MalukuExpress.com, Fenomena maraknya pemasangan bendera bajak laut One Piece di berbagai tempat di Ambon dan wilayah Maluku menjadi sorotan publik. Menanggapi hal tersebut, Ketua KNPI Maluku, Arman Lessy, memberikan pandangan kritis sekaligus ajakan untuk menjaga semangat nasionalisme generasi muda.
Dalam wawancara singkat bersama MalukuExpress.com, Arman menjelaskan bahwa secara kreatif, bendera dalam serial One Piece memang diciptakan sebagai simbol perlawanan terhadap sistem yang dianggap tidak adil. Namun, ia menekankan agar semangat kritis anak muda tidak mengikis rasa cinta tanah air.
> “Kita tidak anti terhadap kreativitas anak muda, tapi kalau bisa semangat itu disalurkan secara positif. Misalnya, tokoh Luffy justru dikampanyekan mengibarkan bendera merah putih. Kreatif boleh, tapi nasionalisme harus tetap dijaga,” ujar Arman.
Arman juga mengingatkan aturan yang berlaku terkait pengibaran bendera. Menurutnya, bendera non-negara tidak boleh berada pada satu tiang dengan bendera merah putih. Hal ini demi menghormati perjuangan para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan.
> “Kalau mau pasang bendera One Piece silakan, tapi harus di tiang terpisah. Jangan sampai marwah merah putih disandingkan dalam posisi yang merendahkan,” tegasnya.
Menanggapi pertanyaan terkait sikap TNI-Polri, Arman mengatakan bahwa aparat tentu memegang doktrin menjaga keutuhan NKRI dan wajib mendeteksi potensi ancaman sejak dini. Ia mengingatkan bahwa simbol-simbol populer bisa saja disusupi ideologi tertentu, termasuk yang bersifat anarkis atau provokatif.
Lebih lanjut, Arman mengaitkan fenomena ini dengan sejarah simbol perlawanan di berbagai negara, seperti gerakan Zapatista di Meksiko, yang memanfaatkan bendera berwarna hitam atau kombinasi warna sebagai identitas perjuangan. Menurutnya, di era digital yang tanpa batas, simbol-simbol tersebut bisa dengan cepat memengaruhi generasi muda, bahkan berpotensi melahirkan gerakan “lone wolf” berbasis ideologi baru.
> “Sekarang semua orang bisa mempelajari apa saja dari internet. Negara tidak boleh antipati terhadap perlawanan yang sehat, tapi harus memastikan simbolnya tepat. Marwah merah putih tidak boleh disamakan dengan simbol kartun, karena itu bentuk pelecehan terhadap simbol negara,” tambahnya.
Di akhir wawancara, Arman memberi pesan kepada generasi muda Maluku untuk tetap kritis namun mematuhi aturan yang ada. Kreativitas, menurutnya, justru akan lebih bermakna jika diarahkan untuk membangkitkan semangat persatuan dan kebanggaan terhadap Indonesia. (CM)






