Internasional Office Universitas Pattimura-Webinar Seri 2 “Protest and Human Rights“

Ambon, MX. Com. Protest and Human Rights  menjadi topik pelaksanaan Webinar seri II yang dilakukan oleh Internasional Office Universitas Pattimura, 23 Juli 2020. Kegiatan ini merupakan implementasi  MoU antara Universitas Pattimura dengan Vrije Universiteit Amsterdam yang baru saja di tandatangani beberapa minggu lalu. MoU tersebut di gagas oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura dan ini merupakan kegiatan pertama setelah MoU ditandatangani.

Kepala International Office Universitas Pattimura  W. Latuny, PhD  mengatakan kegiatan ini merupakan kegiatan pertama ‘ joint activity ‘  dari Implementasi MoU tersebut, dan Internasional Office bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Fakultas Hukum untuk menyelenggarakan Webinar ini .  Pembicara dalam kegiatan ini adalah Prof. Dr. Fridus Steijen dari Vrije Universiteit Amsterdam, Prof Dr. T. D. Pariela, MA – Dekan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik serta Dr. R. J. Akyuwen, SH., M.Hum.

Rektor Universitas Pattimura Prof. Dr. M. J. Saptenno, SH.,M.Hum  dalam sambutannya menyampaikan bahwa belakangan ini masyarakat dunia ramai memperbincangkan isu rasisme akibat terbunuhnya George Floyd. , dan perbincangan ini menyebar luas diseluruh negara termasuk Indonesia. terdapat dua hal yang penting untuk melihat bagaimana rasisme diatur dalam konteks Hak Asasi Manusia, yaitu mengukur apakah negara efektif melakukan penghukuman terhadap pelaku diskriminasi ras dan etnis dan seberapa efektif negara melakukan pencegahan.

Prof Saptenno berharap Webinar ini bisa bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan ke depan dan kolaborasi antara Universitas Pattimura dan Vrije Universiteit Amsterdam dapat terus terjalin.

Prof. Dr. Fridus Steijen adalah Dosen Fakultas Ilmu Sosial Vrije Universiteit Amsterdam. Beliau juga adalah Peneliti Senior pada KITLV / Royal Nederland Institute of Southeast dengan bidang Ilmu Komperatif, Prespektif untuk Migrasi dan Budaya Orang Maluku, baik orang Maluku sendiri maupun orang Maluku yang di Belanda.

Penelitian yang dilakukan terkait dengan perbandingan perspektif dari budaya dan migrasi orang Maluku dan orang Maluku yang di Belanda, dalam sejarah tahun 1621 sampai saat ini. Dimana pada tahun 1621  Jan Piterszoon Coen – Gubernur Jenderal VOC yang membunuh orang-orang Banda untuk merampas hasil bumi mereka. Prof Firdaus ini tertarik dan memberikan materi yang terkait yaitu J.P. Coen ‘did it’ again . How J.P. Coen Killings on Banda Features in the Present Day Dutch Black Lives Better Movement. Prof Firdaus dalam materinya mengaitkan kondisi dimana  George  Floyd terbunuh 25 Mei 2020 dan demonstrasi bertajuk Black Live Matter  serta  bagaimana kondisi tersebut  berdampak pada orang-orang belanda yang berkulit hitam yang salah satunya adalah orang-orang Maluku di Belanda yang melakukan demonstrasi di patung Jan Piterszoon Coen di kota Hoorn, yang menyuarakan bagaimana perlakuan diskriminasi  terhadap  orang-orang berkulit hitam dimana para demonstran juga merasa adalah korban dari Black Live Matter. Dalam materinya ingin disampaikan bagaimana protes  yang dilakukan oleh Black Live Matter terjadi akibat dari kekerasan yang dialami oleh George Floyd di Amerika. Bagaimana Fridus mengelaborasi sejarah Jan Piterszoon Coen sampai saat  terjadi protes oleh  Black Live Matter saat ini  dan protes orang Maluku yang menggunakan Patung Jan Piterszoon Coen sebagai simbol  kekerasan dan bagiamana pengaruhnya terhadap pandemic Covid 19 terhadap demonstran. 

Untuk menganalisis itu, Prof Dr. T. D. Pariela, MA –  sebagai pakar  Ilmu Sosial dan Ilmu Politik mengulas dari prespektif sosial  Understanding   Through The Eyes of Protester, Sosial Disobedience in The Middle Of Pandemic Disease in Ambon.    Dr. R. J. Akyuwen, SH., M.Hum  dan  Dr. J.A.Y. Wattimena S.H., LL. M., mengulas dari aspek Hak Asasi Manusia  The Construction Of Human Right Law in The Contistation Of Universalism and Relativism in The Globalisation Era.

Peserta yang mengikuti kegiatan ini  150 orang yang terdiri dari  para  peserta dari luar negeri yakni  dari Toronto University Canada, Melbourne University Australia, Vrije Universiteit Amsterdam,Leiden University, Mannheim University, University of Utrech, Warsaw University Polandia dan beberapa universitas lainnya, akademisi dari Universitas Pattimura dan dari seluruh Indonesia. Moderator pada kegiatan ini adalah Maria Agnes Matakena – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pattimura.

“ Penyelenggaraan webinar ini diharapkan menjadi ‘starting point’ untuk kerjasama lebih lanjut masing-masing Fakultas di Universitas Pattimura dengan Vrije Universiteit Amsterdam,  baik dalam bentuk penelitian bersama, kuliah tamu dan sebagainya “ Ujar Wilma Latuny, M.Pd. (**)

Pos terkait