TRAGIS! Siswi SMPN 6 Ambon Terlindas Truk TNI, walaupun Sudah 40 Kantong Darah Dihabiskan – Janji Tanggung Jawab Penuh Kodam XV Pattimura Dipertanyakan

Malukuexpress.com, AMBON, 15 April 2026 – Nasib pilu menimpa seorang siswi SMP berusia 14 tahun berinisial SKP yang kini masih terbaring lemah di ruang ICU RSUP Prof. Dr. W.Z. Johannes Ambon. Lebih dari sebulan setelah insiden tragis di Jalan Jenderal Sudirman, Batu Merah, korban belum juga pulih, bahkan telah menghabiskan lebih dari 40 kantong darah demi bertahan hidup.

Peristiwa mengerikan itu terjadi saat SKP terlindas truk militer dalam konvoi Calon Siswa (Casis) TNI. Tubuhnya mengalami luka parah: tulang panggul remuk, pendarahan hebat di hati, hingga pembengkakan otak yang menyebabkan kejang.

Bacaan Lainnya

Ibunya, Mariska Muskita, tak kuasa menahan tangis melihat kondisi putrinya.

“Anak saya seperti hidup segan mati tak mau. Tapi dia masih bertahan, itu mukjizat,” ujarnya lirih.

Ujian di Tengah Derita, Yang membuat hati makin teriris, SKP tetap memaksakan diri mengikuti ujian sekolah dari atas ranjang rumah sakit. Dengan tubuh penuh luka dan alat medis, ia mengerjakan soal sambil menangis menahan sakit.

“Dia tetap mau ikut ujian. Saya lihat dia menangis saat menulis, tapi tidak berhenti,” kata Mariska.

Janji TNI AD Pihak Kodam XV Pattimura Dipertanyakan?

Di tengah perjuangan hidup mati sang anak, keluarga justru kecewa dengan sikap Kodam XV/Pattimura yang dinilai hanya memberi janji tanpa kepastian.

Memang ada bantuan awal sekitar Rp25 juta dan dukungan donor darah. Namun, janji untuk menanggung seluruh biaya hingga korban pulih dinilai belum terealisasi secara jelas.

“Janji itu mana buktinya? Anak saya butuh perawatan panjang, bukan bantuan sekali lalu selesai,” tegas Mariska.

Bantahan yang Picu Kemarahan

Pihak TNI sendiri membantah adanya unsur “tabrak lari”, menyebut konvoi sempat berhenti sebelum melanjutkan perjalanan. Namun bagi keluarga, pernyataan itu tidak menjawab penderitaan yang dialami korban.

“Bukan soal tabrak lari atau tidak. Anak saya hancur, itu faktanya,” ujar Mariska.

Tuntutan Keluarga :

1. Keluarga kini menuntut langkah nyata, bukan sekadar simpati:

2. Jaminan tertulis biaya pengobatan hingga sembuh total

3. Rehabilitasi medis dan psikologis jangka panjang

4. Jaminan pendidikan dan masa depan korban

5. Kehadiran langsung pimpinan tertinggi sebagai bentuk tanggung jawab

Publik Menanti, Kasus ini kini menjadi sorotan publik. Di satu sisi, TNI adalah simbol perlindungan rakyat. Namun di sisi lain, seorang anak justru menjadi korban dan masa depannya terancam.

Kini pertanyaannya besar? Akankah janji berubah jadi aksi nyata, atau tragedi ini akan hilang ditelan waktu?. (CM)

Pos terkait