Mitisisme dalam Kepercayaan Masyarakat Tanimbar di Masa Lampau

MALUKUEXPRESS.COM, Oleh :
*Eliot Otmudy,S.Sos*
(Wartawan MediatorMalukuNews.com dan Pengamat Sosial Budaya)

Masyarakat yang tinggal di wilayah Kepulauan Tanimbar walaupun kini sudah memiliki kepercayaan definitif yang diakui negara sebagaimana dianut pemeluk agama-agama sah – yang mendiami kabupaten bertajuk bumi ‘Duan Lolat’ saat ini. Kendati demikian, bila menoleh ke masa lampau tentang kehidupan para leluhur masyarakat Tanimbar yang mendiami kepulauan terbesar ketiga di Provinsi Maluku ini, cukup menarik disimak kembali. Sebab di zaman itu, leluhur masyarakat Tanimbar diketahui mempunyai sejumlah ritus kepercayaan lokal yang cukup mempengaruhi paradigma berpikir tentang keberadaan sesuatu bersifat adikodrati atau yang ada di luar kemampuan nalar berpikir rasional indrawi dan kongkrit yang dimiliki manusia.

Namun bagi mereka, pemikiran tentang Sang Pencipta atau Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi sesuai pemikiran masyarakat Tanimbar saat itu sebagaimana pemahaman konsep ke-Tuhan-an Yang Maha Esa yang kita imani dan sembah dalam agama – agama resmi yang dianut di tanah air, dan diimplementasikan dalam kehidupan rutinitas sebelum hadirnya agama-agama resmi pada awal abad ke-20 yang dibawa para kolonial dan sejumlah misionaris asal Belanda, Jerman ataupun para Penginjil dari Ambon dan lainnya, dinilai sangat tinggi melebihi apapun juga.

Jika dicermati dalam tulisan sejumlah nara sumber sejarahwan yang hidup di era awal abad 20 – salah satunya tulisan misionaris asal Belanda, Pastor Petrus Drabe dari ordo Misericordie Sakratisimum (MSC atau Hati Kudus Yesus) dalam terjemahan tulisan Etnografi Tanimbar “Het Leven Van Den Tanembarees”
(Ethnografische studie over her Tanembareesche volk door) yang ditulis sekitar tahun 1915-1930-an, dan di-buku-kan pada tahun 1940 di Leiden-Belanda yang menjadi sumber tulisan penulis. Diketahui bahwa, kehidupan ritual spritual – mistisme masyarakat Tanimbar kala itu terlihat menarik untuk disimak dari sejumlah sudut. Bukan saja dari segi estetika alam, kehidupan jasmani, intelektual, kehidupan sosial budaya serta lainnya sebagaimana didasari filosofi masyarakat Tanimbar: “Duan-Lolat, Temar-Lolan dan Kida-Bela/Keselibur/Awai” yang kurang lebih bermakna untuk saling berinteraksi dan berkolaborasi serta memperkuat jalinan hubungan tali silaturahmi dan persaudaraan antar satu sama lain demi terwujudnya tujuan kebaikan bersama (Bandingkan budaya ‘Masohi’ dalam tradisi masyarakat Maluku Tengah), kesejahteraan seluruh klan atau marga masyarakat Tanimbar atau pun cara berbusana tradisional nan menarik penuh pernak-pernik aksesoris hiasan menawan dengan lilitan kain tenun ikat khas berbahan dasar kapas nan tersohor itu, melainkan, penulis hanya meneropong dari segi kehidupan spiritual – mistisisme sebelum masuknya agama resmi yang kini menjadi agama mayoritas (Kristen Katolik dan Kristen Protestan) di wilayah tersebut.

Unsur ini, jika ditelusuri dalam tulisan misionaris Katolik yang bertugas selama belasan tahun di wilayah kepulauan yang berbatasan dengan Benua Kanguru itu, walaupun dalam karya tulisannya lebih condong berbicara tentang etnografi Tanimbar dari sudut material, namun penulis lebih mengangkat sejumlah bentuk kehidupan religiusitas spritual- mitisisme masyarakat setempat yang non material/batiniah. Karena unsur ini dalam prakteknya dinilai merupakan salah satu aspek yang turut mendominir tata cara serta perilaku di dalam rutinitas kehidupan sosial kemasyarakatan bila dibandingkan dengan penghormatan kepada arwah para leluhur atau nenek moyang atau disebut dalam bahasa lokal sebagai “Smangtir” dan juga roh lainnya yang bersifat dinamisme serta animisme dan perihal kehidupan jasmaniah lainnya.

Untuk itu-lah, unsur ini menjadi alasan sentral, mengapa sampai masyarakat lebih mempercayai sesuatu yang transendental yang selalu dihormati sebagai ‘Sang Sumber Pemberi Kehidupan’ sebagaimana dipahami sebagai konsep Tuhan atau suatu zat abstrak – yang boleh dibilang tingkat kedudukannya paling tinggi di antara arwah leluhur atau arwah orang mati dan roh-roh di alam bebas (Animisme) yang disebut dalam bahasa lokal Yamdena Timur sebagai “Kabyain Ndunir”atau roh pemilik atau penghuni suatu alam/benda/tanaman/ tempat tertentu (Dalam konteks kekuasaan terbatas). Contohnya seperti, ‘pnudunir’ (Roh penunggu kampung) ‘ampat ndunir'(Roh penguasa pohon atau tanaman), ‘let ndunir’ (Roh penghuni kebun), ‘nuse ndunir’ (Roh pemilik tanah), ‘batcar ndunir’ (Roh pemilik batu) dan lain-lain.

Sang Penguasa dan Sumber Pemberi Kehidupan yang dimaksudkan merupakan Penguasa Langit dan Bumi ini dinilai sebagai Pemberi Mandat kehidupan yang terus digulirkan kepada manusia atau juga tingkatannya paling tinggi sebagai penguasa arwah-arwah para leluhur atau orang mati serta roh-roh lainnya di alam bebas.

Sang Sumber Pemberi Kehidupan ini, walaupun dalam pemikiran masyarakat setempat dipandang sebagai sesuatu yang abstrak namun diyakini memiliki kemampuan menggerakkan perputaran roda kehidupan manusia yang mampu menentukan hidup atau mati-nya manusia, dan juga menguasai seluruh alam semesta sehingga sangat perlu dijunjung serta dipuja melalui ritual penyembahan sesuai tata cara yang diturunkan dari generasi ke generasi keluarga, klan suatu mata rumah ataupun dari kelompok (Soa/kampung/desa) masyarakat setempat.
Tindakan ini sebagai suatu bentuk pengekspresian komunikasi ritual spiritual – mitisisme antara manusia dengan Sang Penguasa, Sumber Pemberi Hidup, Pencipta Alam Semesta Langit dan Bumi tersebut.

Seperti penulis pahami dari tulisan misionaris itu, dapat dikatakan bahwa, pemahaman tentang Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi atau dalam konsep Tuhan seperti saat ini walaupun tidak terlalu dipahami secara sempurna dalam alam pemikiran masyarakat Tanimbar sebelum masuknya agama resmi di wilayah tersebut. Namun yang pasti objek pemahaman masyarakat Tanimbar kala itu tentang Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi kala itu boleh dipahami merupakan sesuatu hal yang berada di luar pengalaman indrawi manusia, karena panca indra manusia sendiri dinilai memiliki keterbatasan memahaminya, akan tetapi mereka selalu meyakini ada ‘Sesuatu Yang Tertinggi’ di balik semuanya itu – yang mampu mengatur atau mengontrol perputaran roda kehidupan manusia serta lainnya di alam semesta ini.
Untuk itu, masyarakat Tanimbar kala itu, mengetahuinya sebagai sesuatu “Yang Ada” atau sesuatu hal yang transendental ini mampu menggerakkan perputaran roda kehidupan alam semesta termasuk makhluk hidup dan ciptaan lainnya di jagat ini. Dan sesuatu “Yang Ada” atau Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi sebagaimana konsep Tuhan untuk masyarakat Tanimbar saat itu, dipandang dengan beberapa gambaran berbeda melalui cara pandang masyarakat yang mendiami beberapa pulau besar di Kepulauan Tanimbar – yang dulu sempat dijuluki para kolonial sebagai “Forgotten Islands of Indonesia” atau wilayah kepulauan terlupakan di jajaran pulau-pulau di tanah air.

Bahkan terdapat beberapa gelar ditujukan kepada Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi sebagaimana pemahaman konsep Tuhan Yang Maha Agung biasanya disebut “Ratu Silai/Ratarwalu” atau “Ubilaa/Ubu/ Dudilaa” dalam bahasa Pulau Yamdena dan Pulau Fordata atau “Limditi- Fenreu” dan “Hula-Sou” dalam bahasa Pulau Selaru – Tanimbar.
(Untuk diketahui, Kabupaten Kepulauan Tanimbar memiliki lima bahasa berbeda, antara lain: Bahasa Fordata, bahasa Yamdena Timur-pulau besar, bahasa pulau Selaru, bahasa Otemer/Pnu Timpe (Yamdena Barat) atau dikenal dengan kampung tiga jiku, yakni Batu putih, Marantutul dan Wermatan, serta bahasa Makatian).

Terlepas dari itu, kalau kita menelaah terminologi kata “Mitisisme” dari berbagai sumber, kata ini berasal dari bahasa Yunani ‘myein’ yang berarti ‘ sesuatu yang ditutupi’ (Dalam artian mata dan mulut tertutup). Dari kata tersebut terbentuklah kata ‘mystos’ yang kurang lebih pengertiannya dalam keheningan di hadapan sesuatu yang tertinggi (Abstrak – transendental). Dan hanya bisa dirasakan melalui pengalaman mistis. Dan, dalam perkembangan selanjutnya, kata itu diperlebar oleh agama misteri Yunani mendeskripsikan ritual inisiasi yang dipraktekkan dalam upacara suci sebagaimana kepercayaan masyarakat Yunani kala itu.
Kini, kata mystos/mistik dan juga Isme atau faham, lebih mempunyai makna sebagai suatu pengalaman perjumpaan pribadi atau kelompok tertentu dengan Sang Pencipta Alam Semesta Langit dan Bumi dalam konteks spritual orang per orang.
Sedangkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), mistisisme/mistis·isme/ merupakan suatu ajaran/faham yang menyatakan bahwa, ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal/pikiran manusia, atau bisa diartikan secara harfiah sebagai sesuatu yang berhubungan dengan adikodrati ataupun sesuatu yang sifatnya melampaui pemahaman akal pikiran melalui pengalaman biasa dan penjelasan ilmiah. Hal ini bersifat spritual/batiniah dan bukan bersifat material jasmaniah yang bisa terlihat oleh mata-fisik.

Di beberapa tempat di Tanimbar, contohnya di Desa Sangliat Dol atau Sangliat Fnite (Tangga) dan Desa Arui Bab, Desa Tumbur, Kecamatan Wertamrian atau di Pulau Sera dan Desa Makatian, Kecamatan Wer Makatian, dan Desa Lemdesar, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan beberapa desa atau lokasi lainya di wilayah kepulauan terluar itu, diketahui masih terlihat terdapat sejumlah tinggalan sejarah berupa perahu batu atau Natar Sori, dan juga tempat musyawarah dan juga ada tempat pemujaan lainnya berupa menhir, dolmen/batu meja persembahan atau altar batu dan lainnya) serta sejumlah jenis ukiran patung pemujaan atau ‘walut’ dalam bahasa Pulau Yamdena Timur.

Di sana, keberadaannya memberikan makna tak terbantahkan bahwa leluhur masyarakat Tanimbar sejak dulu, selain merupakan masyarakat yang mempunyai sifat kebersamaan, namun juga masyarakatnya juga memiliki sifat religiusitas yang tinggi, mengingat dalam kehidupan rutinitas selalu mengutamakan relasi harmoni selain dengan sesama manusia dan alam sekitarnya, dan penghormatan terhadap para leluhur, namun utamanya lebih membangun relasi spiritual dengan Sang Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi melalui benda-benda tinggalan sejarah tersebut.

Pada objek benda tinggalan itu, merupakan bukti bahwa pada jaman itu, benda-benda tersebut dipergunakan sebagai sarana dalam konteks musyawarah, akan tetapi ada juga tempat penghormatan kepada arwah leluhur dan roh lainnya. Namun yang pasti ada juga tempat yang dikhususkan untuk tempat pemujaan kepada Sang Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Gelar yang ditujukan kepada Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi sebagaimana pemahaman konsep Tuhan Yang Maha Agung biasanya disebut “Ratu Silai/Ratarwalu” atau “Ubilaa/ Ubu/Dudilaa” atau “Limditi- Fenreu” dan “Hula-Sou” merupakan bukti bahwa walaupun ada beragam julukan kepada “Yang Tertinggi’ itu, namun semuanya mengarah kepada adanya Sang Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi yang juga disebutkan sebagai Sang Sumber Pemberi Kehidupan.

Bahwa gelar status adikodrati itu, lebih tertinggi dari pada roh-roh lain (Telah disebutkan di atas), itu juga termasuk ‘rat-lweryar” atau ‘let-lyakrwar’ atau tuhan kedua, dimana dimaksudkan di sini lebih menunjukkan kepada roh-roh yang mendiami di alam bebas/animisme. Dan, atau juga bisa dimaksudkan mengenai arwah-arwah para leluhur/orang mati (Smangtir). Dan ini dalam prakteknya tergantung dari konteks pembicaraan, mengingat perihal yang dibicarakan itu tak bisa ditentukan secara pasti. Akan tetapi, terlihat perbedaan spesifik antara pemujaan terhadap Sang Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi – Sumber Pemberi Kehidupan dengan pemujaan terhadap roh-roh di alam bebas/animisme ataupun penghormatan terhadap arwah-arwah orang mati atau para leluhur yang telah menurunkan suatu generasi ke generasi berikutnya.

Perbedaan ini dapat dipahami, sebab menurut Pastor Petrus Drabe – misionaris asal Belanda dalam karya tulisannya itu, masyarakat Tanimbar sebelum memeluk agama resmi seperti yang sudah ada saat ini, para leluhur mereka merupakan orang -orang Tanimbar yang sudah terlebih dahulu menganut kepercayaan yang bersifat monoteisme. Sehingga bisa jadi misi yang dibawakan para kolonial dan misionaris Eropa dan para penginjil dari Ambon dan lainnya dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat Tanimbar pada awal abad ke-20 sebagaimana yang dibawa oleh pastor Edward Cappers dan pastor Josef Klerk, misionaris asal Jerman yang lebih dari se-abad lalu sekitar tahun 1910 menginjakkan kaki di Tanimbar, dimana Pastor ini mendarat pertama dengan kapalnya di lokasi WeTole, Kampung Sifnana Omele, Tanimbar Selatan. Selanjutnya pada tahun 1913 pastor Mathias Nieuwenhuis,
misionaris asal Belanda juga datang di Tanimbar tepatnya di pantai Kampung Olilit Timur atau Olilit Lama – Tanimbar Selatan tepatnya pada tanggal 14 Agustus dengan misi yang sama menyebarkan agama Kristen (Katholik) sekaligus membaptis sejumlah orang kampung tersebut masuk menjadi anggota Gereja baru.
Sementara itu, disusul masuknya agama Kristen (Protestan) yang dibawa masuk
ke Tanimbar pada tanggal 12 Februari 1912 oleh Guru Penginjil, Ekber Pentury dari Ambon, tepatnya di Desa Lingat, Pula Selaru sebagaimana yang penulis lansir dari dokumen Flyip.

Dan dalam perjalanan waktu lebih dari satu abad lebih, dua agama ini terus berkembang signifikan, bahkan menjadi agama mayoritas terbesar di Kabupaten Kepulauan Tanimbar saat ini.
Sebab konsep Tuhan dalam ajaran agama Kristen yang disebarkan para misionaris dan para penginjil itu perlahan – lahan dapat dipahami dan disesuaikan dengan cara pandang kepercayaan monoteisme yang sudah ada sebelumnya di wilayah tersebut.

Sebelumnya, patut diakui juga bahwa, ketika munculnya penyebaran agama Kristen yang dibawa oleh para misionaris dan para penginjil pada awal abad ke- 20, dan ditambah kehadiran para penguasa Belanda di wilayah kepulauan Tanimbar memang memaksa atau boleh dibilang membawa terjadinya perubahan paradigma tentang kepercayaan yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi di beberapa pulau di wilayah tersebut – yang sebelumnya masyarakat setempat memandang konsep Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi walaupun kurang begitu dipertegas dalam legenda -legenda mereka. Akan tetapi, Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi sesuai pemikiran kelompok masyarakat di Pulau- Pulau berbeda di Kepulauan Tanimbar ada yang menggambarkan Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi ini sebagai sesuatu yang anthropomorphis (Faham yang memberi bentuk manusia kepada Tuhan) dan ada juga mendeskripsikannya sebagai benda-benda yang berada di alam semesta, seperti: “Lere-Bulan” atau Matahari dan Bulan, dan juga Langit dan Bumi atau “Lanit ompak.”

Penguasa laki-laki dianggap sebagai matahari dan penguasa perempuan sebagai bulan, akan tetapi tak disebutkan akibat dari perkawinan penguasa alam ini.
Dan, yang berikut penguasa alam digambarkan sebagai langit (Ditujukan kepada sosok lelaki, sementara bumi disebut juga sebagai penguasa, tetapi itu ditujukan kepada sosok perempuan. Jadi penguasa alam (Laki- laki dan perempuan) ini disebutkan bila melakukan perkawinan maka terlihatlah hujan yang membasahi bumi sehingga menyuburkan tanaman dan lainnya yang kemudian menghasilkan benih tumbuh-tumbuhan yang mampu memberi makan atau menghidupi seluruh makhluk termasuk manusia. Dan terkait dengan itu, maka pembawa kebesaran juru penyiar haruslah seorang laki-laki, dan pembawa kebesaran juru kurban adalah seorang wanita. Dan juga mereka berpikir bahwa Penguasa Tertinggi Semesta Alan ini tinggal di atas langit yang tinggi, dan seluruh tempat tinggalnya dipenuhi dengan emas.

Akan tetapi, misionaris Katolik ini beranggapan, kemungkinan itu merupakan sisa-sisa pemujaan kepada matahari dan bulan, atau disamakan juga dengan kepercayaan sejenis itu, seperti: air pasang surut, kilat, guntur dan lainnya. Kendati demikian, kata misionaris ini, realisasi dalam praktek kehidupan orang -orang Tanimbar kala itu ternyata beranggapan sebagaimana dalam legenda -legenda Tanimbar bahwa Sang Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi merupakan suatu penguasa terbesar di jagat raya, dan ini walaupun tak dipertegas secara mendetail dalam legenda- legenda setempat, tetapi yang pasti menurut kepercayaan mereka saat itu, bahwa Penguasa Jagat Raya telah menumbuhkan sepotong tanah atau pulau untuk ditempati, dan Penguasa Jagat Raya ini pun telah menurunkan seorang leluhurnya di atas muka bumi. Akan tetapi didapati bahwa, menurut penjelasan Pastor Petrus Drabe dikatakan sampai pada soal penyembahan dapat terlihat dengan jelas bahwa penghormatan terhadap arwah para leluhur/orang mati atau pun roh-roh di alam bebas dengan pemujaan kepada Sang Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi tetap dapat dipisahkan dengan jelas. Sehingga bisa dipastikan perbedaannya. Bahwa penghormatan kepada para leluhur/orang mati dilakukan oleh berlainan orang. Begitupun pemujaan atau penyembahan terhadap Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi juga dilakukan oleh orang-orang tertentu yang dikhususkan dalam suatu ritual kepercayaan. Misalnya, tentang orang yang memberi makan kepada arwah para leluhur/roh orang mati (Atau roh lainnya) disebut kepada “Mang Faluruk” yang mana “Mang Faluruk” ini dikatakan sebagai “Frain mang mwatar” atau orang yang memberi makan kepada arwah leluhur/orang mati dan lainnya sebagai bentuk penghormatan. Sedangkan orang yang disebut “Mang Sombe” sebagai “Frain Ratu.” Karena orang dalam status “Frain Ratu” ini merupakan hak orang tertentu yang memberikan makanan dan persembahan kepada Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi atau Tuhan menurut konsep pemikiran masyarakat Tanimbar kala itu.

Namun yang pasti, bila disebutkan bahwa dahulu kala sebelum masuknya agama -agama resmi di kepulauan Tanimbar, tidak melulu dapat disebutkan bahwa orang-orang yang mendiami kepulauan ini sebagai orang – orang yang melulu berpaham animisme, namun dapat dikatakan sepenuhnya bahwa orang-orang Tanimbar juga merupakan orang -orang berpaham monoteisme yang percaya cuma ada satu Tuhan, Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi di jagat raya ini.

Dalam buku “Forgotten Islands of Indonesia” yang ditulis Nico de Jonge dan Toos Van Dijk, yang juga penulis ambil jalan pikirannya, menyebutkan, sebagian besar karya para leluhur seperti tinggalan -tinggalan sejarah berupa benda -benda penghormatan untuk arwah para leluhur/orang mati atau pun roh-roh di alam bebas dan juga sarana untuk pemujaan kepada Penguasa Alam Semesta Langit dan Bumi dalam bentuk material, seperti patung/walut, ‘Langwa Tabu’ atau sumber fertilitas, dolmen/baru meja persembahan dan sejumlah tinggalan lainnya sebagian besar telah dibakar atau dihancurkan para kolonial ataupun misionaris dan para penginjil dengan alasan benda-benda tersebut bertentangan dengan ajaran agama baru yang dibawa para tokoh agama itu. Namun demikian masih ada sisa-sisa dari benda – benda tinggalan sejarah itu tersimpan atau disembunyikan, dan juga masih tersisa ada hingga kini. Namun ketika itu, sebagian besar dari harta benda warisan leluhur Tanimbar yang berharga ini juga diketahui telah diboyong ke Belanda sebagai barang antik nan langka yang kita ketahui banyak ditaruh di sejumlah museum negeri kincir angin itu.

Sejurus dengan itu, penduduk setempat pun secara tak langsung digiring meninggalkan desa yang lama atau “Pnu wangim” menuju lokasi desa yang baru atau “Pnu beberi”, dengan alasan bahwa kampung baru yang mau ditempati mesti “bersih” dari tata cara dan praktek hidup lama yang dinilai masih bersifat berhala. Dan harus percaya kepada Allah (Tritunggal Maha Kudus/Tiga Sifat Keesaan Tuhan) sebagaimana yang diimani dalam kepercayaan Kristiani.

Rupanya cara ini berhasil, dan perlahan-lahan membelokkan tradisi kepercayaan serta budaya lokal orang Tanimbar yang sudah dipertahankan dari generasi ke generasi. Perihal ini perlahan -lahan nyaris dilupakan oleh generasi penerus Tanimbar saat ini.

Sebelumnya, patut diakui juga bahwa, walaupun pemujaan yang bersifat animisme, dinamisme dan mitisisme itu telah lenyap, namun sebagian tradisi masyarakat Tanimbar yang dipandang baik masih terus terestari dan dipertahankan hingga kini, seperti, seni tari-tarian, seni musik (Pantun, Foruk dll), seni anyaman/menenun tradisional, seni ukir atau walut (Bukan lagi untuk sarana penghormatan dan penyembahan, melainkan sudah dibuat untuk dijadikan souvernir atau ole-ole khas Tanimbar) dan tetap mempertahankan tradisi membangun relasi persaudaraan yang terus diupayakan untuk dilestarikan hingga saat ini – dengan saling membangun interaksi sosial (Termasuk tradisi pela-gandong) antar sesama warga Tanimbar untuk terus mewariskan kearifan lokal sebagaimana apa yang sudah diturunkan para leluhur Tanimbar dari generasi ke generasi seperti ‘Duan-Lolat, Temar Lolan, Kida-Bela/ Awai/Kese Libur, dan lainnya.(****)

Pos terkait