MALUKUEXPRESS.COM, AMBON — Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Provinsi Maluku yang dijadwalkan berlangsung Oktober mendatang mulai memanas.
Tiga nama kini disebut-sebut berpotensi masuk gelanggang perebutan kursi Ketua DPD Partai Demokrat Maluku untuk menggantikan Elwen Roy Pattiasina.
Ambon 22 Agustus 2026.
Mereka adalah Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun, Bupati Seram Bagian Barat Asri Arman, dan kader Demokrat yang juga anggota DPRD Provinsi Maluku, Halimun Saulatu.
Tiga figur.
Tiga latar belakang.
Tiga kekuatan politik.
Akan di lebur,dan di godok berkahir jadi satu tungku
Jika benar ketiganya maju, Musda Demokrat Maluku dipastikan bukan sekadar forum pergantian kepengurusan. Ini adalah pertarungan memperebutkan kendali mesin politik Demokrat di Maluku.
THAHER: MODAL KEPALA DAERAH DAN JARINGAN POLITIK
Muhamad Thaher Hanubun bukan nama baru dalam politik Maluku.
Sebelum terjun ke politik, Thaher dikenal sebagai guru. Karier politiknya kemudian dimulai dari DPRD Kabupaten Maluku Tenggara, berlanjut ke DPRD Provinsi Maluku, hingga akhirnya terpilih sebagai Bupati Maluku Tenggara dan kini menjalani periode keduanya.
Posisi sebagai kepala daerah, ditambah pengalaman panjang di legislatif, menjadi modal politik yang tidak kecil.
Thaher memiliki pengalaman berhadapan langsung dengan struktur pemerintahan sekaligus jaringan politik di daerah.
Pertanyaannya kini: seberapa jauh modal tersebut mampu dikonversi menjadi dukungan dari DPC Demokrat se-Maluku?
ASRI ARMAN: TIGA PERIODE DI PARLEMEN
Nama kedua yang ikut mencuri perhatian adalah Asri Arman.
Sebelum menjadi politisi, Asri dikenal sebagai pengusaha di bidang konsultan jasa konstruksi. Ia kemudian terjun ke politik dan berhasil menjadi anggota DPRD Provinsi Maluku selama tiga periode.
Kini Asri dipercaya memimpin Kabupaten Seram Bagian Barat untuk periode pertamanya.
Pengalaman tiga periode di parlemen membuat Asri memiliki rekam jejak panjang dalam membangun komunikasi politik.
Jika maju dalam Musda, ia tentu tidak datang tanpa bekal.
Pengalaman legislatif, posisi sebagai kepala daerah, serta jejaring politik menjadi modal yang akan diuji dalam pertarungan internal Demokrat Maluku.
HALIMUN SAULATU: KADER ORGANIK DENGAN JALUR ORGANISASI
Berbeda dengan dua nama sebelumnya, Halimun Saulatu datang dengan modal organisasi partai yang lebih dekat ke struktur internal Demokrat.
Aktivis HMI dan mantan fungsionaris DPD KNPI Maluku ini sebelumnya pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Maluku Tengah periode 2009-2014.
Kini ia duduk di DPRD Provinsi Maluku sekaligus dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Maluku Tengah.
Posisi tersebut membuat Halimun memiliki pengalaman langsung mengelola struktur partai di tingkat kabupaten.
Dan dalam Musda, pengalaman mengurus mesin organisasi bisa menjadi senjata penting.
Sebab perebutan kursi ketua DPD tidak hanya berbicara soal popularitas.
Yang paling menentukan adalah siapa yang mampu mengunci dukungan DPC.
11 DPC JADI KUNCI
Di sinilah pertarungan sebenarnya akan berlangsung.
Sebelas DPC Demokrat di Maluku akan menjadi medan perebutan dukungan.
Popularitas seorang kandidat memang penting. Namun dalam pertarungan organisasi partai, popularitas saja tidak cukup.
Kandidat harus mampu membangun konsolidasi, menjaga komunikasi dengan kader, meyakinkan pemilik suara di daerah, sekaligus membangun komunikasi dengan struktur Demokrat di tingkat pusat.
Dengan kata lain:
Musda bukan hanya pertarungan tiga nama.
Ini pertarungan tiga jaringan.
Thaher punya modal kepala daerah.
Asri punya pengalaman tiga periode di parlemen dan posisi kepala daerah.
Halimun punya pengalaman legislatif sekaligus akses langsung ke struktur Demokrat melalui posisi Plt Ketua DPC.
JAKARTA JUGA AKAN MENJADI PENENTU?
Yang membuat bursa ini semakin menarik adalah isu mengenai komunikasi politik para kandidat dengan elite Partai Demokrat di Jakarta.
Nama Thaher Hanubun dan Halimun Saulatu disebut-sebut memiliki jalur komunikasi yang cukup kuat ke lingkaran elite Demokrat di tingkat pusat, termasuk Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Namun hingga kini, belum ada pernyataan terbuka dari Thaher maupun Halimun mengenai ambisi mereka merebut kursi Ketua DPD Demokrat Maluku.
Keduanya masih terkesan berhati-hati.
Dan justru sikap inilah yang membuat peta pertarungan semakin sulit dibaca.
SIAPA PALING KUAT?
Jika ketiganya benar-benar maju, pertarungan akan mengerucut pada tiga pertanyaan besar:
Siapa mampu menguasai 11 DPC?
Siapa paling kuat mengonsolidasikan kader?
Dan yang tidak kalah penting:
Siapa yang mampu meyakinkan elite Demokrat di Jakarta?
Jawaban atas tiga pertanyaan itu akan menentukan siapa yang berpeluang besar meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Demokrat Maluku.
Satu hal yang pasti, Musda Demokrat Maluku Oktober mendatang berpotensi menjadi salah satu pertarungan politik internal paling menarik di Maluku.
Tiga nama mulai muncul.
Satu kursi diperebutkan.
11 DPC menjadi medan pertarungan.
Dan ketika palu Musda diketuk, seluruh kalkulasi politik akan diuji.
Thaher, Asri, atau Halimun?
Siapa yang akhirnya menguasai Demokrat Maluku?. (CM)






