Rekomendasi Rektor UKIM Menjadi Pertanyaan ? Apa Hubungannya Dengan Pak Gubernur Maluku

Senat Mahasiswa UKIM

Malukuezpress.com, Ketua Senat Mahasiswa UKIM Vinsensius Talubun dalam rilisnya yang diterima media ini.Minggu (8/8). Mencermati  polemik terkait surat rekomendasi  calon Rektor UKIM oleh gubernur kepada salah satu dosen Isip UKIM yakni Drs.Josephus Noya, M,Si  sangat di sayangkan dengan sikap penguasa yang  turut mencapur tangan dengan kepentingan internal UKIM.

Pasalnya suksesi Rektor kedepan adalah urusan kampus dan yayasan bukan urusan pemerintah provinsi  atau pak Gubernur selaku kepala daerah.

Bacaan Lainnya

Kendatipun hanya bersifat rekomendasi hanya saja ini tidak punya kaitanya dengan pak gubernur lagian apa tujuannya dan apa impact  positifnya buat UKIM ? justru dengan rekomendasi semacam itu, membuat wajah pendidikan kampus seakan-akan disetir oleh tangan penguasa dan lebih ditakuti adalah pimpinan kampus kedepan hanya menjadi boneka  atau semacam lampion yang di ero ke sana dan ke sini.

Jika ditelaah secara bijaksana dari surat rekomendasi yang di edarkan sejantinya tidak punya dampak apa” terhadap pengembangan UKIM  atau memperbaharui kultrur pendidikan UKIM agar lebih baik. lantas apa penyebab Gubernur Maluku (Murad Ismail) dengan beraninya memberikan rekomendasi  bagi salah satu akademisi ukim untuk mencalonkan diri sebagai rektor di suksesi kedepan.

Bagi kami sikap Gubernur terlihat narsis sekali dengan tindakan yang dilakukan pada hal, secara kelembagaan, kita  tau bersama bahwa UKIM secara institusional bukanlah kampus negeri yang ada di bawah naungan pemerintah atau bersifat meengingat dengan Negara  tetapi UKIM adalah kampus yayasan yang berada di bawa naungan geraja (GPM) atau dengan kata lain UKIM adalah “ Anak Kandung GPM “  maka yang menjadi pertanyaan adalah apa hubunganya  UKIM dengan pak gubernur Maluku ? lebih sayangnya rekomendasi calon rektor UKIM yang diterbitkan oleh gubernur maluku tengah mewakili lembaga pemerintah sederhananya pak Gubenur adalah personifikasi pemerintah  maluku.

Sebetulnya Pada konteks ini  wajar-wajar saja bagi setiap figur yang mau mempromosikan diri untuk menjadi calon Rektor mengingat dalam konteks ini, UKIM dalam masa transisi dan tinggal beberapa bulan lagi sudu ada dalam pemilihan rektor yang baru hanya saja,  tak logik kalau rekomendasinya dari okunum-oknum yang masih memikul jabatan politik seperti pak Gubernur  ingat !!! bahwa Rektor atau pimpinan kampus itu menahkodai lembaga pendidikan (KAMPUS)  bukan lembaga politik atau lainya sehingga praktik semacam ini harus di cegah takutnya hal semacam ini terus dibiarkan nantinya kedepan dapat merusakan/mencoreng status independensi lembaga, apa lagi UKIM adalah anak kadung dari gereja  maka sepatutnya  marwah gereja wajib lindungi jangan sampai masyarakat atau warga membangun spekulasi yang buruk  terhadap UKIM maupun gereja secara intitusi.

Maka selaku warga kampus  perlu untuk merespon polemik  ini. Lebih ironisnya surat edaran tersebut tengah menjadi konsumsi publik dan banyak pertanyaan yang mecuat sehingga menjadi kekawatiran besar jangan sampe UKIM bisa di klaim sembarangan oleh masyarkat bahwa UKIM sendiri suda terkontaminasi dengan permainan politik praktis sehingga impact  tehadap kultrur pendidikan di UKIM pun ikut terpengaruh.

Olehnya itu  harapannya pihak kampus maupun gereja harusnya secepatnya merespon dengan polemik ini tapi bukan dngan penyataan mendukung  atau mensuport surat rekomendasi tersebut tapi seyogyanya mempressure dengan langkah solutif yang harusnya diambil adalah pernyataan kalrifikasi yang baik untuk menyelesaikan polemik yang sementara berlangsung  agar  isu ini  tidak terus-menerus diperbincangkan publik dan mengotori marwah UKIM. (*)

 

Pos terkait