MX.COM, MALUKU TENGAH – Dalam rangka menyongsong Hari Suci Waisak 2570 B.E./2026 sekaligus memperingati emas 50 tahun pengabdian Sangha Theravada Indonesia (STI), Bhante Siri Ratano Mahatera pimpin semua pihak songsong aksi bakti sosial dan pembinaan spiritual lintas wilayah di Pulau Seram.
Mengusung tema “Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih Bagi Negeri”, rombongan yang terdiri dari berbagai elemen organisasi Buddhis bertolak dari Pelabuhan Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, pada Senin (6/4) pagi pukul 08.30 WIT. Perjalanan religius ini didukung penuh oleh Pembimas Buddha Kemenag Maluku, Magabudhi, Yayasan Swarna Giri Tirta, Atthasilani Theravada Indonesia (Astinda), Buddhazine, serta donasi dari Dana Everyday utamanya, dan Karunia Mitra Wijaya.

Membina Umat di Kaki Gunung,
Bhikkhu Siri Ratano Mahatera, saat ditemui sebelum keberangkatan, menjelaskan bahwa misi utama perjalanan ini adalah menyentuh umat Buddha yang berada di wilayah terpencil.
“Hari ini kami berangkat untuk melaksanakan kunjungan pembinaan dan bakti sosial, khususnya bagi saudara-saudara kita di pedalaman Pulau Seram, seperti di wilayah Gunung Pon, Gunung Yamatita, dan Gunung Maingkim,” ujar Bhante Siri Ratano.
Perjalanan ini direncanakan berlangsung selama 10 hari di wilayah pegunungan sebelum berlanjut ke kawasan Tanah Merah dan Namto. Bhante berharap kegiatan ini mampu mengobarkan semangat umat, baik di pelosok maupun di Kota Ambon, agar perayaan Waisak dapat disambut dengan harmoni dan kedamaian.
Pembangunan Vihara “Taman Buddha Jayagiri Arama”. Selain pembinaan mental, agenda besar lainnya adalah rencana pembangunan sarana ibadah di Desa Namto, Maluku Tengah. Di atas lahan yang telah dihibahkan oleh masyarakat setempat, akan dibangun sebuah vihara yang diberi nama Taman Buddha Jayagiri Arama.
Lokasi ini tergolong unik karena mencerminkan toleransi beragama yang tinggi di Maluku, di mana bangunan vihara tersebut nantinya akan berdampingan dengan Pura Istana Siwa Manggalagiri dan tempat ibadah lainnya.

Kemudian, Dukungan Penuh Kementerian Agama. Pembimas Buddha Provinsi Maluku, Ria Anis Purwaningtum, S.Ag., M.M., yang turut mendampingi rombongan, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif kolaboratif ini.
“Kami berterima kasih kepada Bhante, STI, Permabudhi, dan seluruh pendukung. Ini adalah wujud nyata kehadiran negara dan pemuka agama bagi umat di pedalaman yang selama ini memang minim mendapatkan pembinaan,” ungkapnya.
Terkait rangkaian Waisak, Ria menambahkan bahwa pihaknya akan menyelaraskan agenda di Maluku dengan program nasional yang telah ditetapkan oleh Dirjen Bimas Buddha Kemenag RI.

Ditempat yang sama, Ketua Daerah Permabudhi Maluku, Aline Tjoa, mengungkapkan bahwa tahun ini terdapat momen spesial dengan hadirnya Atthasilani (biarawati Buddhis) yang akan menetap di pedalaman hingga pertengahan Mei untuk melakukan pembinaan intensif.
“Ini adalah agenda rutin kami, namun kehadiran Atthasilani untuk menetap sementara di sana adalah hal baru yang kami harapkan memberikan dampak positif bagi umat di beberapa dusun yang kami kunjungi,” tutur Aline.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Aline membocorkan bahwa puncak perayaan Waisak bersama tahun ini direncanakan tidak hanya berpusat di Kota Ambon.
“Rencananya, perayaan Waisak bersama akan dilaksanakan di Namto, Seram Bagian Timur. Kami ingin merayakannya langsung bersama umat dari pedalaman agar kebahagiaan Waisak ini benar-benar dirasakan merata,” pungkasnya.
Rombongan diperkirakan akan kembali secara bertahap mulai pertengahan Mei, sementara Bhikkhu Siri Ratano Mahatera dijadwalkan menetap hingga akhir Mei untuk memastikan seluruh program pembangunan dan pembinaan berjalan sesuai rencana. (*






