutuhkan, kami siap memegang senjata untuk membantu mempertahankan negara dan bangsa kita.”
Kalimat itu keluar dari seorang veteran berusia 80 tahun yang bukan hanya berbicara tentang pengabdian, tetapi pernah menjalaninya di medan tugas.

DARI TIMOR-TIMUR, ACEH HINGGA PAPUA

Ralahalu mengenang perjalanan panjangnya sebagai prajurit. Ia mengungkapkan pernah terlibat dalam operasi di Timor-Timur sejak 7 Desember 1975, ketika masih berpangkat perwira menengah.

Setelah itu, perjalanan pengabdiannya berlanjut ke berbagai wilayah penugasan, termasuk Aceh dan Papua.
“Memang hidup saya itu hanya di daerah pertempuran,” ujarnya mengenang masa-masa panjang pengabdiannya.

Karier militernya pun terus menanjak. Ia pernah dipercaya sebagai Komandan Korem 171, kemudian menjalankan berbagai penugasan di lingkungan TNI Angkatan Darat hingga akhirnya mengemban jabatan Kasdam sebelum memasuki masa pensiun.

Namun sejarah panjang itu tidak membuatnya memilih menjauh dari dunia pengabdian.
Justru sebaliknya.

“SEMUA LARI KE JAKARTA, AKHIRNYA YANG TINGGAL SAYA DI SINI”

Ada satu bagian dari sambutan Ralahalu yang terasa sangat kuat dan menggambarkan realitas para purnawirawan di daerah.
Ia mengaku banyak purnawirawan setelah pensiun memilih kembali ke Jakarta atau Jawa. Sementara di Maluku, semakin sedikit tokoh senior yang tetap bertahan dan aktif mengurus organisasi para veteran dan purnawirawan.

“Kalau sudah pensiun, semua lari ke Jakarta, ke Jawa. Akhirnya yang tinggal saya di sini,” ungkapnya.
Kalimat sederhana itu justru menjadi potret tentang kesetiaan seorang putra daerah yang memilih tetap tinggal dan mengabdi di Maluku.

Di saat banyak orang memilih menikmati masa tua dengan kehidupan yang lebih tenang, Ralahalu masih menerima tanggung jawab organisasi dan menjadi tempat bersandar para veteran, purnawirawan serta sesepuh TNI di Maluku.

80 TAHUN, TETAPI MASIH MENJADI “PENJAGA” SEMANGAT PARA PEJUANG

Bagi Ralahalu, veteran bukan sekadar status.
Veteran adalah sejarah hidup bangsa.
Karena itu, penghormatan kepada veteran tidak boleh berhenti pada upacara, pemberian penghargaan atau seremoni tahunan. Ada nilai perjuangan, loyalitas dan pengabdian yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia juga menegaskan bahwa para purnawirawan tetap merupakan bagian dari kekuatan moral bangsa.
Mereka mungkin telah meninggalkan dinas aktif, tetapi semangat mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak ikut pensiun.

Dan Ralahalu menjadi salah satu contoh paling nyata.

Bukan Sekadar Veteran, Tetapi Simbol Pengabdian yang Belum Padam
Delapan puluh tahun adalah usia ketika sebagian orang mulai mengurangi aktivitas.

Namun Albert Ralahalu masih memimpin.
Masih hadir.
Masih berbicara.
Masih mengingat medan pengabdian.
Dan yang paling penting, masih merasa bertanggung jawab terhadap negeri yang pernah ia bela dengan nyawa.

Pesannya sederhana tetapi tajam:
Pangkat boleh berakhir. Jabatan boleh berganti. Seragam boleh dilepas. Tetapi pengabdian kepada bangsa tidak mengenal kata pensiun.

Dari Ambon, kisah Albert Ralahalu kembali mengingatkan Indonesia bahwa di balik rambut putih para veteran, ada sejarah panjang perjuangan yang tidak boleh dilupakan.

Usia 80 tahun bukan akhir perjalanan.
Bagi Albert Ralahalu, justru menjadi bukti bahwa selama napas masih ada, selama bangsa membutuhkan, seorang pejuang akan tetap berdiri.(CM)

Pos terkait