MALUKUEXPRESS.COM. TANIWEL, Di tengah luka dan duka yang masih dirasakan warga Patahuwe akibat kebakaran rumah yang dipicu konflik sosial antara Desa Lisabata dan Desa Patahuwe pada September 2026 lalu, sebuah pesan kemanusiaan kembali digaungkan. Dr. Michael Wattimena, S.E., S.H., M.M., yang akrab disapa BMW, datang langsung menemui 29 Kepala Keluarga (KK) korban kebakaran di Posko Pengungsian Desa Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat, Minggu (1/11/2026).
Kehadiran BMW bukan sekadar kunjungan seremonial. Ia datang untuk melihat dari dekat kondisi para korban, mendengar keluh kesah mereka, sekaligus memberikan dukungan moral dan bantuan tunai secara langsung kepada 29 KK yang terdampak.
Kedatangan BMW disambut Ketua Majelis Jemaat GPM Patahuwe, Ny. Agnes Wemay/Hursepuny, S.Si.Teol., Camat Taniwel Jeqlin Manakutty, Kapolsek Taniwel Iptu Mika Pesiwarissa, Anggota DPRD Provinsi Maluku Julius Hans Rutasouw, serta puluhan warga pengungsi.
Di hadapan warga, BMW menyampaikan pesan yang menyentuh sekaligus mengandung makna mendalam. Ia mengaku bersyukur dapat menempuh perjalanan jauh dari Jakarta untuk bertemu langsung dengan masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.
“Memang kuasa Tuhan yang luar biasa, sehingga beta bisa datang jauh dari Jakarta hari ini untuk bertatap muka langsung dengan Bapak Ibu yang sedang mengalami masa sulit ini. Beta mendoakan semoga seluruh keluarga diberikan kekuatan dan ketabahan,” ungkap BMW.
TEGAS: DENDAM BUKAN JALAN KELUAR!
Salah satu pesan paling kuat yang disampaikan BMW adalah ajakan untuk mengakhiri lingkaran kebencian dan membangun kembali persaudaraan.
Menurutnya, masyarakat tidak boleh terus terjebak dalam kesedihan dan luka akibat konflik. Kehidupan harus kembali ditata, masa depan harus diperjuangkan, dan hubungan persaudaraan harus dipulihkan.
“Ke depan, jangan kita terlena dengan kondisi yang ada sekarang. Kita harus bangkit, kita harus menata hari esok yang lebih baik. Dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Mari kita ambil hikmah dari semua yang terjadi, dan jadikan ini langkah awal untuk persaudaraan yang lebih kuat ke depannya,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa di atas segala perbedaan, masyarakat Maluku memiliki ikatan persaudaraan yang harus dijaga. Sebab, tidak ada kemenangan dalam konflik apabila masyarakat sendiri harus kehilangan rumah, rasa aman, dan kedamaian.
BMW SIAP JADI PENYAMBUNG ASPIRASI WARGA KE PEMERINTAH PUSAT
Tidak berhenti pada pemberian bantuan, BMW juga membuka ruang bagi warga untuk menyampaikan kebutuhan dan harapan mereka secara langsung.
Ia menegaskan bahwa kunjungannya memiliki misi lebih luas, yakni membawa suara masyarakat Patahuwe ke tingkat pemerintah pusat.
“Beta ingin menjadi perpanjangan lidah Bapak Ibu di Jakarta. Sebelum beta kembali ke Selasa pagi nanti, silakan sampaikan apa yang menjadi harapan dan kebutuhan nyata warga, agar beta bisa sampaikan kepada kementerian-kementerian terkait di pusat,” ujarnya.
Pernyataan ini menjadi bagian penting dari kunjungan tersebut. Sebab, para korban tidak hanya membutuhkan perhatian sesaat, tetapi juga kepastian bahwa aspirasi dan kebutuhan mereka tetap diperjuangkan setelah sorotan terhadap musibah ini mereda.
BUKAN SEMBako, BUKAN JANJI, TETAPI BANTUAN LANGSUNG KE TANGAN KORBAN
Dalam kesempatan itu, BMW juga menyerahkan bantuan tunai kepada seluruh 29 KK korban kebakaran.
Menariknya, ia memberikan kebebasan kepada masing-masing keluarga untuk menggunakan bantuan tersebut sesuai kebutuhan paling mendesak.
BMW menjelaskan bahwa berbagai pihak telah lebih dahulu memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok maupun dukungan pembangunan fisik. Karena itu, ia memilih memberikan bantuan tunai agar keluarga penerima dapat menentukan sendiri prioritas kebutuhannya.
“Banyak pihak yang sudah hadir membantu Bapak Ibu, baik perorangan maupun lembaga. Karena itu, kali ini beta tidak datang dengan beras, sembako, atau membantu bangunan fisik. Itu sudah ada yang menanganinya. Hari ini, sedikit tanda kasih beta serahkan langsung ke tangan Bapak Ibu masing-masing, untuk digunakan sesuai kebutuhan keluarga,” jelasnya.
“Jangan dilihat dari besar nilainya. Yang terpenting adalah ketulusan hati untuk berbagi. Semoga sedikit ini meringankan beban Bapak Ibu, dan menjadi berkat bagi kita semua,” tambahnya.
LEBIH DARI SEKADAR BANTUAN, ADA PESAN KEMANUSIAAN DI BALIKNYA
Penyerahan bantuan kepada 29 KK tersebut menjadi penutup pertemuan yang sarat pesan kemanusiaan.
Di tengah kondisi warga yang masih berupaya bangkit dari dampak kebakaran, kehadiran dan perhatian langsung menjadi penguatan moral bahwa mereka tidak berjalan sendiri menghadapi masa sulit.
Kunjungan BMW sekaligus membawa pesan bahwa pemulihan pascakonflik tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah yang terbakar. Yang jauh lebih penting adalah memulihkan kepercayaan, merawat persaudaraan, dan memastikan masyarakat dapat kembali hidup berdampingan dalam suasana aman dan damai.
Sebab, rumah yang terbakar bisa dibangun kembali. Harta yang hilang bisa dicari kembali. Tetapi persaudaraan yang hancur akibat dendam membutuhkan hati yang besar untuk memulihkannya.
Dari Taniwel, sebuah pesan kembali digaungkan: kemanusiaan harus berada di atas konflik, persaudaraan harus lebih kuat daripada kebencian, dan harapan tidak boleh ikut terbakar bersama rumah-rumah warga Patahuwe.
BMW hadir membawa tanda kasih. Namun pesan terbesarnya jauh lebih luas: saatnya bangkit, saatnya berdamai, dan saatnya kembali merajut persaudaraan di bumi Maluku. (CM)






