Ketua Permabudhi Maluku Apresiasi Workshop Pembuatan Sabun ECO Enzyme, Dorong Kesadaran Jaga Lingkungan Lintas Agama

MALUKUEXPRESS.COM, AMBON — Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Provinsi Maluku, Alin Tjoa Pinontoan, memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan Workshop Peran Pemuda Antar Iman dalam Pelatihan Pembuatan Sabun ECO Enzyme dari Limbah Dapur. Kegiatan ini digagas oleh Majelis Pekerja Klasis GPM Kota Ambon dan berlangsung selama dua hari, 22-23 Agustus 2025, di Lakpona Maili Bengkel Kalesang Bere-Bere.

Bacaan Lainnya

Workshop ini menghadirkan pemateri dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Dinas DLHP Kota Ambon, serta W. Romuty, pendiri komunitas Mama Sadar Lingkungan (Madarling), sebagai narasumber utama. Kegiatan ini diikuti oleh beragam peserta, di antaranya 21 jemaat Klasis GPM Kota Ambon, Permabudhi (4 peserta), umat Katolik (3 peserta), umat Hindu (2 peserta), enam denominasi gereja lain, serta perwakilan komunitas Muslim dari Air Mata Cina, Batu Merah, dan Waihaong.

Menurut Alin, kegiatan ini memiliki nilai penting karena mengajarkan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola limbah dapur dengan mengolahnya menjadi produk bermanfaat.

“Kita diajarkan bagaimana meminimalisir limbah dengan memprosesnya menjadi hal-hal yang berguna, seperti ECO Enzyme, bantal kesehatan berbahan ECO Enzyme, dan salah satunya sabun cair ECO Enzyme yang kita pelajari hari ini,” ungkap Alin usai kegiatan, Sabtu (23/8/2025).

Lebih lanjut, Alin menekankan bahwa dalam ajaran Buddha — dan juga hampir semua agama — manusia dan alam adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

“Alam bukan sesuatu yang harus dieksploitasi, melainkan sesuatu yang harus dijaga. Kita hidup dari alam, maka jika kita tidak merawatnya, yang rugi justru kita sendiri,” tegasnya.

Lintas Agama, Satu Tujuan

Alin juga menilai keterlibatan berbagai komunitas lintas agama dalam workshop ini sebagai langkah positif membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga lingkungan.

“Bagus sekali karena melibatkan berbagai komunitas lintas agama. Harapannya, mereka bisa menjadi perpanjangan tangan untuk menyebarkan ilmu dan semangat menjaga lingkungan ini ke umat atau organisasinya masing-masing,” ujarnya.

Harapan ke Depan

Sebagai penutup, Alin berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dari kegiatan ini tidak berhenti pada tataran teori.

“Semoga apa yang kita dapatkan hari ini bisa dipraktikkan. Kunci dari kegiatan ini adalah bagaimana kita hidup lebih sadar dan disiplin, dimulai dari memilah sampah rumah tangga yang akhirnya bisa berguna bagi kita sendiri,” tandasnya.

Workshop ini menjadi salah satu upaya nyata membangun kesadaran kolektif lintas agama dalam menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus menumbuhkan semangat gotong-royong masyarakat Ambon dalam mengelola sampah menjadi produk ramah lingkungan. (MN)

Pos terkait