MX.COM, Denting lonceng Vihara berpadu doa. Sabtu 31/5/2026, umat Buddha di Ambon dan seluruh dunia memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE. Di tengah derasnya arus teknologi dan gejolak global, pesan yang mengemuka justru sederhana namun menusuk, kendalikan diri, maka dunia akan damai_.
Pesan itu disampaikan Y.M. Bhikkhu Siriratano Mahāthera saat memaknai Waisak tahun ini. Baginya, Waisak bukan sekadar seremoni, tapi momentum refleksi paling penting bagi manusia modern.
Bhikkhu Siriratano menjelaskan kenapa Waisak disebut “Tri Suci”. Tiga peristiwa agung Sang Buddha Gautama terjadi di bulan purnama Waisak yang sama.
“Tiga peristiwa tersebut adalah kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama, pencapaian Penerangan Sempurna yang menjadikannya Buddha, serta Parinibbana atau wafatnya Sang Buddha,” ujarnya.
Karena itu, Waisak jadi hari paling sakral bagi umat Buddha sedunia. Tapi maknanya jauh lebih luas dari sejarah.
Di era AI, media sosial, dan konflik tanpa henti, Bhikkhu Siriratano menunjuk 3 pilar ajaran Buddha yang paling relevan kebajikan, sila/moralitas, dan samadhi/pengendalian diri.
“Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan moralitas dan kebijaksanaan. Jika tidak, maka kemajuan yang ada justru dapat memicu berbagai persoalan dan ketidakharmonisan dalam kehidupan manusia,” katanya.
Ia mengingatkan: dunia tidak kekurangan teknologi, tapi kekurangan orang yang bisa “ngerem” diri sendiri.
“Dunia saat ini membutuhkan lebih banyak individu yang mampu mengendalikan diri, menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan agar tetap berada dalam koridor kebajikan. Dengan demikian, kehidupan yang damai, harmonis, dan penuh toleransi dapat terwujud,” tegasnya.
Yang menarik, pesan Waisak 2570 BE ini sengaja ditekankan bersifat universal. Bukan hanya untuk umat Buddha.
“Melalui Mawas diri, penghormatan terhadap sesama, serta semangat menebarkan kasih sayang, setiap orang dapat berkontribusi dalam menciptakan perdamaian. Dari diri yang damai akan lahir keluarga yang damai, masyarakat yang damai, hingga dunia yang damai,” ungkap Bhikkhu Siriratano.
Ia menutup dengan harapan: semoga Waisak jadi tombol “restart” kemanusiaan.
“Peringatan Waisak hendaknya menjadi pengingat bagi seluruh umat manusia untuk terus menumbuhkan kebajikan dan mawas diri. Sebab, perdamaian dunia sesungguhnya berawal dari kedamaian dalam diri setiap individu,” pungkasnya tutup. (*






