SEKIAN LAMA MENANTI KM SABUK NUSANTARA 104

MALUKUEXPRESS.COM
MBD — Tangis haru pecah di Pelabuhan Eray, Kecamatan Wetar Utara, Kabupaten Maluku Barat Daya. Setelah sekian lama menanti, KM Sabuk Nusantara 104 akhirnya kembali menyinggahi pelabuhan desa itu, pada Senin, 17 Agustus 2026—tepat ketika bangsa Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan.22 Agustus 2026.

Bagi masyarakat Wetar Utara, kedatangan kapal perintis tersebut bukan sekadar soal kapal yang sandar.
Ini tentang urat nadi yang kembali berdenyut. Ini tentang akses kesehatan, distribusi kebutuhan pokok, mobilitas warga, dan tentang rasa bahwa negara masih hadir di pulau paling jauh.

Kepala Desa Eray, Lamberthus Managa, tak kuasa menyembunyikan haru ketika menyaksikan KM Sabuk Nusantara 104 kembali merapat.

“Ini momentum bersejarah yang sekian purnama hilang. Dengan sandarnya KM Sanus 104 di pelabuhan kami, kerinduan kami pun terobati.”

Lamberthus memberikan apresiasi kepada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang, menurut penilaiannya, telah memberikan perhatian serius terhadap persoalan transportasi masyarakat Wetar Utara.

Baginya, keberhasilan menghadirkan kembali kapal perintis mungkin terlihat sederhana dari pusat kota. Namun bagi warga Wetar, itu adalah persoalan besar yang menyangkut kehidupan sehari-hari.
“Ini mungkin kecil di mata orang lain, tetapi besar bagi kami orang Wetar,” ujarnya.

Ia menceritakan, sebelumnya sejumlah tokoh masyarakat dari beberapa desa telah menyampaikan kondisi sulit yang dihadapi masyarakat Wetar Utara kepada Gubernur Hendrik Lewerissa.

Ketiadaan akses kapal bukan hanya membuat mobilitas warga tersendat. Dampaknya merembet ke berbagai sektor: kesehatan, pendidikan, perdagangan, distribusi sembako, logistik hingga penanganan warga dalam situasi darurat.
Menurut Lamberthus, Pemerintah Provinsi Maluku kemudian bergerak melalui Dinas Perhubungan untuk berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

“Yang saya dengar Dinas Perhubungan Provinsi Maluku diperintahkan menyurati Kementerian. Tetapi secara substansi Pak Gubernur Hendrik yang melobi Pak Menteri dan Pak Dirjen.”

BUKAN SEKADAR KAPAL, TAPI JAWABAN ATAS KETERISOLASIAN

Bagi masyarakat Wetar Utara, KM Sabuk Nusantara 104 adalah lebih dari sekadar moda transportasi.
Ia adalah jalan penghubung.
Dengan kembali beroperasinya kapal tersebut, konektivitas antarpulau terbuka kembali. Mobilitas warga menjadi lebih mudah, distribusi sembako dan logistik memiliki jalur yang lebih pasti, sementara akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di luar pulau menjadi lebih terbuka.

Lamberthus menilai, kondisi seperti inilah yang membutuhkan pemimpin dengan perspektif kemalukuan yang luas—pemimpin yang tidak hanya membaca laporan dari meja birokrasi, tetapi memahami suasana batin masyarakat kepulauan.

“Pemimpin itu sejatinya adalah pembuktian kata-kata, bukan retorika.”
Dari sinilah lahir ungkapan yang kini menggema dari Wetar:
“Gubernur Hendrik itu putra Lease, tetapi rasa orang Wetar.”
Bagi Lamberthus, ungkapan tersebut bukan sekadar pujian. Ia mengatakan penilaian itu lahir dari apa yang dirasakan masyarakat setelah persoalan transportasi mereka mendapat perhatian.

DERITA WETAR: DARI KESEHATAN HINGGA PENDIDIKAN

Tokoh agama setempat, Pdt. Deasy Tayanne, menyampaikan kesaksian senada.
Menurutnya, sejak rute KM Sabuk Nusantara 104 dihentikan, tekanan kehidupan masyarakat dan jemaat di Eray serta wilayah sekitarnya semakin berat.
“Kemanusiaan kami sudah lama tertekan. Semoga di momentum HUT Proklamasi ke-81 Republik Indonesia ini, makna kemerdekaan itu terasa juga di Wetar.”
Ia mengatakan, sukacita masyarakat ketika KM Sabuk Nusantara 104 kembali menyinggahi Eray sulit digambarkan dengan kata-kata.

Bagi masyarakat, kapal tersebut menjadi simbol bahwa pergumulan panjang mereka akhirnya mendapat perhatian.
“Puji Tuhan, Pak Gubernur Hendrik Lewerissa telah mencari jalan keluar dalam menjawab derita warga.”
Deasy berharap seluruh elemen masyarakat ikut menjaga keamanan dan ketenteraman sehingga pelayanan kapal perintis tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan dan tidak kembali dialihkan.

BAGI PUSKESMAS ERAY, INI BUKAN SOAL KENYAMANAN—INI SOAL NYAWA

Kepala Puskesmas Eray, Grace Hobataman, melihat kembalinya KM Sabuk Nusantara 104 dari sisi yang jauh lebih mendasar: keselamatan manusia.
Menurut Grace, akses transportasi laut sangat menentukan kemampuan masyarakat mendapatkan pelayanan rujukan kesehatan di luar pulau.
“Bisa dibayangkan kalau tidak ada KM Sanus 104. Krisis kemanusiaan kian nyata di sini. Pasien gawat darurat dan ibu melahirkan kehilangan rujukan aman ke rumah sakit luar pulau.”

Ia mengaku bersyukur karena perhatian pemerintah memberikan harapan baru bagi masyarakat.
“Kami sedih sekali selama beberapa kurun waktu ini, tapi puji Tuhan atas perhatian Bapak Gubernur Maluku, persoalan kemanusiaan yang selama ini membelenggu dapat teratasi.”

Grace juga mengingatkan bahwa hidup di pelosok bukanlah sesuatu yang harus dipandang sebagai kelemahan.
“Kehidupan di pelosok bukan ancaman, tetapi kebanggaan.”

Sebab, menurutnya, wajah Maluku bukan hanya Ambon atau pusat pemerintahan. Maluku juga ada di Wetar, di pulau-pulau terluar yang menjadi bagian penting dari beranda Indonesia.

DISHUB MALUKU: JANGAN SAMPAI MASYARAKAT KEMBALI DIRUGIKAN

Kepala Dinas Perhubungan Maluku Samuel Huwae ikut menyambut baik kembali dilayarinya kawasan tersebut oleh KM Sabuk Nusantara 104.
Menurut Huwae, pelayaran perintis merupakan instrumen penting dalam membuka keterisolasian wilayah dan memperkuat konektivitas antarpulau.
Dengan konektivitas yang kembali terbuka, berbagai persoalan masyarakat diharapkan dapat ditekan, terutama menyangkut distribusi kebutuhan pokok dan mobilitas warga.

“Bapak Gubernur berharap dengan masuknya KM Sanus 104 di Pelabuhan Eray maka tingkat kesulitan selama ini terpecahkan. Transportasi publik yang murah dan terjangkau bagi masyarakat Wetar Utara tidak lagi ibarat mimpi.”

Huwae mengajak seluruh masyarakat menjaga kedamaian dan menciptakan lingkungan yang kondusif demi keberlangsungan pelayaran perintis.
Ia juga mengingatkan pentingnya mendukung semangat UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran serta Keputusan Dirjen Perhubungan Laut Nomor 618 Tahun 2025 tentang Penetapan Jaringan Trayek Penyelenggaraan Pelayaran Perintis Tahun Anggaran 2026.

Menurutnya, jika terjadi persoalan yang kembali menyebabkan pelayanan terhenti, maka masyarakatlah yang paling pertama merasakan dampaknya.
“Kalau ada keputusan omisi lagi, yang rugi adalah masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

WETAR BUKAN UJUNG INDONESIA—WETAR ADALAH BERANDA INDONESIA

Huwae menegaskan kawasan 3T Maluku tidak boleh dipersepsikan sebagai kawasan yang identik dengan keterbelakangan.
Wilayah tertinggal, terdepan dan terluar memang menghadapi tantangan geografis serta keterbatasan infrastruktur. Namun di balik tantangan itu tersimpan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar.

Lebih dari itu, kawasan tersebut merupakan garda terdepan penjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Karena itu, konektivitas bukan sekadar urusan transportasi.
Konektivitas adalah bagian dari kehadiran negara.
Dan bagi masyarakat Wetar Utara, kehadiran KM Sabuk Nusantara 104 pada 17 Agustus 2026 menjadi momentum yang sarat makna.

17 AGUSTUS DI WETAR: KETIKA KEMERDEKAAN AKHIRNYA TERASA

Di pusat-pusat kota, kemerdekaan dirayakan dengan upacara, pengibaran bendera dan berbagai perlombaan.
Namun di Eray, makna kemerdekaan hadir dalam bentuk yang berbeda.
Sebuah kapal merapat.
Bagi orang lain mungkin hanya kapal biasa.
Bagi warga Wetar, kapal itu membawa harapan.
Harapan agar pasien gawat darurat dapat dirujuk.

Harapan agar ibu melahirkan tidak kehilangan akses menuju pertolongan.
Harapan agar kebutuhan pokok dapat masuk dengan lebih lancar.
Harapan agar anak-anak dan masyarakat tidak semakin terisolasi.

Dan yang paling penting:
harapan bahwa mereka tidak dilupakan.
Karena kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar.
Kemerdekaan adalah ketika negara hadir sampai ke pulau-pulau terluar.
Pada 17 Agustus 2026, di Pelabuhan Eray, masyarakat Wetar Utara kembali melihat kapal yang sudah lama mereka rindukan.
Tangis pun pecah.
Bukan karena kesedihan.
Tetapi karena sebuah penantian panjang akhirnya terjawab.

Dan dari Wetar, sebuah pesan dikirimkan kepada Maluku dan Indonesia:
“Kami di pelosok. Kami di perbatasan. Kami jauh dari pusat kekuasaan. Tetapi kami bukan warga yang boleh dilupakan.”
Sementara bagi para tokoh masyarakat yang menyaksikan langsung momentum tersebut, Hendrik Lewerissa dinilai telah menunjukkan bahwa kepemimpinan di Maluku harus mampu menjangkau pulau-pulau terjauh.

Putra Lease, tetapi rasa orang Wetar.
Sebab bagi masyarakat Wetar Utara, ukuran seorang pemimpin bukan seberapa indah ia berbicara dari podium.
Ukuran pemimpin adalah ketika kata-kata berubah menjadi tindakan dan tindakan itu dirasakan sampai ke dermaga rakyat.

KM Sabuk Nusantara 104 kembali singgah.
Wetar kembali terhubung.
Dan pada hari kemerdekaan itu, masyarakat Wetar kembali merasakan satu hal yang paling mereka rindukan:
Negara Hadir di Wetar.(CM)

Pos terkait